
Beberapa hari Arshinta juga sering datang kerumah Satmaka, terkadang dia menginap di rumah Satmaka, hanya saja kalau malam tiba, Arshinta akan tidur di kamar Rakha. Saat ini, dua laki-laki itu sedang dalam masa kesedihan yang butuh penghiburan, dan Arshinta ingin menemani mereka.
Tok…tok..
Shinta mengetuk pintu kamar Satmaka.
“Masuk.” Jawab Satmaka dari dalam kamar.
Arshinta masuk sendiri, karena Rakha sudah tidur lebih dulu.
“Kamu masih belum tidur? Ini sudah malam banget loh.” Tanya nya pada Satmaka yang masih duduk di meja kerja nya.
“Aku belum ingin tidur Shinta, kalau kau mau tidur, pergilah.” Jawab Satmaka dengan suara lesu.
Arshinta melangkah lebih dekat lagi pada Satmaka, dia memijit-mijit bahu pria itu.
“Kau juga kan harus menjaga kesehatan mu, kalau kau sakit, Rakha lah yang pertama kali akan merasa kesedihan. Selain diri mu, siapa lagi yang Rakha miliki?” Ucap nya.
Tidak ada jawaban dari Satmaka, tapi dia pasti dengar apa yang di katakan nya.
“Seandainya aku lebih perhatian pada nya..
__ADS_1
“Memang nya kau tidak perhatian pada nya? Siapa yang mengatakan nya? Beritahu aku biar aku beri pelajaran.” Canda Arshinta.
Satmaka tersenyum kecil.
“Aku tidak melihat kekurangan yang terdapat dalam diri mu tentang perhatian mu pada nya. Kau sudah sangat bekerja keras, banyak yang harus kau kerjakan, mengurus perusahaan, Rakha dan pengobatan adik mu, tapi
kalau memang sudah begini akhir kehidupan nya, jangan kau menyalahkan diri mu Satmaka.” Ucap Arshinta menasihati.
“Hhhaahh…” Satmaka menghela napas nya dengan berat, mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Jangan menyesali apapun, karena kau sudah sangat berusaha. Sekarang, ada Rakha, hanya ada kalian berdua sekarang yang harus saling mendukung dan menjaga, tentu saja untuk sekarang ini kau harus menjaga Rakha karena dia masih kecil, tapi saat dia nanti sudah dewasa dan kau sudah tua, pasti gantian, kau yang akan di jaga.” Ucap Arshinta tersenyum, berusaha berbicara dengan santai.
Satmaka meraih kedua tangan Arshinta yang masih berdiri di samping nya.
“Begitu dong, harus semangat jangan menyerah. Nah, sekarang beristirahat lah, sudah jam 11 malam loh, besok kan kamu harus berangkat bekerja juga.” Bujuk Arshinta menarik pergelangan tangan Satmaka.
Satmaka menahan nya sedikit, tidak bergerak dari kursi nya.
“Ya ampun, kau sangat berat sekali ya, ayo…cepat berd…
Arshinta jatuh dalam pangkuan Satmaka karena tidak bisa menarik pria itu.
__ADS_1
Deg..deg..deg..deg..
Wajah mereka sangat dekat, hembusan nafas pun bisa mereka rasakan. Tanpa di sadari, Satmaka mengangkat tangan dan mengusap pipi Arshinta beberapa kali.
“Menikah lah dengan ku.” Kalimat yang keluar dari dalam mulut Satmaka.
“Apa? Apa yang kau katakan Satmaka?” Tanya Arshinta mencoba ingin mendengar nya lagi.
“Iya, menikah lah dengan ku. Ayo kita membina rumah tangga, aku, kamu, Rakha dan adik nya Rakha nanti.” Jawab Satmaka masih mengusap pipi Arshinta.
“Kau bercanda ya…
“Tidak! Aku tidak bercanda. Ayo kita menikah dan tinggal lah di sini bersama kami. Jadilah Nyonya di rumah ini.” Jawab nya lagi serius tapi tersenyum.
Arshinta belum memberikan jawaban, karena mendadak.
“Aku…aku tidak bisa menjawab nya sekarang. Karena kau mendadak begini.” Arshinta merasa malu, dia mengalihkan pandangan nya melihat yang lain.
“Jangan lama-lama memberi jawaban nya, karena aku tidak bisa menunggu lama. Aku serius.” Ucap Satmaka menarik wajah Arshinta agar kembali menatap nya.
“Kau harus berbicara dulu pada keluarga ku, kalau mereka setuju dan percaya pada mu, aku.. bersedia.” Jawab Arshinta dengan wajah memerah.
__ADS_1
“Loh, harus dari kamu dulu dong, nanti aku di bilang nya menikah karena keinginan ku saja. Dua orang pria di keluarga mu kan sangat tegas dan keras. Kalau kau mau menikah dengan ku, aku akan bicarakan pada keluarga mu.” Ucap Satmaka.
Arshinta menatap nya, tidak menjawab dan hanya tersenyum saja.