
“Di sini kamar kita, sudah di bersihkan kok.” Abraham membuka kamar untuk mereka tinggali selama beberapa hari.
Bellova masuk kekamar yang belum pernah di lihatnya. Luasnya hampir sama dengan kamar mereka di rumah Abraham, bedanya tempat tidur di kamar ini lebih besar daripada di tempat Abraham.
Bellova duduk di tempat tidur, sedangkan Abraham hampir setiap waktu sibuk dengan ponselnya, terlihat dari wajah suaminya itu kalau Abraham memiliki pekerjaan yang serius, makanya Bellova tidak ingin mengganggunya.
“Kamu istirahat saja dulu ya, aku ingin bebicara dengan Adley dulu.” Ucap Abraham tersenyum sekilas pada Bellova yang membalas dengan anggukkan kepala. Abraham lalu pergi keluar samping kamar melalui jendela kaca yang panjang, tempat untuk melihat bintang di malam hari.
Kamar yang di tempati adalah kamar yang biasa di gunakan Abraham sebelum menikah dan saat ingin
pulang kerumah orang tuanya. Makanya terlihat beberapa koleksi foto Abraham saat tanding Taekwando dan bela diri lainnya. Bellova tersenyum sendiri melihat koleksi foto nya, apalagi saat Abraham mengangkat piala dan medali kemenangannya saat tanding.
“Di mana dia sekarang?” tanya Abraham melalui ponselnya.
“Kami masih mencarinya Pak Abraham, kata pembantunya kalau dia sedang keluar kota, kami sudah mengirimkan surat panggilan.” Jawab Adley.
“Apa suruhannya yang di bayar itu sudah di temukan?” tanya Abraham lagi.
__ADS_1
“Sudah Pak, ada tiga orang, tapi yang satu orang di kirim anak buah tuan Lucifer, dan di sini juga sudah ada sisa anak buah Bossa. Kata tuan Vicky biar anda yang mengurus sisanya.” Jawab Adley.
“Oh… jadi si penembak itu ternyata benar kiriman wanita itu?”
“Benar Pak, karena sudah mengaku di depan tuan Lucifer.”
“Tapi Pak Abraham, semua sudah tahu kalau Bossa sudah mati, ada pro dan kontra dengan kematian orang itu.”
“Maksudnya?”
“Mereka ingin yang membunuh Bossa juga mendapatkan hukuman setimpal dengan Bossa, karena mereka
“Kurang ajar sekali mereka! Harusnya mereka senang karena kematian si pengacau itu.” geram Abraham.
“Kalau menurut saya, mereka memang senang Pak, tapi mereka lebih senang lagi kalau… kalau tuan Lucifer mendapat hukuman… mati-
“Sh*t!” Abraham mengepalkan tangannya.
__ADS_1
“Mereka ingin tidak ada saingan lagi, dan mereka akan membentuk kelompok baru untuk menguasai dunia
bisnis dan lainnya.” Ucap Adley lagi, dia memberitahukan semua informasi yang di dapatnya pada atasannya.
“Berani sekali mereka. Siapa yang mengajukan itu?”
“Masih belum jelas Pak, tapi banyak yang mengatakan kalau itu dari pendukung lama Bossa.”
Abraham memijit keningnya mendapat laporan itu.
“Sebaiknya anda bicarakan dengan tuan Lucifer, saya yakin beliau memiliki jalan keluar yang terbaik menurutnya.” Usul Adley.
“Apalagi saat ini anda sedang mencari anak Pak Irwan, pasti ayahnya tidak akan diam saja karena anda, dan dia akan mendukung siapapun untuk menjatuhkan anda.”
Abraham tahu maksud Adley, dan itu memang benar. Petugas yang bisa bekerja dengan jujur dan bekerja
keras, pasti akan menjadi batu sandungan bagi orang yang tidak menyukainya. Mereka berusaha menjatuhkan Abraham karena bisa menjadi saingan dan hambatan dalam usaha bisnis gelap lawannya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan memikirkannya. Terima kasih atas informasinya Dley, aku senang memiliki rekan-rekan yang bekerja jujur seperti kalian tanpa takut bahaya yang mengancam.”puji Abraham.
“Saya yang merasa senang dan bangga karena bisa bekerja dengan anda yang adil dan jujur, Pak Komisaris.” Sahut Adley.