
" Se, bilang sama gue siapa yang bikin lo gak nyaman? Biar gue bonyokin dia. " Ujar Rian dengan tampang seriusnya.
Sea menghembuskan nafas jengah, " Gak ada Rian, astaga! "
" Tau, lo! Dari kemarin ngeluh mulu. " Sahut Galaksi.
" Gue bukannya ngeluh, cuma memastikan aja. Siapa tau ada yang gangguin Sea, kan?! " Kilah Rian.
Galaksi mengibaskan satu tangannya tak peduli, " Gue lihat-lihat lo akhir ini gak les sama kak Samudra, kenapa? "
Muka Sea semakin keruh mendengar nama yang tidak ingin ia sebut atau dengar itu. Sea menaruh kembali kotak makannya ke meja, lalu menatap tajam bergantian kedua temannya.
" Kalau masih mau disini, lebih baik diam, deh! "
" Ck! kalian membuat nafsu makanku hilang. " Tukas Sea lalu beranjak pergi.
Rian dan Galaksi saling berpandangan, lalu menggidikan bahunya tak tahu.
" Gue salah ngomong, ya? " Tanya Galaksi dengan menunjuk dirinya.
" Bukan omongannya yang salah, hidup lo yang salah, kali. " Jawab Rian seenaknya.
Tak.
" Lo bosen hidup atau gimana?! " Ketus Galaksi.
Rian mengerutkan bibirnya sambil mengelus jidatnya yang kena sentilan Galaksi.
" Mau kemana lo? " Tanya Rian saat melihat Galaksi beranjak pergi.
" Nyusul Sea, lah, ngapain juga gue disini berduaan sama lo. " Jawab Galaksi enteng, membuat Rian mendelik.
" Trus ini sisa makanannya? "
" Buat lo aja, terserah mau lo apain. "
" Monyet lo! " Umpat Rian, tapi tidak ada balasan dari Galaksi karena pria itu sudah pergi.
" Gue yang beli, gue juga yang beresin. "
Dengan mendumel ia membereskan sisa makanan mereka dan membawanya pergi dari Rooftop, setelahnya ia pergi menyusul Sea dan Galaksi yang kemungkinan besar sudah di kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
" Eh, Yan. Lo ngapain masih disini, bukannya ke markas? " Tanya Bayu salah satu kakak kelasnya dan juga anggota The Key, Geng yang cukup ngehits dan ditakuti di Sekolah dan mendeklarasikan diri sebagai pelindung sekolah.
" Mau ngapain? "
" Nyabutin rumput disana. " Jawab Bayu ngasal.
" Oh-, males ah, lo aja. " Tolak Rian.
Tak.
" Ck! Ada masalah yang harus dibicarain, Jadi kita disuruh kesana. " Koreksi Bayu.
Rian mengangguk paham, " Oh, bilang dong. Ngapain tadi pakai muter nyabut rumput segala. " Protesnya.
" Serah, Nyet, serah. Gue duluan, Bye. " Pamit Bayu yang kalau gak inget teman sendiri udah melayang bogemannya.
" Loh, heh, tungguin elah! " Seru Rian lalu ikut menyusul Bayu.
Sedangkan di kelas Sea, Guru yang mengajar baru keluar dari kelas karena masih ada urusan lain dan meninggalkan mereka dengan tugas yang tenggatnya adalah sepulang sekolah nanti.
" Sea, dicariin kakak kelas, noh. " Seru Metha dengan setengah berteriak.
" Siapa? "
" Gak tau, tapi ganteng. "
Ganteng? Wah, kira-kira siapa ya yang mau deketin gue lagi?
Sea merapikan sedikit penampilannya, lalu pergi menghampiri pria tersebut daripada menduga-duga. Kelemahannya memang pria tampan.
Ah-, ia sangat suka pria tampan.
" Gue ikut. " Pinta Galaksi dengan meraih tangan Sea agar berhenti.
Ia menatap sebal Galaksi, " Yah-, lo mah! Yaudah ayok. "
Dasar, Pengganggu!
" Ada apa ya, kak? " Tanya Sea ramah.
Siawa tersebut yang memunggunginya, langsung berbalik dengan melempar senyum yang bagi Sea sangat menjengkelkan tapi beberapa hari terakhir ini ia menjadi terbiasa dengan senyum itu.
" Kak Samudra? " Seru Galaksi terkejut akan kedatangan Samudra.
" Ngapain kesini? " Tanya Sea galak.
" Cuma mau tanya kenapa gak bales WA gue? Kalau lagi sibuk biar gue atur ulang jadwal les kita. " Ujar Samudra dengan muka datarnya.
Sea merasa kesal mendengar jawaban itu, bukan jawaban itu yang ia harapkan. Ahh-, akhir-akhir ini ia terlalu banyak berharap kepada manusia semenyebalkan Samudra dan itu tidak baik.
