
Beberapa hari setelah mereka mengantarkan keluarga Lila dan Rio, Abraham dan Bellova sudah kembali ke
rumah Abraham. Abraham juga sudah mulai kembali melakukan aktifias pekerjaannya yang sudah menumpuk. Ina dan Aditya juga sedang mempersiapkan waktu untuk pernikahan mereka, bulan depan.
Sejak Bossa dan yang lainnya sudah ‘hilang’, keadaan memang sedikit terkendali. Kejahatan yang muncul juga hanya kejahatan sebatas penjambretan, dan pencurian kecil. Tapi bukan berarti nsma ‘Lucifer’ juga
hilang dan lepas dari hukum. Walaupun koran sudah berhenti menyebarkan berita tentang mereka, tapi masyarakat yang sudah terlanjur tahu dan ketakutan dengan nama ‘Lucifer’ itu, mereka menginginkan agar kelompok Lucifer juga mendapatkan hukuman yang berat.
Penjara pun tidak pernah kosong untuk menerima penghuni baru yang melakukan kejahatan.
“Ada-ada saja komentar mereka. Belum kenal tapi ingin menghakimi.” Oceh Adley membaca koran.
“Pasti tentang tuan Lucifer lagi.” tebak Ridwan yang mendengar ocehan Adley, Abraham hanya diam sibuk dengan ponselnya.
“Harusnya 2 menit lagi kan?” tanya Abraham yang masih fokus pada ponsel yang ada di tangannya, rekannya bingung dan tidak tahu, apa maksud dari 2 menit lagi.
“Apanya yang 2 menit lagi Pak Abraham?” Ridwan memberanikan diri bertanya.
“Loh? Kok malah berhenti sih? Disana kan tidak ada lampu merah?” terlihat Abraham yang mulai gelisah, Adley dan Ridwan saling menatap dengan makna penuh tanya.
Abraham berusaha ingin menghubungi nomor telepon dan…
“Selamat siang.” Suara wanita yang sangat lembut terdengar di pintu masuk kantor. Abraham yang sangat
__ADS_1
kenal dan yakin dengan suara itu segera berlari keluar, dengan ponsel masih di genggamannya. Karena melihat kepanikan Abraham, Adley dan Ridwan pun ikut berlari.
“Nyonya, sudah lama sekali anda tidak pernah datang kesini ya.”
“Nyonya, bagaimana kabar anda?”
“Nyonya, apakah anda ingin bertemu dengan pak Abraham?”
Satu-persatu pertanyaan dari anggota kepolisian yang melihat kedatangannya.
Tap..
Abraham yang baru keluar dari ruang kerja dan melihat asal suara yang di kenalnya.
Adley dan Ridwan yang juga berhenti karena Abraham, penasaran ingin melihat, siapa seseorang yang
membuat atasannya terlihat panik.
“Ternyata Nyonya Bellova ya yang datang, saya pikir tadi siapa. Soalnya pak Abraham terlihat panik dan berlari dari ruangannya.” Ucap Ridwan merasa lega walau merasa lucu.
Bellova menatap suaminya yang sudah berada dihadapannya.
“Ada apa?” tanyanya yang tidak tahu.
__ADS_1
“Harusnya aku yang tanya, ada apa dengan mu?” Abraham menjawab pertanyaan Bellova dengan pertanyaan yang sama.
Bellova semakin tidak mengerti.
“Kamu naik apa tadi kesini?”
“Aku naik taksi.”
“Tapi dari aplikasi, Taksinya berhenti tidak berjalan.”
“Aku naik taksi umum, karena taksi online yang kamu pesan ban nya kemps, jadi aku ganti taksi biasa saja.” Jawaban Bellova membuat Adley dan Ridwan semakin lebih mengerti dengan maksud ‘2 menit’ itu.
“Ayo keruanganku.” Ajak Abraham menggandeng tangan Bellova, seperti sebelumnya, tapi isterinya selalu merasa malu di perlakukan seperti itu apalagi di depan teman-teman suaminya.
“Ah… aku pikir tadi ada masalah apa, sampai dia berlari dan panik seperti itu.” Adley duduk sambil mengatur napas.
“Aku juga berpikir begitu. Karena dari tadi wajahnya terlihat panik dan tidak mendengarkan kita bicara, seperti tidak konsentrasi begitu.” Tambah Ridwan menjelaskan juga.
“Yah… namanya juga cinta yang besar. Nanti juga anda akan seperti itu terhadap nona Monik.” Ledek Ridwan dengan suara pelan.
“Maksud mu?”
Ridwan tidak langsung menjawab, dia hanya melihat Adley sejenak, lalu mengalihkan pandangannya lagi
__ADS_1
sembari menggelengkan kepala, malas untuk menjelaskan.