
“Kalau begitu, buat mereka tersiksa saja, biar mereka rasakan keinginan untuk mati dan meminta nya.” Jawaban Lucifer yang di balas
dengan anggukkan kepala dari dua asisten yang sudah lama ikut dengan nya.
********
Lucifer menikmati waktu nya seorang diri di teras depan atas. Hanya di temani kopi yang sebelum menikah dengan Eva adalah kesukaan nya.
Sudah lama juga, dia tidak pernah menyentuh rokok lagi. tatapan nya mengarah ke pemandangan di depan nya, angin sore menyentuh tubuh nya yang masih kekar walaupun sudah berusia tua. Sementara Eva sibuk dengan urusan di dapur.
Lucifer mengingat setiap kenangan yang di rasakan nya, sebelum dan sesudah menikah. Hidup nya lebih baik setelah memiliki keluarga,
dia hidup bahagia.
“Ada orang yang bertobat ada juga yang masih asik dengan kenikmatan dosa. Kejahatan memang tidak bisa habis bersih di dunia ini, hanya bisa bertahan dan mencoba melawan.” Gumam Lucifer.
“Dan sekarang, aku bertahan dan melawan siapapun yang menyerang keluarga ku, walaupun aku sudah bertobat….. atau mungkin, aku tidak benar-benar bertobat? Hhhmmm… tidak, aku tidak benar-benar bertobat.”
*************
Abraham dalam perjalanan pulang kerumah. Sudah larut malam karena sebelum nya pria itu menghabiskan waktu bersama rekan-rekan kerja nya, sambil makan malam.
“Apa itu?” Abraham melihat ada perkelahian di pinggir jalan.
Seorang wanita yang di siksa oleh beberapa pria.
“Mereka mengeroyok satu wanita? Kejam sekali. Mereka tidak perduli dengan orang-orang yang lewat, atau… orang-orang yang lewat ini yang tidak perduli?” batin Abraham.
Perlahan mobil nya berhenti, mendekati pertengkaran itu.
“Oooyyy… kenapa kalian menyakiti ibu ini? Apa kalian sedang merampok nya?” tanya Abraham setelah turun dari mobil nya.
Lima pria yang wajah nya kasar dan terlihat jahat, menatap nya dengan tatapan tajam tidak suka. Mereka saling melihat.
“Apa kau mau mati?” tanya salah satu dari mereka berjalan mendekati Abraham.
Mereka berpikir kalau pria itu akan takut karena di gertak.
Abraham diam bukan karena takut, tapi dia sangat benci dengar kalimat menjijikkan yang keluar dari mulut si pengecut.
Di lihat nya wanita yang tidak muda lagi, duduk tidak berdaya dengan luka di wajah, pakaian nya juga sudah kotor dan sedikit sobek.
“Anda tidak apa-apa nyonya? Siapa mereka? Apa anda mengenal nya?” tanya Abraham pada wanita yang ada di belakang orang yang menantang Abraham.
Wanita itu menganggukkan kepala nya pelan, antara ketakutan dan kesakitan.
__ADS_1
“Hey! Apa kau pikir kami bicara dengan angin? Mau jadi sok pahlawan kau??” orang yang berdiri di depan Abraham mendorong tubuh Abraham untuk mundur, tapi selangkah pun Abraham tidak bisa mundur, tubuh nya yang kuat menahan dorongan yang di rasa nya kecil.
“Hhhoo…. Ternyata kau benar-benar mau nantangin ya. Kau pikir kau siap….
Abraham menangkap tangan pria itu yang hendak di layangkan pada nya. Tangan itu di genggam keras, dan di putar sampai si empunya tangan merasa kesakitan.
Melihat itu, rekan-rekan nya yang berada di belakang, ikut maju menyerang Abraham.
“Tch… berani nya keroyokan.” Abraham menangkis semua serangan dari lawan.
Wanita yang masih duduk di tanah, menggeserkan tubuh nya agar tidak terkena pukulan, sambil memperhatikan pertarungan itu, tentu saja dia berharap agar pria yang menolong nya itu menang.
Sesekali Abraham melihat perempuan yang lebih tua dari nya, dalam keadaan takut. Melihat itu, dia semakin marah, karena teringat dengan
mama nya.
