
“Hebat, berita tentang anda sudah hilang begitu saja. Pasti ini perbuatan paman Lucifer.” Puji Venam di ruangan Abraham.
“Tentu saja, siapa lagi.” Adley menambahi lagi.
“Dan tidak ada korban jiwa loh, hanya menghancurkan bangunannya saja. Berarti paman masih punya perasaan, tapi gossip di luar sana malah mengatakan kalau paman pembunuh tersadis. Ckckckck…” gerutu Venam menggelengkan kepala.
“Sudah biasa itu. Manusia hanya bisa menilai dari penampilan luarnya saja. Bertemu saja belum pernah tapi sudah merasa mengenalnya beberapa tahun, dan langsung menilai.” Ucap Adley yang terlihat kesal.
Abraham yang juga ada di situ, terdiam karena teringat dengan ucapan Bellova beberapa hari yang lalu juga, hampir sama seperti yang di ucapkan Adley barusan. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri.
“Loh, kenapa anda tersenyum pak?” tanya Adley menyadari.
“Ah… palingan dia sedang teringat dengan isterinya.” Tebak Venam.
Abraham terkejut dan langsung melihat Venam dengan tatapan heran.
“Tuh, dari reaksinya pak Abraham sepertinya benar kan? Kalau anda sedang memikirkan isteri anda di rumah.” Lirik Venam mengedipkan mata pada Abraham yang menjadi salah tingkah.
__ADS_1
“Ehem, berisik sekali. Fokus… fokus! Jangan kebanyakan ngobrol.” Elak Abraham menghindari tatapan mata
mereka.
Adley dan Venam saling melirik dengan tingkah Abraham, atasan mereka.
*************
Orang tua Bellova juga sedang mengobrol dengan Eva dan Adam di ruang tamu. Empat adiknya Bellova, bermain bersama Rakha yang sudah di jemput dari pulang sekolah. Arshinta sengaja membawanya agar bisa bermain dengan teman-teman yang baru lagi.
berada di rumah keluarga, Arshinta dan Ina juga turut berkumpul. Dan sudah beberapa hari ini di rumah itu banyak anggota keluarga yang ikut berkumpul, termasuk Revand, isteri dan papa nya, sedangkan Rafhael kembali ke Singapura karena ada pekerjaan, dan Alsava bermain berkumpul bersama Claudia puteri Vicky, dan Prameswari puteri dari William.
Obrolan antara kedua keluarga juga ringan, tidak membahas hal yang berat. Seakan-akan orang tua Bellova tahu dengan siapa mereka berbesan dan pengaruh besar dari besannya itu.
“Apa kalian akan kembali ke desa kalian?” tanya Adam dengan tenang menatap mereka.
“Iya pak Adam. Tapi, nak Abraham mengatakan untuk pindah dan tinggal di sini saja.” Jawab Ayah Bellova.
__ADS_1
“Apa yang di katakan Abraham benar itu. Lebih baik kalian tinggal di Jakarta saja, dan kalian juga bisa bertemu lagi kalau Bellova merindukan kalian.” Eva mendukung keputusan Abraham.
Ayahnya itu mengerti dengan anggukkan kepala.
“Tapi untuk saat ini kami harus kembali dulu, karena adik-adiknya masih sekolah dan beberapa bulan lagi mereka akan ujian kenaikan kelas. Tapi, kalau sudah selesai, kami akan datang kesini dan mereka pindah sekolah di sini juga.” Ucap si Ibu memberi keterangan.
“Benar ya. Jadi kapan kalian rencananya kembali kedesa?”
“Dua hari lagi.”
Eva melirik suaminya Adam yang selalu duduk disampingnya. Tentu saja Adam tahu apa maksud dari tatapannya itu.
“Kalau begitu, biar nanti kalian diantar pulangnya. Lalu kalau kalian ingin datang kesini lagi, kabarkan saja, supaya bisa di jemput.” Ucap Adam, maksud dari Eva, dan Eva pun tersenyum karena suaminya tahu apa maksudnya.
Orang tua Bellova heran dan saling menatap, mereka ragu.
“Tapi, kami bisa pulang sendiri, dan lagipula kami tidak ingin merepotkan kalian.” tolak Ayah Bellova lembut.
__ADS_1