
Bellova terus berlari, mencari tempat seperti arahan majikan nya, dan Abraham juga terus berusaha secepat nya untuk bisa menolong Bellova.
“Pak Abraham, saya sudah capek, udah gak kuat berlari lagi…..” curhat Bellova dengan napas ngos-ngos an.
“Aduh… ini sebentar lagi sudah mau menemukan mu, kau…
Bbbruugghh….
Abraham mendengar suara pukulan yang berasal dari ponsel Bellova.
“Lova..? hey Love…? Kamu masih hidup..?” Abraham memanggil beberapa kali Bellova, sangat khawatir dan panik.
Bbbrruughh…Bbbrruuugghh….
“Aaaakkhh…”
“Ya ampun, gadis itu berteriak, apa yang terjadi..?” gumam Abraham masih mendengar suara nya.
Dia semakin melaju motor nya, tidak perduli lagi dengan bunyi suara klakson dari kendaraan lain, yang penting sekarang dia harus cepat
sampai.
“Aku harap tidak terjadi hal buruk pada mu..” gumam Abraham.
*****
Hingga akhir nya, penjahat yang mengejar Bellova, habis di pukul oleh seseorang. Mereka tidak berdaya menahan rasa sakit di tubuh nya.
“Terima kasih tuan, anda sudah menyelematkan saya.” Ucap Bellova mendekati pria itu.
Pria yang menyelamat kan Bellova tersenyum melihat nya, tubuh nya tidak terluka, hanya terlihat lelah dan keringatan.
“Itu sudah kewajiban setiap orang yang melihat dan seorang wanita di kejar orang jahat. Saya akan merasa bersalah kalau membiarkan nona
dalam bahaya.” Jawab nya.
Bellova melirik penjahat yang mengejar nya, dan mencari-cari Abraham yang belum tiba.
“Anda sedang melihat siapa?” tanya pria yang melihat Bellova mencari sesuatu.
“Saya sedang menunggu….
“Lova….” Panggil Abraham keras.
Bellova dan pria itu melihat Abraham yang memanggil, memarkirkan motor dan turun.
“Kau tidak apa-apa?” tanya nya berlari menghampiri Bellova.
Abraham menyentuh tangan, bahu dan wajah gadis itu, khawatir dia terluka.
“Saya tidak apa-apa Pak Abraham, untung saja ada tuan ini yang menyelamatkan saya..” Bellova menunjuk pria yang berdiri di belakang nya.
__ADS_1
Abraham melihat pria itu yang tersenyum ramah pada nya. Ada perasaan tidak suka di wajah nya, tapi mengingat karena pertolongan nya lah Bellova bisa di selamatkan.
“Terima kasih ya, sudah menyelamatkan dia..” Abraham mengulurkan tangan untuk bersalaman.
“Tidak apa-apa kok Pak, kebetulan saya lewat dan melihat wanita ini berlari di kejar orang-orang itu.” jawab nya ramah, menyambut tangan Abraham untuk bersalaman.
Setelah bersalaman, pria itu mendekati Bellova.
“Saya Rahul, apa saya bisa tahu siapa nama nona cantik ini?” tanya pria yang bernama Rahul, seperti lupa dengan sosok Abraham.
“Saya Bellova, dan dia…
“Hallo Bellova, nama anda unik ya. Nama Bellova itu arti nya perempuan yang cantik dan tenang, seperti nya nama itu cocok dengan anda.” Puji Rahul.
Abraham di belakang merasa di abaikan.
“Hahaha… terima kasih tuan Rahul, anda …
“Tolong jangan panggil saya ‘tuan’ panggil saja nama saya langsung, Rahul. Bisa kan?” pinta Rahul, memegang tangan Bellova.
Gadis itu mengangguk kan kepala.
“Nah, kalau begitu saya panggil anda dengan …Love, karena…
“Sudah…sudah cukup ngobrol nya ya.” Abraham yang tidak senang melepaskan genggaman tangan dari Rahul. Rahul tidak bisa marah.
“Kamu ikut aku pulang….
Abraham yang menggandeng tangan Bellova berhenti melangkah.
“Bukan… dia…. Dia pelayan di rumah ku..” jawaban yang keluar dari mulut Abraham.
