
“Pppftt…” beberapa menahan tawa.
Bellova menjadi takut. Wajahnya terlihat sekali panik.
“Kalau kau menyakiti Abraham, kau juga akan menjadi in-
Plak…
“Papa ya, di diemin malah makin ngawur kalau bicara. Lihat tuh, Bellova nya jadi semakin gugup.” Isabella menepuk Revand yang duduk disampingnya.
“Revand, kalau kau ingin bercanda, lihat situasi dan keadaan. Jangan asal mangap aja tuh mulut.” Tambah Vicky yang juga terlihat kesal.
“Dari dulu kak Revand ini selalu begitu, tidak pernah diam tenang.” Eva pun ikut berkomentar.
“Iya.. iya, sorry. Aku akan diam, sssttt..” Revand duduk manis dengan menutup mulut.
“Jangan pikirkan apa yang dikatakan orang itu. Dia hanya bercanda saja kok.” Ucap Eva menunjuk Revand yang tersenyum.
“Kalau aku sih tidak masalah, karena aku sudah tahu dari dulu, dari kecil, jadi tidak kaget. Apalagi aku sudah jatuh cinta pada anak perempuannya.” Ucap Aditya melirik Ina.
“Aku juga begitu. Justru tuan Lucifer aku anggap sebagai pahlawan yang sudah menyelamatkan ku.” Tambah Satmaka.
“Hhmm.. memang di sini yang lebih terkejut dan takut adalah Bellova, tapi… apa kamu bisa menerima kami
__ADS_1
menjadi bagian dari keluargamu?” tanya Eva, menggenggam tangan Bellova.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Bellova bingung.
“Jangan takut kalau mau bicara. Tidak ada yang berubah kalau kamu tahu atau tidak tahu.” Ucap Lucifer.
“I… iya Pa, aku… aku tidak takut, hanya… hanya terkejut saja.” Jawab Bellova dengan gugup dan terbata-bata.
“Shinta dan Ina? Bagaimana? Apa masih ada yang ingin di pertanyakan lagi?” Lucifer bertanya pada dua anak gadisnya.
“Shinta… shinta juga sama pa, sangat terkejut. Shinta tidak menyangka, papa yang lembut dan ramah ini-
“Ppppffttt….. Hahahahahha……” Revand tertawa lepas, tidak hanya Revand, Vicky dan yang lainnya juga ikut tertawa.
Bahkan Eva pun ikut menutup mulut karena menahan tawa. Sedangkan Lucifer hanya diam sambil meminum kopinya.
“Paman! Itu kan menurut Shinta, tidak ada yang salah kan? Daripada paman yang wajah nya seperti ‘kompor’ selalu menebar api.” Balas Arshinta.
Kembali lagi terdengar suara tawa dari mereka karena celotehan Arshinta.
“Bener yang kamu katakan Shinta, paman Revand lebih suka mengompori biar orang lain menjadi semakin emosi.” Dukungan dari Ina.
“Wah, kalian berdua menyalahkan paman ya.”
__ADS_1
“Memang itu kenyataannya kan.” Tambah Abraham.
Suasana menjadi mencair dari sebelumnya. Adam pun sudah merasa lega, sebenarnya dia sangat khawatir bagaimana cara untuk menjelaskan semuanya.
Tap…
Eva menggenggam tangan Adam, seakan tahu apa yang ada dalam pikiran suaminya, dan mereka hanya tersenyum merasa lega.
“Aku yakin kok kalau kalian memang orang yang baik, aku beruntung sudah menjadi bagian dari kalian.” ucap Bellova dalam hati melihat pasangan mertuanya.
*************
“Kami harus pulang ya, tidak bisa menginap.” Lisna dan Steven berdiri pamit.
“Aku juga, aku akan mengantar orang tuaku dulu, lalu pulang ke apartemen, besok jadwal ku saaaannnnggattttt padat.” Aditya pun berdiri bersama dengan orang tuanya.
“Kalian hati-hati di jalan ya.” pesan Eva.
“Kami juga, kami mau pulang saja. Claudia sendirian dirumah, habis pemotretan.” Ucap Vicky dan Cleo.
Hanya Ina, Abraham dan isterinya, Arshinta, Satmaka, Rakha, Revand dan Isabella saja yang menginap.
Dan untuk yang belum menikah diwajibkan beda kamar, yaitu Arshinta dan Satmaka.
__ADS_1