KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 243


__ADS_3

Bellova hanya diam mendengar Angel berbicara.


“Harusnya kau sadar diri, betapa miskin dan rendahnya dirimu menikah dengan orang derajat tinggi dan terpandang seperti Abraham.”


Bellova masih diam, dia hanya menatap Angel.


“Kau masih bisa hidup seperti saat ini, untuk memberikan kesempatan agar kau segera menyingkir dan bangun dari mimpi hayalan tinggimu.”


“Kau. Hanya. Menjadi. Beban. Bagi. Abraham!”


Angel tersenyum sinis pada Bellova.


“Sudah selesai bicaranya?” tanya Bellova membuka mulut.


Angel mengernyitkan dahi.


“Aku masih harus menunggu berapa lama lagi agar kau selesai bicara? Kalau sudah selesai, biar aku yang bicara sekarang.” Ucap Bellova tegas.


“Wah, kau su-


“Kasihan sekali ya!”


“Apa?” tanya Angel terkejut dengan ucapan Bellova.

__ADS_1


“Iya, kau sangat kasihan sekali. Kau tidak bisa memiliki Abraham yang tinggi itu, padahal kau sendiri terpandang dan terhormat kan? Tapi tidak bisa mendapatkan Abraham, justru aku yang mendapatkannya.” Ucap Bellova dengan tatapan tajam dan senyum sinis.


“Seandainya kau bisa melihat betapa khawatir dan perdulinya Abraham padaku saat aku terluka, pasti kau akan menangis di sudut ruangan, iyakan?”


Angel merasa geram, napasnya memburu saking menahan emosi.


“Apa kau pikir-


“Iya, aku tidak berpikir kalau suamiku, Abraham sangat seperduli dan sekhawatir itu padaku, aku sangat terharu dan bahagia mengetahuinya.”


Rahang Angel mengeras, marah.


“Sebaiknya kau mundur saja baik-baik. Aku takut kalau nanti suamiku sangat marah dan masih dendam


Angel tidak menyangka kalau saingannya itu berani bicara seperti itu. Kata demi katanya memang masuk akal, tapi dia sama sekali terkejut dengan ancaman dengan balasan ucapan darinya itu.


“Sebentar lagi suamiku akan datang, dia hanya sebentar keluar karena mencari air minum untuk ku. Aku


sudah mengatakannya kan? Suamiku itu sangat baik, dia tidak mau aku kehausan. Jadi, lebih baik kau keluar sekarang!” ancamnya lagi. tidak sedetik pun Bellova mengalihkan tatapannya dari Angel.


Angel merasa takut, dia mengepalkan tangan dan menghentakkan kaki karena kesal.


“Lihat saja, aku masih belum berhenti. Jika Abraham tidak bisa menjadi milikku, maka aku tidak akan membiarkan orang lain memilikinya, termasuk dirimu! Aku akan-

__ADS_1


“Terserah! Aku tidak perduli!” balas Bellova dengan suara keras membuat Angel terkejut.


Beberapa saat suasana hening, tidak ada perkataan lagi, mereka saling menatap dengan tajam dan marah.


Hingga Angel pergi, dengan kesal dan emosi keluar dari pintu.


“Hah…. Hampir saja aku menunjukkan sisi lemahku.” Bellova menghela napas merasa lega.


Bellova teringat dengan ucapan Angel, tentang pantas dan tidak pantas, harga diri, derajat dan posisinya.


“Aku memang mengatakan yang benar kan? Kalau Abraham khawatir dan perduli dengan ku?”


“Aku tidak membohonginya-


Pintu terbuka, dan Abraham yang masuk dengan membawa segelas air putih.


“Maafkan aku agak lama, tadi di depan ada yang sedang mengajak ku mengobrol, padahal aku sudah bilang sedang terburu-buru.” Abraham berjalan dengan gelas terisi di tangannya. Gelas yang memiliki tutup di atas agar tidak tumpah atau tidak masuk kotoran.


“Tidak apa-apa. Kamu datang saja aku sudah senang.” Jawab Bellova tersenyum. Dia senang melihat Abraham, disaat suasana hatinya yang baru saja bertemu dengan penggemar suaminya itu.


“Ini, minumlah. Aku mengambilnya dari tempat Aditya.” Dia memberikan gelas minum dan Bellova segera


meminum hingga habis dalam satu tegukan.

__ADS_1


__ADS_2