
Semua murid dengan semangat langsung segera menulis, seakan memang sudah tahu nama-nama yang harus di catat.
*******
“Oh…. Jadi begitu…memang sekolah nya di dekat sini, di belakang toko.” Ucap Ina setelah mendengar kan cerita dari pria yang memperkenalkan diri nya sebagai Satmaka.
Satmaka juga sudah yakin dengan kalau wanita yang baru di temui nya kenal dengan Shinta, setelah Ina menunjukkan foto dalam ponsel.
“Aku ingin bertemu dengan nya, soal nya anak ku merengek ingin bertemu dengan nya, dan aku tidak tahu harus menemukan nya di mana, aku hanya ingat tempat ini, karena di sini tempat pertama kali kami bertemu.” Ucap
nya.
“Mungkin anak mu kangen dengan adik ku.” Ucap Ina memakan kue yang di pesan.
“Iya, anak ku juga sangat menyukai nya.” Balas Satmaka yang hanya memesan kopi.
“Shinta itu sangat akrab dengan anak kecil, karena dia anak paling kecil di keluarga ku.”
“Sebaik nya kita kesana ya, seperti nya pekerjaan nya akan selesai sebentar lagi.” Ina bersiap-siap ingin pergi. Membawa tas kecil dan ponsel nya.
Satmaka juga mengikuti Ina, dengan tujuan untuk bertemu dengan wanita yang di cari.
********
Di sekolah Cinta Kasih juga sudah selesai mengumpulkan kertas yang sudah di tulis nama-nama. Semua guru tampak panik dan ketakutan.
“Baiklah, semua kelas sudah mengumpulkan kertas nya.” Shinta memberikan kertas terakhir pada Ruly yang memegang semua hasil dari kelas sebelum nya.
“Aku akan memeriksa guru-guru yang ‘berlebihan’ dari sekolah ku. Tapi…. Ini bukan berarti kalian sebagai murid menjadi merasa menang, berkuasa, dan tidak taat pada peraturan dari guru-guru lain. Murid mana yang juga tidak benar, aku juga akan bertindak yang sama.” Ucap Arshinta, melihat
murid-murid yang serius mendengar dan mengangguk.
“Aku tidak mau di sekolah ku ini, terdengar berita yang tidak enak, karena aku paling tidak suka ada konflik dan permasalahan, kalau
aku menemukan nya, maka aku akan menyingkirkan nya dengan cepat.”
“Sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian pelajaran, jadi tolong kalian belajar yang giat. Kejar cita-cita mu, berusaha, dan berdoa. Tapi
ingat, jangan menyakiti dirimu sendiri, sahabat, keluarga dan orang-orang lain.
Jadi kalian harus semangat.” Ucap Arshinta berbicara di depan mereka.
“Kalian harus apa???” teriak Arshinta untuk mengingat kan murid nya.
__ADS_1
“Harus semangat bu…..” jawaban mereka yang serentak dan yakin.
Arshinta puas sehingga tersenyum mendengar jawaban mereka.
Sekilas di lihat nya Samy, yang duduk di tempat nya dengan menundukkan wajah.
“Kalau begitu saya permisi dulu, pak Samy.” Arshinta pamit pada guru Samy yang hanya membalas dengan senyum paksa dan menangguk.
Arshinta dan Ruly pergi menuju kantor.
Semua kertas, di pegang Ruly.
“Bu Shinta, apa ini tidak masalah dengan murid-murid?” tanya Ruly.
Arshinta berhenti dan melihat Ruly.
“Tentang apa?” tanya Arshinta melanjutkan kembali langkah nya menuju kantor.
“Saya takut kalau ada guru yang jahat dan terancam, lalu menyakiti murid itu.” Ruly yang merasa khawatir dengan kejadian yang akan
datang.
Hingga mereka sudah berada di dalam kantor.
“Itu makanya aku tidak menyuruh mereka menuliskan nama dan kelas nya kan.” Jawab Arshinta yang memang sudah memikirkan resiko yang akan terjadi pada murid nya.
dengan informasi itu, pasti dia sudah tahu, siapa yang sudah menulis nama nya.”