__ADS_1
" Gue mau berhenti jadi murid lo. " Jawaban yang diluar keinginan Sea, bahkan dia sendiripun terkejut dengan jawabannya.
" Gak bisa, lo belum sepintar itu sampai mau berhenti. " Tolak Samudra.
" Eh, terserah dia, lah, mau berhenti atau lanjut. " Bela Galaksi yang sedari tadi memilih mendengarkan.
Samudra menaikan sebelah alisnya dan menatap jengah Galaksi.
" Bukannya sebagai teman harus ngedukung ya?! kan ini demi kemajuan teman lo sendiri. Biar dia bisa berdiri dengan kakinya, tanpa ketergantungan orang sekitarnya. "
" Iya, juga ya. " Gumam Galaksi membenarkan.
Sea menatap protes Galaksi, " Kok iya, sih?! "
" Emang tadi gue bilang iya? "
Sea berdecak lalu ganti memandang Samudra amarah, ia tidak suka diremehkan apalagi dengan pria dari kalangan bawah dan baru mengenalnya dua minggu, seolah sudah mengenalnya lama.
" Lo kalau kesini cuma mau ngehina gue yang manja, mending pergi, deh. Gue gak mood ngelihat muka lo. " Tukasnya dengan memandang Samudra malas.
" Itu realita, kali. "
" L-lo, gue gak manja! " Sungutnya tak setuju.
" Buktiin, dong! " Tantang Samudra.
Sea menatap pongah Samudra, " Hari ini juga bakal gue buktiin. "
" Oke kalau gitu, nanti sepulang sekolah gue tungguin di parkiran, Kita berangkat les. Kali ini gue bakal lebih keras lagi ngajarnya, Jadi lo harus tahan! " Tukas Samudra.
" Oke. " Serunya lantang.
" Yaudah, masuk sana! " Suruh Samudra, Sea dengan mata kilat menatap Samudra beranjak pergi masuk ke kelas dengan diikuti Galaksi yang sedari tadi menonton peperangan tanpa darah ini.
Samudra mengulum senyum kemenangannya karena rencananya memancing Sea agar mau kembali belajar dengannya berhasil. Lalu ia beranjak ke kelasnya yang kebetulan di lantai bawah.
" Wah-, Gue masih gak habis pikir kenapa Samudra malah ngotot nahan lo, Padahal dia itu terkenal kolot ilmu kalau sama orang kaya. "
" Dan ini dia ngotot nahan lo?! " Sambung Galaksi.
" Masa, sih? " Tanya Sea tidak percaya.
Galaksi mengangguk cepat, " Bahkan sebanyak apapun mereka bayar, Samudra tetap nolak. "
Sea menukikan sebelah alisnya, " Lo kalau gak ada orangnya aja berani manggil tanpa embel-embel Kakak. Payah! " Cibir Sea.
" Ya, kan gue menghormati. " Kilah Galaksi.
Sea kembali mengingat perkataan Galaksi tadi, lalu mulai penasaran dengan kelanjutannya.
Sea mendekat kearah Galaksi, " Menurut lo kenapa dia gak suka sama orang kaya? "
" Gue denger, sih, karena kebanyakan anak orang kaya selalu manja, sombong, dan gampang nyerah. Dan dia gak suka itu. " Terang Galaksi membagi informasi yang ia dapat dari nguping pembicaraan Ken dan Sean tempo hari.
Gak suka itu?
Sea menjentikan jarinya, " Gue sekarang tau caranya lepas dari Samudra. "
Galaksi menukikan alisnya menatap Sea tidak mengerti.
" Ah-, terserah lo aja deh, Pokoknya nanti kalau ada apa-apa bilang gue. " Percuma juga menunggu penjelasan Sea.
Sea melingkarkan tangannya dipundak Galaksi.
" Udah, lo tenang aja. Kalau semuanya lancar, Gue teraktir makan. Terserah lo yang pilih tempat dan menunya. "
Oke, ia semakin bingung apa yang terjadi dengan Sea. Bukan kebiasaannya menteraktir orang, apalagi orang tersebut yang memilih tempatnya. Mungkin memang ada sesuatu hal bagus terjadi.
" Na na na na na--, " Gumama Sea bersenandung kecil, sambil berjalan mencari contekan.
🐣
" Se, ayo pulang! Rian bilang bakal ada tawuran dan nyuruh kita cepat pulang. " Tukas Galaksi, dengan meraih tangan Sea lalu berjalan bersama menuju parkiran mobil.
" Lagi? "
Galaksi mengangguk, " Dan saudara lo itu ikut juga, Bahkan jadi panglimanya. " Terang Galaksi menggebu-gebu.
" Alamat dia numpang tidur di Rumah gue lagi. " Keluh Galaksi.
