
“Dan kau tidak usah menunggu ku untuk makan malam, karena untuk beberapa hari ini aku akan pulang larut malam, aku tidak mau merepotkan mu.” Ucap nya lagi.
“Iya.” Jawab nya lagi dengan singkat.
“Kalau begitu, sudah dulu ya, ada yang harus aku kerjakan. Kamu hati-hati dirumah, jangan keluar tanpa memberitahukan ku.” Ucap nya lalu menutup telepon nya.
Di seberang sana, Bellova merasa seperti terasa perih di hati, pikiran nya meracu kemana-mana.
“Kenapa…kenapa aku merasa sakit hati mendengar ucapan nya ya? dadaku sedikit sesak. Tenang Bel, ini semua demi keamanan mu, jangan pikirkan yang aneh-aneh Bel.” Ucap nya pelan menghibur diri nya sendiri, mengusap dada agar tenang.
Karena merasa tidak semangat lagi, proses memasak yang sudah tinggal setengah lagi di hentikan. Dia tidak ingin melanjutkan nya lagi. Dia hanya duduk lemas, ponsel masih ada dalam genggaman nya. Melamun, dengan tatapan sayup.
“Padahal, aku sudah berencana untuk menambah porsi nya, hhm…” ucap nya pelan merasa kecewa.
**********
Aris dan Hendra yang menunggu kedatangan Abraham untuk membawa anak buah Bossa, semantara dua mobil yang di kendarai musuh nya juga sudah di bakar, sehingga asap api yang besar itu terlihat dari jalan raya, tidak ada yang curiga, karena masyarakat sekitar yang kurang perduli dan mengabaikan.
Terdengar suara dari sirine mobil polisi, Abraham juga ikut serta.
__ADS_1
“Itu mereka sudah datang.” Hendra melihat lebih dulu.
Mobil itu berhenti di depan jalan kecil itu, dan mereka turun dengan perlengkapan yang sudah di bawa.
Abraham dan beberapa rekan nya sudah berada di depan kelompok yang menyerang papa nya. Wajah Abraham yang terlihat marah, dan berusaha untuk bersabar.
“Lihat wajah tuan muda, papa dan anak sama-sama memiliki aura kejam.” Bisik Hendra pada Aris.
“Kau benar, hanya saja wajah tuan muda masih terlihat bisa menahan.” Balas Aris dengan berbisik juga.
“Bawa mereka!” perintah nya.
“Paman, apa papa dan mama ada yang terluka?” tanya nya pada Aris dan Hendra.
“Tidak ada. Mana mungkin papa mu bisa terluka, apalagi hanya dengan anak buah yang lemah seperti ini.” Jawab Aris bangga.
“Bagus lah, kalau tidak aku sudah menyiksa mereka lagi.” balas Abraham merasa lega.
“Tapi kenapa mereka menyerang kalian?”
__ADS_1
“Itu karena Audrey ikut dengan tuan dan nyonya, dan Bossa tidak suka kalau saksi nya masih hidup, jadi dia mengirim anak buah nya untuk menyerang kami.” Jawab Hendra.
“Pantas saja. Aku akan menginterogasi mereka, sebaiknya paman tinggalkan lokasi ini. Aku akan kembali ke kantor sekarang.” Abraham bersiap untuk pergi, Aris dan Hendra pun mengikuti perintah Abraham.
Semua anak buah Bossa sudah duduk rapi di mobil polisi, tanpa ada perlawanan lagi, karena sudah lelah juga.
Saat ada mobil polisi dan melihat anak buah Bossa yang sudah di borgol, banyak pengendara yang memperlambat kecepatan kendaraan nya, karena penasaran dan menjadi pusat tontonan, membuat jalanan menjadi ramai.
***********
“Akhir nya kita sudah sampai. Aku akan mengantar mu ke kamar Drey-
“Biarkan saja pelayan yang mengurus nya sayang, buat apa kamu repot-repot lagi.” Lucifer menahan Eva, agar tidak terlalu sibuk mengurus Audrey.
“Tapi dia kan belum pulih total pa.”
“Kamu tidak kasihan dengan suami mu ini? Papa kan habis berkelahi tadi.” Lucifer masih merayu Eva.
“Hhmm..” Eva menghela napas nya melihat tingkah suami nya yang memasang wajah melas.
__ADS_1