KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 213


__ADS_3

Tiinngg…. Tiinngg… tiinngg…


Bellova dan ibunya yang sangat sibuk memasak di dapur tidak mendengar suara bel di luar.


Dino dan Sandra sedang asik menonton Discovery Chanel, Ayahnya berbaring di sofa panjang, tempat biasanya Abraham bersantai.


Tok…tok..tok…


Karena tidak di bukakan pintu, mereka mengetuk.


“Dino, bukain pintunya.” Suruh Ayahnya.


Dino, berdiri berjalan mengarah pintu untuk membukanya.


Klik…


Dino ketakutan, karena melihat wajah Adam yang terlihat marah.


“A..a…Ayah… a..ada… ada-


“Papa…Papa dan Mama…su..sudah datang..” Bellova langsung berlari karena mendengar ketukan pintu, tapi tidak menyangka kalau adiknya yang sudah membuka pintu.


Karena terburu-buru, Bellova tidak sadar di tangannya masih memegang sendok goreng dan masih memakai celemek.


Tidak hanya Bellova, keluarganya juga ikut panik, bahkan Ayahnya langsung duduk untuk menyambut besan nya.


“Si…silahkan…masuk.” Dengan gugup Bellova menyuruh mereka masuk.

__ADS_1


Ibu, Ayah, Dino dan Sandra menyambut kedatangan mereka dengan gugup. Mereka lebih takut lagi melihat wajah Adam yang tidak santai dan serius. Tatapan nya dirasakan sangat tajam menatap mereka.


“Papa, tersenyumlah, jangan membuat mereka ketakutan begitu.” Bisik Eva yang tahu apa dalam pikiran mereka.


“Papa tidak menakuti mereka kok.”


“Papa memang tidak menakuti mereka, tapi saat ini mereka sedang ketakutan melihat Papa.” Ujar Eva berbisik lagi.


Adam tersenyum kecil.


“A…..ayah… Dino takut.” Dino berlari memeluk Ayahnya yang berdiri disampingnya.


Adam merasa bersalah.


“Hallo, apa kabar? Kalian adalah keluarga dari Bellova kan?” tanya Eva mencairkan suasana.


Bellova menutup pintu.


“Ha…Hallo, salam kenal juga. Saya Ibunya Bellova, dan ini Ayahnya, juga empat adik-adik Bellova.” Ibu


Bellova mengenalkan dirinya dan anaknya yang lain.


Eva menyapa dan tersenyum pada mereka.


Mereka mengobrol sederhana, membahas persiapan acara yang sebentar lagi.


“Ma, aku dan Ibu sedang memasak makan malam, Mama dan Papa di sini mengobrol saja.” Bellova mengajak ibunya untuk melanjutkan pekerjaan yang sejenak di tinggalkan.

__ADS_1


“Kalau begitu mama juga ikut membantu ya, tidak apa-apa kan?” Eva berdiri, ingin ikut bergabung.


“Ti…tidak apa-apa kok Nyonya, kami-


“Loh, kok Nyonya sih? Kita kan sudah berbesanan, jangan panggil seperti itu, aku tidak nyaman loh. Panggil saja nama ku, Eva.” Ucap Eva.


Ibu itu melirik Bellova, puterinya mengangguk.


“Ba..baiklah… Eva.” Akhirnya memanggil dengan nama walau masih canggung.


“Kalau begitu, ayo kita masak.” Ajak Eva bersemangat.


Tiga wanita dewasa itu mengambil bagian di dapur, tinggallah dua pria dewasa yang masih diam karena kaku.


“Ehem, apa kabar tuan Adam-


“Panggil Adam saja, tidak usah ada kata ‘tuan’, sepertinya isteriku juga sudah berbicara seperti itu pada isterimu, sama saja kan?” Adam memotong kalimat Ayah dari Bellova dengan tegas.


“Ba…Ba..baiklah.” sahutnya masih gugup.


“Santai saja berbicara padaku, aku tidak mau anak-anakmu itu menatapku dengan ketakutan seperti itu.” Adam menunjuk empat adik Bellova yang masih menatapnya dengan ketakutan.


Ayahnya memberi kode pada anaknya untuk tidak menatap Adam seperti itu.


Di dapur, mereka tidak canggung lagi mengerjakannya. Eva bisa dengan cepat mencairkan suasana.


************

__ADS_1


Arshinta, Satmaka dan Rakha juga sedang membeli beberapa buah dan cemilan di salah satu Mall. Ina dan


pasangannya Aditya juga berada di tempat yang berbeda, juga membeli buah tangan untuk dibawa kerumah Abraham saat makan malam.


__ADS_2