Sea menepuk pundak Galaksi.
" Tenang aja, Rumah gue masih muat, kok, untuk menampung kalian berdua. "
" Gak, kali ini gue bakal matiin ponsel, biar gak ditelfon Si Yanto dan malah diajakin tawuran. "
" Lagian lo, terlalu polos atau ******, sih. Udah berapa kali dikibulin Rian, tetap aja kena. " Cibir Sea.
" Ya, dia ngomongnya kayak orang sekarat, mana tega gue, nyet. " Balas Gabriel dengan merengut.
" Oh, Iya. " Dengan menepuk jidat.
__ADS_1
" Gue kan pulang bareng Samudra sekarang. "
Galaksi menatap Protes Sea, " Tapi ini harinya gue sama lo, Se. "
" Udah, Next time aja. Gue duluan ya. " Pamitnya lalu pergi ke Parkiran motor.
Galaksi memandang sendu kepergian Sea, lalu sedetiknya sadar.
" Kok gue sedih, ya lihat Sea pergi? "
" Oh, mungkin karena gue udah terbiasa sama Sea trus. " Cetusnya, lalu masuk ke dalam mobilnya
Sedangkan di tempat Samudra, ia menunggu kedatangan seseorang sambil terus memperhatikan Jam.
" Lo terlambat 5 menit. " Ujarnya lalu memandang datar gadis yang ia tunggu sedang mengatur deru nafasnya.
" Maaf, tadi gue lupa. "
Samudra memilih cuek, lalu naik ke motornya dan menyerahkan helm untuk Sea.
" Helm-nya siapa ini? " Tanya Sea dengan memperhatikan helm yang mungkin akan kebesaran jika dipakainya.
" Pinjem punya-nya pak Satpam, udah pakai aja! " Suruhnya.
Sea menatap jijik helm tersebut, lalu mencium bau helm-nya.
" Iyuh-, Baunya gak enak. Ini helm gak pernah dicuci atau gimana, sih! " Gerutu Sea.
Samudra tertawa kecil, " Gak ada lagi, mau gak mau pakai aja. "
" Boleh tukeran gak? " Pinta Sea.
" Gak! "
Dengan setengah hati Sea memakai helm tersebut, lalu naik ke motor Samudra.
" Tempatnya udah gue tentuin, Lo tinggal ngikutin intruksi gue aja. " Yang dibalas anggukan Samudra.
Lalu tak lama keduanya tiba di parkiran sebuah restoran megah, Sea turun lalu menyerahkan helm yang dipakai kepada Samudra.
" Ayo. " Ajak Sea, lalu keduanya naik ke dalam lift yang mengantarkan mereka menuju lantai satu.
Samudra hanya ikut kemana Sea melangkah, ia tidak tau apa yang direncanakan Sea untuknya.
" Reservasi atas nama Arsea. " Ujar Sea kepada pegawai Resepsionis.
" Reservasi atas nama Arsea ada di lantai dua, meja no. 6, salah satu pegawai kami akan mengantar Nona. "
" Oh, Tidak perlu, Terimakasih. " Keduanya kembali menaiki lift menuju lantai dua.
" Oke, Sekarang keluarin buku Fisika lo. " Suruh Samudra saat keduanya baru duduk di meja dekat kaca yang menampilkan pemandangan luar Jakarta.
" Baru juga, nih, pantat mendarat. " Keluh Sea tapi tetap mengeluarkan buku Fisikanya.
" I don't care. "
" Bentar, gue mau pesan minuman sama cemilan dulu. Lo gak seret apa?! "
" Serah. "
Sea menatap mencibir Samudra yang sedang sibuk membuat soal untuk dikerjakannya nanti.
" Lo baca materinya, pahamin dulu nanti gue terangin. " Suruhnya dibalas deheman Sea.
Srett
Srett
Samudra menengok sekilas, lalu terkekeh menatap Sea yang tengah membalikan halaman dengan kesal dan mulut yang tak berhenti mendumel.
" Dalam 30 menit belum paham, nanti lo belajarnya sambil berdiri. "
" Gua gak suka diprotes. " Potongnya saat tau Sea akan melayangkan protesnya.
Sea menatap kesal Samudra yang tengah tersenyum miring menatapnya.
" Ahh-, " Erang Sea karena harus menelan kata kasarnya yang akan ia layangkan untuk Samudra.
Samudra tersenyum penuh kemenangan, ia sangat senang melihat muka kesal Sea.
Makan, noh, nyam-nyam.
...©©©©©©©©©©©©...
...Thank's For Reading, Guys...
...Jangan lupa tekan tombol vote ⭐...
...Dan tuliskan kritik dan saran kalian di kolom komentar🖐🏻...
...See you next chapter, guyss😚...
__ADS_1