“Oh… jadi dia pelayan anda ya… kalau begitu anda tidak masalah kan, kalau saya dan dia dekat?” lagi, pertanyaan dari Rahul yang di
rasa sulit dan tidak suka.
“Tidak bisa, saya tidak mau pekerjaan nya…
“Saya tidak akan mengganggu pekerjaan nya.” Ucap Rahul cepat.
“Hhhmm…” Abraham menghela napas, berbalik melihat Rahul yang tersenyum ramah pada nya, senyum yang seperti di buat-buat.
Bellova, tidak marah atau malu karena di sebut pelayan.
Senyum yang terpancar di wajah gadis itu terlihat jujur dan tenang.
“Silahkan..” jawaban yang sebenar nya tidak suka untuk di katakan.
“Terima kasih pak Abraham, anda jangan salah paham, karena tadi nona Love memanggil anda dengan nama itu.” ucap Rahul, senang dengan
jawaban Abraham.
__ADS_1
Abraham melihat dua orang yang sudah tidak sadarkan diri itu, lalu menghubungi Adley, untuk membawa mereka ke kantor polisi untuk di
interogasi.
Karena Abraham yang fokus pada ponsel untuk berbicara dengan Adley, Rahul dan Bellova jadi lebih banyak waktu untuk mengobrol. Sesekali
Abraham melirik mereka, wajah Bellova yang tertawa dan tersenyum lepas di hadapan pria yang sudah dua kali bertemu itu, membuat nya tidak suka.
Abraham menutup ponsel nya, dan berjalan mendekati mereka.
“Ayo kita pulang..” spontan Abraham menarik tangan Bellova.
“Lalu bagaimana dengan penjahat nya pak?” tanya Bellova, menunjuk pada dua orang itu.
“Sebentar lagi Adley akan datang. Lagi pula aku sudah memborgol mereka.” Jawab Abraham ketus.
Abraham naik lebih dulu di motor gede berwarna hitam, sementara Bellova masih melihat Rahul sambil tersenyum.
“Ck… kamu ngapain lagi, cepat naik..” ucap Abraham kesal.
“Iya pak.” Dengan cepat Bellova naik dan duduk di belakang Abraham. Karena tidak bisa naik dengan mudah, Bellova memegang pundak Abraham sebagai pegangan. Abraham menahan dengan kedua kaki bertumpu pada tanah.
“Rahul, kami pulang dulu ya, dan terima kasih yang tadi..” Bellova pamit dan masih mengucapkan rasa terima kasih nya.
Rahul membalas dengan tersenyum, dia melambaikan tangan nya.
“Hati-hati ya…”
Bbbbbbrruummm….Bbrruumm..
Abraham melajukan motor dengan cepat, saking cepat nya, Bellova memeluk Abraham dari belakang, yang awal nya dia memegang besi bagian belakang.
“Kenapa aku seperti marah dan tidak suka dengan pria itu?” gumam Abraham.
Motor terus melaju dengan kencang.
“Pak Abraham, pelan saja bawa motor nya, saya takut..” ucap Bellova, suara nya keras karena angin yang kencang, dan masih memeluk Abraham.
Mendengar ketakutan Bellova, Abraham pun menurunkan kecepatan nya, dan perlahan Bellova melepaskan pegangan tangan nya dari tubuh Abraham.
“Jangan bergerak yang aneh-aneh, tetap memeluk ku biar kita tidak jatuh..” suruh Abraham, dia tidak memakai helm.
Mendengar itu, Bellova membatalkan niat nya untuk melepas pelukan.
Abraham mengantar Bellova pulang, dengan perasaan yang aneh di dalam Abraham, entah itu marah, cemburu atau kesal. Saat ini dia masih tidak tahu alasan nya. Sedangkan Bellova tersenyum sendiri, tentu saja karena
perasaan senang, apakah senang karena Abraham atau karena Rahul, begitu juga dengan Rahul, pria yang pertama kali bertemu dengan Bellva dan Abraham di Mall
beberapa waktu yang lalu dan akhir nya bisa bertemu kembali, bahkan bisa langsung berkenalan dan mengobrol.
Dan beberapa saat setelah Abraham dan Bellova pulang, Adley dan dua rekan nya datang dengan mobil polisi, menjemput penjahat yang sudah di hajar babak belur oleh Rahul.
__ADS_1