
Arshinta berhenti melanjutkan makan ketika mendengar ucapan Satmaka.
“Seperti nya itu tidak mungkin. Kak Abraham memang baik, saking baik nya mereka menganggap kalau Kakak menyukai mereka, padahal itu hanya sifat nya sama yang sama seperti mama ku. Kakak juga tidak gampang
menyukai dengan perasaan cinta, dan itu tidak mungkin sekali.” Jawab Arshinta menggelengkan kepala nya.
Satmaka tidak bertanya lagi.
“Jadi, kalau Abraham sudah di Jakarta, kita akan berbicara rencana pernikahan kita pada keluarga besar mu kan?” Tanya Satmaka mengganti topik.
“Uhuk..Uhuk..” Arshinta terkejut dan langsung meraih gelas minum nya.
“Ada apa? Terkejut?” Tanya Satmaka yang sudah tahu kenapa Arshinta minum tiba-tiba.
Arshinta mengangguk.
“I..iya, nanti kita akan minta kedua kakak ku untuk datang kerumah papa dan mama, dan kita bicarakan disana. Tapi nanti kau jangan marah ya, kalau mereka tidak menyukai mu.” Canda Arshinta melap mulut nya.
“Hmm… sudah resiko ku yang hanya jatuh cinta sepihak pada mu.” Jawab Satmaka menghela napas nya.
Arshinta hanya tersenyum mendengar curhatan Satmaka.
*************
__ADS_1
Abraham yang terus melaju mobil nya agar cepat sampai di rumah nya yang ada di Jakarta. Semenjak mereka berangkat dari desa Bellova, belum pernah berhenti sekalipun untuk beristirahat. Hingga sampai pukul 10 malam. Mereka berangkat dari jam delapan pagi, setelah sarapan dan melangsungkan pernikahan singkat namun sah itu.
“Kamu mau kita menginap di hotel mana?” Tanya Abraham melihat Bellova yang beberapa kali menguap.
“Apa?” Bellova berhenti menguap dan melihat Abraham.
“Aku ingin berhenti dan tidur sebentar . Jadi kita cari hotel saja untuk beberapa jam sampai pagi.” Jawab Abraham.
Entah apa yang ada dalam pikiran Bellova mendengar kalimat itu. Semenjak dia menikah dengan Abraham, pikiran nya sudah aneh-aneh.
“Mmm… terserah Pak Abraham saja. Saya ikutin saja.” Jawab singkat Bellova.
“Kamu tidak lapar? Seharian kamu tidak makan, hanya roti dan air putih saja. Setiap di tanya kamu bilang sudah kenyang. Apa kamu takut tentang uang? Tenang saja, aku kan sudah bilang kalau uang ku sangat banyak.” Ucap Abraham yang tahu salah satu kendala Bellova tidak meminta sesuatu, dan itu memang benar.
“Dan jangan panggil aku lagi dengan sebutan ‘Pak’. Kita kan sekarang bukan lagi hubungan majikan dan pelayan. Sudah menjadi suami dan isteri. Jadi… jangan panggil kata ‘Pak’ itu lagi.” Ucap Abraham memotong kalimat Bellova.
“Tapi pak..
“Ck. Kamu itu sudah jadi isteriku, nurut dong. Ya ampun.” Gerutu Abraham.
Bellova tidak bertanya lagi. Dia merasa malu dan takut kalau Abraham marah pada nya.
“Seperti nya di depan itu ada hotel, kita kesana saja, sekalian kita makan malam walaupun terlambat sedikit.” Abraham mengarah pada hotel yang di lihat di depan nya.
__ADS_1
Mereka masuk kehalaman parkiran untuk tamu yang akan menginap. Dan langsung di layani karyawan di sana.
“Selamat malam tuan, nona. Anda mau memesan kamar yang bagaimana?” Tanya si karyawan.
“Saya pesan satu kamar saja yang..
“Oh, anda mau satu kamar, apa anda mau fasilitas special lain nya?” Tanya si karyawan dengan melirik nakal pada Bellova.
“Maksud nya?” Abraham tidak mengerti.
“Maksud saya kon**m\, alat bantu s*x\, obat kuat? Anda menemuka wanita ini di mana tuan? Kalau anda sudah selesai memakai nya\, apa anda mau kita gantian?” Bisik nya pada Abraham sembari bertanya.
Brhuk…
Pukulan pertama mengenai wajah nya. Semua tamu yang baru masuk melihat pertengkaran itu, Bellova pun panik.
“Bren***k\, sopan kalau berbicara! Dia ini isteriku! Dasar bodoh.” Teriak Abraham.
“Ma…maafkan saya tuan, saya..
“Sebaik nya kita pergi saja dari sini Bella!” Abraham menarik salah satu tangan Bellova dan meninggalkan hotel yang ternyata itu adalah tempat biasa para hidung belang membawa perempuan sewaan untuk melayani nafsu nya.
“Mereka datang mau pesan kamar di jam segini, jelas pemikiran ku seperti itu.” Gerutu si karyawan setelah mereka sudah pergi.
__ADS_1
Sementara itu Abraham sangat marah dan kesal. Bellova yang melihat kemarahan Abraham juga ikut panik dan takut.