
Ancaman Hendra membuatnya ketakutan. Walau mata kanannya sudah tidak ada, dia masih berharap untuk bisa hidup dari penyiksaan itu.
“Baik… baiklah, saya akan… memberitahukannya..”
“Cepat katakan!” desak Hendra.
“Angel, namanya Angelina, dia seorang wanita. Dia…dia yang menyuruh saya membunuh wanita itu, karena dia cemburu. Tolong, tolong lepaskan saya, saya-
“Tuan, bagaimana? Anda sudah dengar kan?” tanya Hendra, tidak perduli dengan penjelasan dari tersangka.
Lucifer berdiri, menghampiri mereka.
“Hhmm… aku bisa saja memotong habis tubuhnya itu, tapi… puteraku akan kecewa dan marah padaku.”
Lucifer memegang dagunya, berpikir.
“Baiklah, berikan dia pada Abraham, biar dia yang mengurus sisanya. Karena orang itu adalah suruhan dari Puteri terpandang kan? Untuk sekarang, tahan dia, masukkan ke dalam kandang terpisah dari mereka.” Tunjuk nya pada anak buah Shadow.
“Baik tuan. Padahal aku sudah bersiap-siap memotongnya dengan pisau baru yang ku beli dari Jepang.”
Gerutu Hendra kecewa.
__ADS_1
“Jangan khawatir, kau pasti akan menggunakan pisau baru mu itu, masih banyak kulit yang harus kau sayat-sayat.” Sahut Lucifer melemparkan pandangannya pada anak buah Shadow yang merasa tertekan.
********
Di rumah sakit, Aditya sudah melakukan tugasnya. Peluru juga sudah berhasil di keluarkan. Sekarang hanya tinggal menunggu Bellova untuk bangun dari obat bius yang sengaja di berikan pada saat melakukan operasi.
Di depan pintu ruangan Bellova, sudah banyak yang menunggu, dan mereka adalah keluarga Abraham.
Hanya Abraham yang saat ini berada di dalam ruangan, menjaga dan melihat kondisi keadaan Bellova yang berada dalam selimut.
Lama dia menatap wanita itu, dia berdiri melipat tangan di depan dadanya.
“Siapa yang melakukan ini padamu? Biasanya aku yang menjadi target, tapi kenapa kau ikut juga?” tanyanya dengan suara pelan.
Pikirannya masih melayang, mengingat-ingat sesuatu untuk mencari jawaban siapa dan kenapa bisa terjadi pada Bellova.
Tangan yang di lipat Abraham, di lepas. Dia teringat sesuatu.
“Angel? Apa mungkin dia yang melakukannya?” tebaknya setelah mengingat beberapa hari yang lalu, saat Angel mengancamnya.
“Dasar anak manja. Kalau benar ini ulahnya, aku akan memasukkan nya kedalam penjara. Aku tidak perduli anak siapa dia.” Ucapnya mengepalkan tangan.
__ADS_1
**********
Zafran datang, menemui Eva dan yang lainnya.
“Ran, bagaimana dengan keluarga Bellova?” tanya Eva yang menugaskan Zafran dan Sakya untuk menjaga dan melindungi keluarga menantunya.
“Sudah aman Nyonya, saat ini Sakya masih di sana.” Jawabnya dengan yakin.
“Mereka sangat khawatir, dan terus bertanya-tanya, siapa yang menembak puterinya. Tapi kami sudah menenangkan nya, sedikit lega sih.” Tambahnya lagi.
“Pasti mereka terkejut dengan kejadian ini. Jujur saja aku lebih khawatir dengan Bellova juga keluarganya daripada dengan Satmaka dan Aditya, karena kalian sudah lebih tahu sebelumnya.” Ujar Eva khawatir.
Memang benar apa yang dikatakannya, Bellova adalah orang luar yang benar-benar tidak tahu tentang mafia dan kejadian-kejadian mengerikan, karena mereka berasal dari sebuah desa yang terpencil.
“Mama, semuanya pasti baik-baik saja.’’ Arshinta menenangkan Mamanya.
“Sebaiknya kalian pulang saja, biar Abraham di sini. Pasti dia juga tidak tenang kalau kalian terus mengkhawatirkannya.” Ucap Aditya, yang masih berada di sana.
“Benar juga Eva, kita pulang saja. Tapi dimana Lucifer?” tanya Lisna.
“Kau benaran tidak tahu? Mana mungkin dia diam saja setelah melihat kejadian ini.” Steven memberi kode.
__ADS_1