Ucap Ruly yang ikut duduk di tempat nya.
“Kau pikir apa yang akan aku lakukan pada guru-guru itu?” tanya Arshinta melihat pada Ruly yang menunggu jawaban.
“Memecat nya?” jawab Ruly yang masih ragu.
“Tentu saja aku akan memecat nya. Tapi akan aku pastikan agar dia tidak berani balas dendam dan menyakiti murid-murid. Kau tenang saja Rul.” Arshinta tersenyum dengan menaikan salah satu alis nya pada Ruly.
“Siapa yang akan kau pecat?” tanya Ina yang ternyata sudah berada di sekitar kantor nya.
Arshinta melihat Ina dengan Satmaka.
“Kak Ina? Kau sudah datang?” tanya nya berdiri menunggu kedatangan Ina.
“Iya, oh ya dek, apa kau kenal dengan pria ini?” tanya Ina menunjuk pada Satmaka yang melihat nya.
__ADS_1
“Tidak tuh, aku tidak kenal dengan nya, memang nya siapa dia?” tanya Shinta bercanda.
“Kau tidak kenal? Tapi dia bilang kalau kalian saling kenal. Apa jangan-jangan pria ini berbohong ya?” tanya Ina yang juga pura-pura percaya pada Shinta.
“A…apa…. Aku tidak berbohong, kami memang saling kenal.” Satmaka yang gugup berusaha agar tidak di curigai.
“Hahahahaha……” tawa Ina dan Arshinta bersamaan.
“Kau tenang saja, Shinta itu memang suka ngerjain orang lain.” Ina menepuk bahu Satmaka.
“Ayo, kalian duduk. Jangan berdiri.” Arshinta mempersilahkan kan dua orang yang dia kenal untuk duduk di sofa yang sudah tersedia.
Shinta pun keluar dari kursi nya, menyusul untuk duduk bersama Ina dan Satmaka..
“Kau bawa pesanan ku kak?” tanya Arshinta melihat bungkusan yang di bawa Ina.
“Iya, ini juga minuman nya.” Ina membuka bungkusan yang terdiri dari minuman dan brownies.
“Ruly, sini gabung. Aku juga sudah membeli mu chat***e untuk mu.” Suruh Arshinta pada Ruly yang duduk menyendiri.
“Baik bu Shinta.” Ruly datang dan duduk di samping Shinta.
“Ini kakak ku Ina, dan ini…….Satmaka.”
“Ini asisten ku kak, nama nya Ruly. Jadi kalau aku tidak berada di sekolah, dia yang mengurus nya.” Ucap Arshinta memperkenalkan masing-masing.
Mereka bersalaman sambil tersenyum ramah.
“Anda tahu dari mana kalau saya suka minuman ini bu Shinta?” tanya Ruly yang meminum minuman nya dengan senang.
“Karena aku sering melihat mu meminum nya. Aku juga suka loh.” Jawab nya juga ikut minum.
“Oh ya dek, tadi aku dengar tentang pemecatan. Siapa?” tanya Ina yang masih penasaran dengan apa yang di dengar nya barusan.
“Itu kak, ada beberapa guru yang harus aku pecat dari sini. Karena mereka sudah bertindak keterlaluan, bekerja bukan sebagai guru lagi. Kakak kan tahu aku paling tidak suka yang seperti itu. Guru adalah sosok yang aku hormati, maka nya aku tidak mau ada yang menyalahgunakan profesi itu.
jadi….harus aku babat….” Ucap nya dengan memakan kue yang sudah di bawa.
“Iya, bagus juga itu. Biar yang lain nya jera.”
Mereka ber empat berbicara santai. Sesekali tertawa bersama.
Menghabiskan waktu sambil menunggu bel pulang sekolah sekitar 30 menit lagi.
__ADS_1
“Bagaimana dengan model nya kak?” tanya Arshinta.
“Gwen dan Oksana mau, dan mereka bilang mau tinggal bersama kita. Kangen kata nya.” Jawab Ina membersihkan mulut dari krim kue.