Hanya sebentar Abraham bisa mengalahkan mereka. Tanpa terluka sedikit pun, dia menang besar.
“Hhhaahh…. Ridwan, suruh polisi datang ke alamat XXX sekarang, ada pekerjaan untuk kalian.” Suruh Abraham pada rekan nya untuk
datang dalam panggilan telepon.
Lalu dia menyimpan ponsel nya kedalam saku, mendekati wanita yang senang melihat nya menang.
“Anda tidak apa-apa nyonya? Sebaiknya saya antarkan anda ke rumah sakit sekarang.” Ucap Abraham berjalan mendekati wanita itu.
“Anda tidak bisa menolak nya, ayo saya antarkan ke rumah sakit.” Abraham membantu membopong wanita itu masuk kedalam mobil nya.
Ridwan dan anak buah nya juga sudah berada di lokasi, mereka membawa mobil polisi untuk membawa tahanan nya.
“Pak Abraham.” Ridwan memberi hormat.
“Cepat bawakan mereka ke sel.” Suruh nya setelah melihat Ridwan.
Di biarkan nya Ridwan yang mengurus. Dan Abraham melanjutkan kembali kegiatan nya yang sempat tertunda tadi.
Wanita itu pun mau tidak mau akhir nya masuk kedalam mobil Abraham, lalu segera membawa nya kerumah sakit. Wanita itu duduk di samping nya.
“Anda seorang polisi?” tanya wanita itu pelan.
Abraham melihat nya, “Iya nyonya, saya seorang polisi, nama saya Abraham Evano Rameses.” Jawab Abraham dengan bangga pada nama belakang papa nya.
“Ra…Rameses?” wanita itu terkejut dengar nama itu.
“Iya.” Jawab Abraham singkat.
__ADS_1
“Berarti, dia adalah orang yang di sebutkan Felix?” ucap nya dalam hati.
Abraham melihat wanita itu lagi.
“Nyonya kenal dengan orang gila tadi?” tanya nya pada wanita itu.
“A..apa? orang tadi ya? tidak… aku…tidak kenal dengan mereka.” Jawab nya dengan gugup dan pelan.
Abraham tahu kalau wanita itu berbohong.
“Nyonya, mungkin anda sudah tahu gossip tentang saya. Saya bisa tahu seseorang yang berbohong pada saya, karena saya memiliki insting yang kuat dan tajam, sama seperti papa saya.” Ucap Abraham memberitahukan rahasia
nya.
Wanita itu merasa bersalah karena berbohong pada nya.
“Iya, aku kenal dengan mereka. Mereka adalah teman-teman suami saya.” Ucap wanita itu yang masih berbohong.
Abraham menganggukkan kepala nya, dia masih tahu kalau wanita itu berbohong, tapi dia tidak bisa memaksa nya.
Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Apalagi Abraham juga sudah sangat kelelahan, dia ingin cepat sampai di rumah dan langsung
tidur.
Mereka sampai di depan rumah sakit yang biasa di gunakan untuk mengotopsi mayat, dan tempat Leo bekerja.
Abraham menggendong wanita itu, karena dirasa tidak bisa berjalan normal, dia tidak keberatan sama sekali, sedangkan wanita itu merasa malu dan gugup, semua mata tertuju pada mereka.
“Abraham, siapa nona ini?” Aditya menanyakan pada Abraham.
“Jangan banyak tanya dokter, segera obati nyonya ini. Aku mau langsung pulang.” Ucap Abraham meletakkan nyonya itu di atas tandu baring.
“Iya iya. Apa kau mau langsung pulang?” tanya Aditya.
Abraham menganggukkan kepala nya.
Tanpa kata lagi dia segera keluar.
“Pak Abraham.” Panggil wanita itu.
Abraham berhenti dan melihat nya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan saya.” Wanita itu tersenyum pada nya.
Abraham pun membalas dengan senyuman dan pergi lagi.
__ADS_1
Dddrrttdd….Dddrrttdd..
Ponsel Abraham bergetar. Bibir nya tersenyum, karena melihat siapa yang memanggil nya, Bellova.