
“Hebat! Anda sangat hebat sekali pak Abraham.” Ucap Adley di dalam hati.
Irwan, yang mendapat jawaban dari Abraham kesal, tapi tidak di perlihatkan. Di lihat, tidak ada ketakutan di wajah Abraham, justru terpancar respon seperti menantang diri nya.
“Saya akan secepat nya menangkap dan membawa Shadow ke penjara, dan dia harus mendapatkan hukuman dengan kejahatan yang sudah banyak di lakukan nya.” Ucap Abraham dengan yakin.
“Kurang ajar, kalau sampai Shadow di tangkap, tamatlah riwayat ku, tapi sebelum itu terjadi, aku tidak akan membiarkan nya.” Gumam Irwan.
“Baiklah pak Abraham, lakukan sesuai kewajiban anda, tapi tolong jangan membuat malu nama kepolisian di depan masyarakat…
“Justru saya lebih malu di depan masyarakat kalau saya mengkhianati mereka.” Ucap Abraham memotong ucapan atasan nya.
Ucapan Abraham seperti menampar secara tidak langsung Irwan dan rekan-rekan nya yang hanya santai, menutup mata dan menerima gaji.
Di dalam ruangan itu memang sepi, tapi terasa suasana ketegangan.
Adley berusaha untuk menahan bibir nya agar tidak tersenyum.
********
Jam 7 malam, Abraham baru bersiap untuk pulang kerumah nya.
“Jadi, pak Abraham membiarkan nona Bellova pulang kampung?” tanya Adley yang sudah di beritahukan Abraham tentang kepulangan asisten rumah tangga Abraham.
“Iya, besok pagi aku akan mengantar nya dulu sebelum datang kesini.” Jawab Abraham dengan nada malas nya.
“Kenapa anda tidak menahan nya sih Bagaimana kalau dia tidak akan kembali lagi kesini?” tanya Adley.
“Buat apa, dia kan akan di nikahkan. Sama saja aku menghambat kebahagiaan nya.” Jawab nya santai.
“Apa kau tidak memiliki perasaan pada nya? Secara kan kalian sudah tinggal bersama walau beda kamar, dia juga sangat bagus mengurus anda yang tidak perduli pada diri sendiri, bahkan kemeja anda ini, lipatan setrikaan nya lebih tajam dari pada tempat laundry ku.” Ledek Adley menunjuk kan lipatan kemeja Abraham.
“Hahahahaha… perasaan yang seperti apa sih maksud mu? Dia itu hanya pelayan di rumah, aku juga yakin kalau dia akan bahagia dan pengen cepat menikah, jadi buat apa aku menahan nya?” jawab Abraham tertawa mendengar ucapan Adley.
“Hhhmm… ya sudah lah kalau begitu, nanti aku titip salam saja pada nya ya. Hati-hati di jalan.”
Adley akhirnya menyerah.
**********
Di kediaman Arshinta,dia sudah menyiapkan makan malam nya bersama Rakha.
__ADS_1
“Sayang, makan dulu yuk, ini kakak sudah bikin makanan kesukaan Rakha loh.” Panggil Arshinta, meletak kan makan malam di atas meja.
Rakha yang berada di depan Tv sambil bermain robot-robot an, segera bergegas.
“Iya kak.” Jawab nya berjalan dengan cepat menuju Arshinta.
Dengan cekatan, Rakha langsung duduk di samping Arshinta, untung saja tidak terlalu tinggi untuk Rakha.
Arshinta mengisi piring Rakha dengan makanan.
“Teyima kasih akak..” ucap Rakha tersenyum.
“Iya sayang..” Arshinta mengusap kepala Rakha.
Mereka menikmati makan malam bersama, sesekali Arshinta membantu meyuapi Rakha makan.
“Rakha, besok papa nya pulang loh.” Ucap Arshinta menyendok kan makanan nya.
“Benayl kak? Apa kita jempu papa?” tanya Rakha semangat dan senang mendengar kalau papa nya akan pulang.
“Kata papa nya tidak usah di jemput, biar papa pulang sendiri. Jadi, kita nunggu di rumah saja ya, besok sore papa nya sampai di rumah.” Jawab Arshinta.
