
Sepanjang perjalanan Bellova selalu banyak bercerita, tentang desa nya lah, tentang tetangga nya, adik nya, binatang peliharaan, semua di jadikan topik pembicaraan nya. Abraham tidak suka dengan kebisingan, apalagi suara manusia. Dia hanya diam sembari fokus pada jalanan, sesekali dia melirik Bellova yang tidak berhenti berbicara walau tidak di gubris Abraham. Dia menggelengkan kepala.
“Untung saja Pak Abraham datang tepat waktu, kalau tidak aku sudah jadi isteri Roya.”
“Padahal dia punya isteri, tapi selalu saja mencari wanita-wanita lain.”
“Ayah saya ingin beli sapi dan kambing, jadi uang yang saya kirim kata ayah untuk membeli nya.”
“Hhmm… sampai berapa lama lagi dia terus berbicara, apa dia enggak capek?” Tanya Abraham dalam hati nya.
“Pak Abraham capek tidak bawa mobil nya?” Tanya Bellova.
“Kalau aku capek apa kamu mau bawa mobil? Apa kamu bisa?” Tanya Abraham, baru mengeluarkan suara.
“Tidak sih pak. Maksud saya kalau bapak lelah, kita bisa istirahat dulu.” Jawab nya cengengesan.
“Apa masih jauh lagi jarak nya?”
__ADS_1
“Sekitar satu jam lagi pak.” Jawab Bellova melihat jalan di sekitar nya.
Abraham tetap terus mengemudikan mobil nya, dia ingin cepat-cepat selesai karena memang sangat lelah.
“Akhir nya tutup juga mulut nya. Aku pikir dia tidak akan behenti berbicara.” Gumam Abraham melihat Bellova yang sudah diam dan hanya melihat kiri jalan melalui jendela.
************
“Kalau Pak Abraham tahu perbuatan Shadow yang semakin melunjak ini pasti dia akan marah.” Ridwan melihat begitu banyak kejahatan penculikan lagi yang di duga Shadow sebagai pelaku nya.
“Dia ada urusan, kata nya malam ini mereka akan kembali ke Jakarta.” Jawab Adley.
“Apa jangan-jangan Pak Abraham di nikahkan di sana ya? di tahan tidak boleh kembali ke Jakarta kalau belum menikah?” Tebak Venam.
“Mulut mu itu ya, asal keluar suara saja tanpa di saring. Kalau ada yang dengar, bisa timbul gossip. Walaupun aku menginginkan dia segera menikah sih, tapi jangan sampai bicara sembarangan.” Ucap Adley yang duduk di hadapan mereka yang berdiri.
“Tapi ngomong-ngomong, kau dan Monik sudah baikkan ya? sudah sangat akrab gitu.” Ridwan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Memang nya siapa yang bermusuhan?” Tanya Adley merasa tidak ada masalah di antara mereka.
“Mungkin kau menganggap tidak musuhan, tapi siapapun yang melihat pasti mengira seperti itu. Tapi syukurlah kalau kalian tidak musuhan.” Jawab Ridwan tersenyum.
“Apa kau menyukai nya?” Adley dan Ridwan bertanya bersamaan.
Venam hanya mendengar dan memperhatikan mereka.
“Kalian bertanya bersamaan dan pertanyaan nya juga sama, jangan-jangan kalian berdua memang menyukai nya. Iyakan?” Tebak Venam menunjuk pada Adley dan Ridwan.
“Kalau aku sih memang menyukai Monik. Sudah cantik, pintar masak, mandiri lagi. Kalau Monik juga menyukai ku, tidak mungkin kan kami tidak menjalin asmara.” Ridwan melirik Adley yang hanya diam.
“Lalu, bagaimana dengan mu Dley? Apa kau juga…
“Aku tidak menyukai nya. Aku hanya suka…karena masakan nya saja. Sama seperti Abraham, hanya masakan nya saja. Dan aku juga tidak sempat memasak atau membeli makanan dari luar, karena dia juga menawarkan nya, ya aku suka.” Jawab Adley.
Adley masih belum tahu apa yang di rasakan terhadap Monik, wanita yang manja, tidak mandiri, boros, dan sombong, begitu lah yang selama ini dalam pikiran Adley. Apalagi saat tahu apa perasaan Ridwan pada Monik.
__ADS_1