
Kesehatan Abraham dan Bellova sudah pulih, dia juga sudah bisa bekerja kembali. Dan karena mereka
berdua sudah menjelaskan apa yang sudah terjadi dan apa yang mereka rasakan, terutama Bellova, hubungan nya kembali lagi seperti sebelum nya, sudah membaik.
Sudah dua hari sejak mereka sembuh, dan sejak keluarga Abraham menjenguk, Abraham kembali tidur
bersama dengan Bellova, dalam satu kamar dan tempat tidur. Setiap pagi sarapan, dan siang hari Bellova kembali mengantar makan siang untuk suami nya.
Seperti pagi ini, Bellova sudah menyiapkan sarapan untuk Abraham di atas meja.
“Selamat pagi Love,” sapa Abraham sambil membuka kursi untuk dia duduk sarapan.
“Pagi Bram.” Sahut Bellova tersenyum.
Segelas kopi susu baru saja di letakkan Bellova, di depan Abraham.
“Kata Ayah kalau mereka sedang dalam perjalanan, kemungkinan sore ini sudah tiba di terminal, aku akan menjemput nya.” Ucap Abraham.
“Apa…apa aku boleh ikut menjemput mereka?” walau sedikit ragu, Bellova masih berharap untuk bisa ikut.
“Boleh.”
Bellova tersenyum senang.
__ADS_1
“Nanti saat kau antar makan siangku, kita berangkat bersama kesana.” Abraham memasukkan makanan kedalam mulut nya.
Bellova menganggukkan kepala nya.
Setelah Abraham menyantap sarapan, Bellova duduk di samping nya, sarapan juga.
Sekarang mereka lebih banyak bercanda dan tertawa kecil, sebisa mungkin Bellova tidak membawa perasaan lebih dalam lagi pada Abraham.
“Aku akan mengerjakan pekerjaan ku lebih cepat, kalau semua nya sudah selesai, kita akan atur acara bulan madu kita, sambil menunggu, kau bisa memilih dan memikirkan mau kemana tujuan nya.” Ucap Abraham.
Bellova terkejut, dia melihat Abraham yang bicara biasa saja, sedangkan dia merasa tidak nyaman.
“Bulan madu?”
“Iya. Aku tidak tahu kau mau kemana, jadi biar kau pilih saja, aku tinggal ikut.”sahut Abraham meminum kopi nya.
“Aku sih mau nya kasus Bossa ini selesai, tapi kalau masih lama, kita akan bulan madu secepat nya, kira-kira mungkin satu bulan lagi lah.” Jawab nya.
“Satu bulan?” suara Bellova terdengar pelan, berpikir sejenak.
Tak…
Tegukan terakhir sudah diminum Abraham.
__ADS_1
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Abraham berdiri, memakai jaket kulit untuk menutupi seragam nya.
“Apa kau melihat kunci mobil dan ponsel ku?” tanya Abraham, di cari-cari tidak ada.
“Oh, sebentar.” Bellova berdiri, berjalan ke arah lemari hias dan mengambil apa yang di cari Abraham.
“Ini, tadi aku simpan nya di sana.” Dia memberikan pada Abraham, dan menerima lalu memasukkan kedalam saku celana.
“Terima kasih. Nanti kau langsung datang saja, tidak usah menelepon ku.” Ucap nya sembari berjalan menuju mobil, dan Bellova mengikuti dari belakang.
“Iya.” Sahut Bellova.
Bellova terus mengikuti Abrahm,sampai dia masuk kedalam mobil.
Abraham melambaikan tangan dan tersenyum pada Bellova, yang masih berdiri, menunggu nya sampai pergi, dan Bellova juga membalas lambaian tangan nya.
“Bagaimana cara nya aku bisa menghilangkan perasaan ku pada mu… suamiku.” Ucap nya pelan, lalu masuk kedalam rumah setelah menutup pintu.
************
Mendengar kedatangan atasan mereka, semua anggota sudah datang di kantor.
“Kenapa wanita itu ada di sini lagi?” tanya Adley pada Ridwan, mengarah pada Angelina yang duduk di kursi istimewa yang sengaja di bawa sopir nya.
__ADS_1
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Saat aku tiba, dia sudah duduk di sana.” Jawab Ridwan yang tidak tahu kehadiran Angel yang duduk santai dan tenang.
Adley yang terlihat kesal, menggelengkan kepala.