
“Tidak selamanya, orang yang berpenampilan seperti orang jahat, akan bertindak jahat dan menghasilkan keturunan yang jahat juga. Seperti tuan Lucifer, saya akui tuan Lucifer memang sadis dan kejam. Beliau hanya memiliki ‘identitas yang salah’ saja. Saya sangat menghormati dan kagum pada beliau, dan saya akan berusaha agar tuan Lucifer tidak mendapat hukuman berat, karena dia adalah panutan dan orang penting yang saya anggap melebihi orang tua yang tidak menginginkan saya.” Ucap Adley dengan nada serius, Abraham yang mendengar pengakuan sahabatnya itu ikut senang dan tersenyum.
“Baiklah… baiklah, jangan sampai kau menangis disana, atau jangan-jangan kau sudah menangis ya?”
ledek Abraham untuk mencairkan suasana.
“Ah, pak Abraham tahu saja-
“What? Kau benaran menangis?”
Tidak ada jawaban dari Adley, hanya suara tarikan hidungnya yang memang benar menangis.
“Jujur saja, saya sangat sedih kalau ada orang yang tidak menyukai tuan Lucifer, mereka hanya tahu kekejamannya saja, tapi mereka tidak tahu, kalau tuan Lucifer mempertaruhkan nyawanya untuk ketenangan kita semua. Saya tidak bisa membayangkan hukuman mati untuk-
“Berhenti! Itu tidak akan terjadi! Akan aku lakukan apapun untuk melepas Papaku. Walaupun aku harus
melepas posisiku, akan aku lakukan.” Ucap Abraham dengan suara keras. Dari nada nya juga mulai bergetar membayangkan hal buruk yang terjadi pada Lucifer.
“Saya juga pak Abraham. Kalau Bossa yang begitu kejam bisa lepas dari hukuman beberapa kali, kenapa tuan Lucifer tidak bisa? Melalui ‘jalan miring’? saya pun akan memilih jalan itu.” balas Adley dengan yakin.
Abraham menghela napasnya, helaan napas yang panjang.
“Kalau begitu, anda istirahat saja Pak Abraham, ini juga sudah sangat malam, beberapa hari ini anda pasti sangat kelelahan.” Ucap Adley ingin mengakhiri obrolan.
__ADS_1
“Kamu juga, berhati-hati kemanapun. Besok aku akan kekantor.” Balas Abraham untuk menutup obrolan.
Abraham memasukkan ponsel pada saku celananya, tatapannya mengarah kelangit dan menghela napas
beberapa kali.
“Apa yang harus aku lakukan?” lirihnya.
Kreeekk…
Terdengar suara di balik Abraham, dia menoleh kebelakang dan melihat Bellova yang berdiri tidak jauh darinya.
“Love?”
“Tidak apa-apa, kemarilah.” Panggil nya dengan tangan.
Bellova berjalan mendekati Abraham dan berdiri di sisinya.
“Apa kamu terganggu atau tidak bisa tidur?” tanyanya dengan suara pelan.
“Aku tidak bisa tidur, aku lihat pintunya terbuka, karena aku penasaran aku datang saja, ternyata ada kamu disini.” Jawab Bellova gugup.
Anggukkan kepala Abraham menandakan dia mengerti. Dia kembali melihat langit dengan banyak bintang yang bertaburan. Kelap-kelip seperti sedang mengedipkan mata pada mereka berdua yang menyaksikannya.
__ADS_1
“Apa Abraham bingung?”
“Hm?” Abraham menoleh melihat Bellova.
“Ma… Maaf-
“Jangan terlalu sering mengucapkan kata ‘Maaf’.”
“Aku mengucapkan nya karena merasa bersalah dan tidak nyaman kalau aku tidak mengatakan maaf.” Sahut
Bellova.
Abraham mengerti.
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu tadi.” Ucap Bellova menundukkan wajahnya.
“Oh ya? mulai dari mana?”
“Dari… dari hukuman mati untuk… untuk Papa mertua.” Jawab Bellova gugup.
Wajah Abraham kembali murung, mengalihkan pandangan nya dari Bellova.
“Kau benar. Papaku itu sangat baik. Sebenarnya dia orang yang tidak perduli dengan orang lain atau ikut campur, tapi… tapi kalau keluarganya yang terancam, maka dia akan kejam dan balas dendam. Aku sangat tahu betul dengan papa. Saat berkumpul, semua akan memanggilnya dengan nama ‘Adam’ tapi kalau di depan musuhnya dia akan menjadi ‘Luicfer’.” Ucap Abraham menghela napas.
__ADS_1