
Ina baru saja tiba di perusahaan Adam Company. Dia mengemudikan mobil nya sendiri.
“Selamat pagi nona Ina.” Sapa security yang berdiri di depan pintu sambil membuka pintu.
“Hhmm… pagi.” Jawab nya berjalan dengan cepat.
“Selamat pagi nona Ina.” Sapa Zafran yang baru saja tiba.
Dia mempercepat langkah nya agar berbarengan dengan Ina yang masih terus
berjalan.
Ina, wanita cantik dan tinggi, hentakan sepatu hak tinggi nya terdengar jelas di dalam gedung itu.
Dengan gaya nya yang elegant, semua akan terpesona dengan kecantikan dan kewibawaan nya.
Zafran akhir nya bisa berjalan sejajar dengan Ina, hingga masuk ke dalam lift.
“Bagaimana dengan model nya. Apa mereka mau?” tanya Ina.
“Mereka mau, malah sangat senang sekali. 3 hari lagi mereka akan datang, sebenar nya Oksana bisa datang besok, tapi Gwen yang lagi ada jadwal di Malaysia bisa nya 3 hari, jadi Oksana ingin berbarengan dengan Gwen,
begitu.” Jawab Zafran.
“Tidak masalah. Yang penting mereka setuju. Jemput mereka. Berikan penginapan di hotel yang bagus.” Ucap Ina.
“Mereka bilang mau tinggal di apartemen mu, sekalian ingin bertemu dengan mu dan Shinta.” Ucap Zafran.
“Hhmm… dasar anak manja itu. ya udah kalau begitu. Bawa kan saja mereka ke apartemen ku.”ucap Ina menerima permintaan sepupu nya.
*******
Di sekolah Cinta Kasih, Arshinta sudah datang dan duduk di kantor untuk mengerjakan pekerjaan nya.
Dia rasa sangat sibuk, sampai lupa untuk sarapan.
“Selamat pagi ibu Arshinta.” Sapa Ruly yang baru tiba dan meletakkan tas nya.
Ruly satu ruangan dengan Arshinta, beda dengan ruangan guru-guru lain.
“Pagi Ruly.” Jawab Arshinta sekilas tersenyum pada Ruly.
“Anda cepat sekali datang. Apa anda sudah sarapan?” tanya Ruly.
“Belum nih. Aku juga lupa bawa sarapan ku. Tapi sebentar lagi aku akan ke kantin. Mau sarapan di sana saja.” Ucap Arshinta.
“Kalau begitu sekarang saja bu, saya juga mau sarapan, sudah lapar.” Ajak Ruly.
“Mmm…. Baik lah, ayo kita ke kantin.” Arshinta menutup buku laporan nya.
Mereka berdua keluar dari kantor yang bersebelahan dengan ruangan guru-guru.
“Kalian tahu tidak, masa anak-anak yang nunggak uang sekolah 6 bulan di bebaskan pembayaran nya, bahkan sampai mereka lulus.” Ucap salah satu guru yang mengajar di situ.
__ADS_1
“Benar, aku juga sudah mendengar nya. Itu tidak adil bagi murid-murid lain.” Jawab guru yang lain.
“Kepala yayasan sekolah ini lembek banget. Bisa saja di bodohi murid-murid nakal itu. kalau aku jadi pemilik sekolah ini, akan aku
keluarkan mereka.” Ucap Jamila guru yang mengajar itu juga.
Tanpa mereka sadari, Arshinta dan Ruly mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Bu?” tanya Ruly yang tahu kalau atasan nya juga sudah mendengar.
“Biarkan saja dulu. Kita sarapan aja.” Jawab Arshinta yang memang sudah sangat lapar.
Mereka menarget kan tempat pertama adalah kantin.
Kantin sekolah nya sangat rapi dan bersih. Makanan nya juga sangat enak.
“Bu, pesan lontong sayur ya bu.” Pesan Arshinta.
“I…Iya bu. Kami akan siapkan.” Jawab si ibu pedagang dengan gugup.
“Wah… tidak menyangka, pemilik sekolah datang berkunjung ke warung kami yang sederhana ini.” Ucap si pedagang lagi.
“Tidak apa-apa kan bu? Lagi pula kalau sudah lapar, makan di mana pun tidak masalah.” Jawab Arshinta yang duduk menunggu.