“Oke.” Rakha mengangkat jempol nya, dan mengangguk kan kepala.
********
Ceklek…
“Selamat malam pak Abraham.” Sapa Bellova, membuka pintu.
“Tumben buka pintu nya tepat waktu.” Ucap Abraham sempat terkejut, masuk kedalam.
“Saya mendengar suara langkah kaki pak Abraham, jadi saya langsung bukain pintu nya.” Jawab nya yakin.
“Tapi jangan sembarangan buka pintu nya juga, kalau orang lain yang berniat jahat, gimana?” tanya nya duduk di sofa melepas jaket nya.
“Saya yakin itu langkah kaki pak Abraham, karena saya sudah hafal.” Jawab Bellova lagi.
Tidak ada jawaban dari Abraham. Jam tangan, dasi, ikat pinggang sudah di lepaskan semua.
“Jam berapa kamu akan berangkat dari sini?” tanya nya, melihat Bellova yang berdiri di depan nya untuk mengambil sepatu dan kaos kaki majikan nya.
__ADS_1
“Jam 7 pagi saya sudah harus berangkat pak. Tapi, kalau bapak tidak…
“Oke, aku akan mengantar mu besok pagi.” Jawab Abraham cepat, seakan tahu apa yang akan di ucapkan Bellova.
“Tapi pak…
“Makan malam nya sudah siap kan? Aku mau mandi dulu, jadi tolong makanan nya di atur saja.” Abraham berdiri, sambil membuka kancing kemeja nya, terus berjalan meninggalkan Bellova di belakang yang masih
memperhatikan nya.
Abraham masuk ke kamar nya, seperti biasa, pakaian nya di buka dan di letak kan begitu saja di lantai lalu masuk ke kamar mandi, hanya
memakai celana boxer nya.
“Haduh… kenapa sih harus pulang kampung? Entar siapa yang masakin makanan yang enak? Apa aku cari pengganti nya saja? Tapi.. biasa nya aku kan memang sendiri, makan juga harus mesan. Tapi…
Abraham berbicara sendiri di bawah guyuran air yang keluar dari shower.
Perasaan dan pikiran Abraham penuh dan bercampur. Antara pekerjaan, merasa kehilangan kalau Bellova pergi dari rumah nya, perasaan kesepian dan sendiri. Sebelum ada Bellova, biasa nya Abraham sering main dan
menginap di rumah saudara nya, sesekali kerumah orang tua nya juga. Tapi semenjak Bellova ada di rumah nya, dia tidak pernah menginap di rumah siapapun, tapi kalau untuk sekedar berkunjung, dia pasti akan datang.
Setelah memakai pakaian santai nya, dia turun kebawah. Di lihat Bellova berdiri mengahadap nya dan tersenyum.
“Lihat itu, seperti nya dia sangat senang sekali karena besok akan pulang kampung. Kenapa aku tidak suka dia tersenyum seperti itu.”
gumam Abraham, berjalan di anak tangga.
“Pak Abraham, makanan nya sudah siap.” Ucap Bellova, menarik kursi tempat biasa majikan nya duduk.
“Kamu senang banget ya? senang karena mau keluar dari sini dan tidak perlu capek-capek lagi ya?” ledek Abraham.
“Iya, saya memang senang pak Abraham, karena bisa pulang kampung, tapi saya juga tidak capek kok selama bekerja di sini, saya menyukai nya.” Ucap Bellova, mengisi makanan Abraham.
Abraham melihat Bellova.
“Kamu senang bekerja di sini? Kenapa? Apa karena gaji nya atau…
“Iya, karena gaji nya juga saya betah bekerja di sini. Selain itu, karena saya memiliki majikan yang tampan dan baik hati seperti anda, jadi saya menyukai anda rasa suka pada diri nya.
“Iya pak. Anda sangat baik, walaupun wajah anda yang galak itu, tapi hati anda baik dan lembut, sama seperti tuan besar, papa anda.” Jawab Bellova tersenyum.
__ADS_1
Ucapan Bellova entah kenapa membuat Abraham seperti salah mengartikan nya. Masih berpikir keras.