
“Selamat pagi Pak.” Sapa dan hormat rekan-rekan kerja Abraham.
Abraham yang baru tiba di kantor tempatnya bekerja.
“Selamat pagi pak!” Ridwan memberi hormat.
“Hm. Di mana Adley? Apa dia belum datang?” Abraham mencari sosok Adley.
“Masih dalam perjalanan Pak, dan-
“Selamat pagi pak Abraham.” Sapa Adley yang baru datang dan memberi hormat, terlihat terburu-buru dan napasnya tersengal karena melangkah dengan cepat.
“Tumben kamu datangnya lama? Biasanya sudah datang lebih dulu dariku.” Abraham membuka jaket kulit dan meletakkan di sandaran kursinya.
“Sebelumnya saya menemui nona Monik dulu di rumahnya-
“Kenapa? apa nona Monik terluka lagi?” tanya Ridwan memotong kalimat Adley.
“Tidak, saya hanya mencari informasi tentang kejadian kebakaran restaurantnya.”
“Ooouuhh…”
__ADS_1
“Apa ada yang kau temukan lagi?” tanya Abraham menatap Adley.
“Kata Monik, dua orang itu memang sudah beberapa kali datang dan melewati restaurantnya, pernah juga
memesan makanan darinya. Tapi dia tidak tahu kalau mereka sudah kita tahan.”
“Lalu apa kau sudah menemukan dimana Angel?”
“Tadi malam aku sudah mencarinya ke salah satu club malam, tapi dia berhasil melarikan diri. Yang saya lihat ada beberapa pria yang ikut bersamanya, sepertinya mereka adalah bodyguard nona Angel.” Jawab Adley mencari tempat untuk duduk.
“Pak abraham, apa tidak apa-apa kalau kita menangkap nona Angel? Dia kan anak dari pak Jenderal.” Tanya Ridwan masih berdiri di sisi meja.
“Apa… apa anda tidak takut kalau…” Ridwan tidak melanjutkan ucapannya, hanya menatap atasannya yang
sudah mengerti apa maksudnya.
Abraham bangkit berdiri, berjalan mendekati rak berkas-berkas tertata rapi.
“Untuk apa aku takut? Selama ini kan Pak Jenderal melupakan tugasnya. Sudah seharusnya kita hentikan dia yang terlalu santai bekerja, atau mungkin dia bukan bekerja, hanya bersembunyi di balik jabatan dan seragamnya saja.” Ucap Abraham mengambil salah satu buku laporan.
“Dan untuk anaknya, kalau salah ya harus di hukum, bagaimana pun caranya.” Ucapnya lagi.
__ADS_1
“Saya setuju dengan pak Abraham.” Adley mengacungkan jempolnya.
“Menurut yang saya dengar, sebenarnya nona Angel tidak mendapat perhatian dari orang tuanya. Karena Pak Irwan menginginkan anak laki-laki dari isterinya, tapi yang keluar malah anak perempuan, dan itu adalah nona Angel.”
“Terus apa hubungannya?” tanya Abraham yang tidak terpengaruh untuk iba.
“Ya mungkin karena itulah nona menjadi anak yang membangkang dan membuat masalah.” Ucap Ridwan
menambahkan.
“Sebenarnya nasib nona Angel juga hampir sama dengan nona Monik-
Adley mengernyitkan dahinya dan penasaran dengan cerita Ridwan.
“Nona Monik juga anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka sibuk
dengan urusan masing-masing. Memang mereka tidak sampai bercerai, tapi sudah lama tidak bertemu dan berkumpul bersamanya. Dan hebatnya nona Monik masih bisa berpikir dewasa dan tidak membuat masalah. Saya salut dan kagum padanya, walaupun dia orang yang sangat kaya, tapi dia bukan wanita yang manja, dia mandiri. Orang tuanya memang tidak lupa dengan nya, dan selalu melimpahkan banyak uang dan harta padanya, tapi nona Monik sering mengabaikan.” Ucap Ridwan menjelaskan panjang lebar. Adley sangat serius mendengar.
“Jadi begitu, berarti selama ini aku salah menilainya ya.” gumam Adley dalam hati merasa bersalah.
“Makanya kalau kalian kelak menikah dan memiliki anak, jaga dan beri mereka kasih sayang dan perhatian. Karena sebenarnya itulah yang mereka inginkan selain uang.” Abraham memberi pesan.
__ADS_1