Tiba-tiba dia mendengar obrolan pedagang lain.
“Hhmm… karena biaya sewa sangat mahal sekali, kita harus pindah. Padahal di sini sudah bagus penjualanan nya.” Keluh si pedagang yang sedang berberes barang-barang nya.
“Ya kita harus bagaimana lagi pa, ini sudah keputusan pemilik sekolah ini. Kita hanya rakyat biasa.” Balas isteri nya.
“Silahkan bu, di makan lontong sayur nya. Minum nya apa bu?” tanya si pedagang mengantarkan lontong sayur pesanan Arshinta.
“Es teh manis saja ya bu. Terimakasih.” Ucap Arshinta.
“Baik, sebentar ya bu.” Si pedagang kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan nya.
Arshinta dan Ruly saling bertatapan. Seperti nya mereka tahu topik apa yang akan di bicarakan.
“Rul, jam istirahat, suruh semua pemilik pedagang di sini datang kekantor ku. Kau mengerti?” pesan Arshinta.
“Baik bu, saya mengerti.” jawab Ruly.
“Gawat… pasti ibu Arshinta sangat marah sekali.” Gumam Ruly yang mengenal sifat Arshinta.
*****
“Sekarang, bapak akan panggil salah satu murid untuk maju kedepan dan mengerjakan soal yang ada di papan tulis.” Ucap guru mata pelajaran matematika.
“Reny, kemari dan kerjakan soal ini.” Suruh guru Dedy.
Murid yang bernama Reny maju kedepan dengan percaya diri.
Reny adalah salah satu murid yang pintar.
__ADS_1
Di ambil nya kapur untuk memulai mengerjakan nya.
“Bapak dengar, kamu salah satu murid yang sudah menunggak uang sekolah selama 6 bulan ya?” tanya Dedy menyindir.
Reny berhenti menulis.
“I…iya pak.” Jawab Reny malu.
“6 bulan ya. Kamu kemana kan uang sekolah nya? Pasti kamu jajanin ya? Kasihan loh orang tua mu kalau dia mendengar nya.” Ucap Dedy berdiri di samping Reny dengan menghadap murid-murid lain.
Reny tidak bisa melanjutkan tugas nya. Rasa malu dan sedih di rasakan sekarang.
“Kenapa diam? Kenapa tidak mengerjakan nya? Tida tahu? Kau kan termasuk murid pintar.” Ucap Dedy dengan senyum jahat nya.
“Saya….
“Sudah lah. Bapak mengerti kok.” Dedy memegang pundak Reny,lalu tangan nya turun memegang pinggang Reny.
“Pak……
Reny memutar tubuh nya, menghindari tangan guru mesum nya.
“Ada apa? Jangan berpikir bapak menggoda mu. Kau pikir bapak tertarik pada mu?” ucap Dedy.
“Pak guru! Anda tidak boleh bersikap tidak sopan pada nya.” Teriak Rian, salah satu murid yang ada bersama Reny.
“Oh… apa yang sudah bapak lakukan?” tanya Dedy yang merasa mulai emosi.
“Saya…. Saya akan melaporkan ini pada ibu Arshinta, pasti anda akan………
PPPLLAAAKKK…….PPLLLAAAKKKK…..
Dedy berlari dan menampar Rian berkali-kali.
Semua murid berteriak melihat kegaduhan itu.
Rian yang juga terpancing emosi, membalas dengan memukul Dedy di bagian wajah nya.
“Bren***k! berani kau memukul ku bocah tengik..” Dedy membalas kemudian.
Reny berlari menuju kantor Arshinta.
“Hey… berhenti kau, atau aku akan terus memukul teman mu ini!!” teriak Dedy yang melihat Reny keluar.
Gadis itu menghentikan langkah nya.
Ada perasaan ragu, karena dia juga tidak ingin teman nya terluka karena membela nya.
“Kau…. Kembali dan duduk!!” suruh Dedy.
Reny masih diam berdiri.
“Apa kau tidak dengar?” tanya Dedy menempeleng kepala Reny setelah menghampiri nya.
__ADS_1
Semua murid merasa ketakutan. Mereka tahu bagaimana sifat guru nya itu, hanya saja tidak ada yang berani untuk mengadukan nya.