
“Kenapa masih belum di lakukan Narendra? Kalau aku yang harus turun tangan, itu arti nya kau juga akan kehilangan salah satu anggota
tubuh mu.” Ucap Lucifer dengan serius dan tegas.
Semua menjadi takut dan menegangkan.
“Baik tuan Lucifer, saya akan melakukan nya.” Narendra berdiri, mendekati anak buah dan supir nya.
Lucifer mundur, kembali ke kursi singgasana nya.
“Tuan Narendra, tolong maafkan saya. Walaupun saya tidak tahu apa yang telah saya perbuat……
Laki-laki kemayu itu menendang anak buah nya dengan keras, dan lagi tubuh orang itu tersungkur ke belakang.
“Bikin malu saja kau. Baru beberapa bulan saja kau bergabung dengan ku, dan kau sudah mencoreng nama ku, bang**t!” teriak Narendra, walaupun dia penyuka sejenis, namun dia paling tidak suka kalau ada yang mencoreng nama nya, dan membuat malu, apalagi di depan Lucifer.
Di depan anggota yang lain nya, Narendra melakukan apa yang di suruh Lucifer.
“Tuan Noah, ini semua ulah supir saya, saya tidak tahu kalau…
“Tidak tahu kau bilang? Lalu dari mana kau tahu ini adalah ulah supir mu?” bentak Narendra, suara nya menjadi pria dewasa.
Galih melihat supir nya, Bondan, pria itu sudah gemetaran.
“Tunggu apa lagi Narendra? Cepat lakukan!” teriak Lucifer, tidak sabar.
“Kau dengar itu? dari pada mata dan lidah ku yang di keluarkan, lebih baik semut bren***k seperti kalian yang harus aku lumpuhkan.”
Narendra mengambil pisau gerigi yang di selip di pinggang nya.
Tanpa gugup, dengan bantuan anak buah nya yang lain, mereka mengikat kedua tangan Galih dan Bondan. Dua orang itu menjerit, takut dengan hukuman nya.
Bagi anggota yang sudah lama bergabung bersama Lucifer, melihat aksi itu tidak membuat mereka jijik atau mual, beda dengan yang masih baru, mereka ingin pergi kekamar mandi, tapi Aris dan Hendra tidak mengijinkan,
hingga ada dari mereka yang muntah di tempat.
__ADS_1
Suara jeritan dan teriak terdengar dari Galih, korban pertama, Bondan yang menyaksikan, tubuh nya gemetaran.
“Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Aku tidak tahu, kalau Lucifer itu sangat kejam..” gumam Bondan, sempat melirik Lucifer yang duduk di tempat nya.
Orang pertama, Galih sudah selesai, saking merasa kesakitan nya, pria itu tidak sadarkan diri, sementara kedua mata dan lidah nya sudah di keluarkan. Narendra yang seperti kehausan darah, tersenyum puas, tangan nya
masih menggenggam tiga bagian tubuh anak buah nya itu.
“Haaahhh…. Bos, mau diapakan ini…?” tanya Narendra menggangkat apa yang di genggam nya.
“Buat jadi pajangan, agar siapa pun yang mau berbelok lagi, bisa tahu betapa sakit hukuman nya, jangan lupa dengan si Bondan itu, seperti
nya dia sudah tidak sabaran lagi.” tunjuk Lucifer pada Bondan, pria itu langsung ketakutan.
“Tenang saja tuan Lucifer, aku akan melenyapkan benih-benih yang rusak.” Ucap Narendra dengan senyum psikopat nya.
Narendra berjalan ke arah Bondan, pria itu berjalan mundur, Narendra semakin mendekat.
Lucifer turun dari kursi nya. Melihat pergerakan dari Lucifer, semua nya menatap pada nya, dengan perasaan was-was.
saja mati kalau tidak bisa bertahan. Jangan karena kalian lebih muda dari ku, kalian bisa mengalahkan ku? Sebelum kalian melakukan nya, akan aku lumpuhkan kalian.” Ucap nya, berdiri dengan kedua tangan di lipat di belakang nya.
Begitulah, walaupun sudah sering memperingati kelompok nya, masih saja ada yang menyimpang. Mereka masih ada yang berusaha melakukan sembunyi-sembunyi, dan selalu saja ketahuan.
*********
“Abram, kami mendapat informasi kalau bos dari Deadly Poison melakukan pertemuan.” Venam, dengan cepat memberitahukan Abraham, langsung ke kantor nya.
“Dan ternyata si Lucifer itu adalah…. Papa mu, ‘tuan Lucifer’.” Ucap Venam, sebenar nya dia ragu untuk memberitahukan nya.
“Apa? Papa ku? Apa kau ada bukti?” tanya Abraham, keluar dari kursi nya mendekati Venam. Adley pun ada di situ, ikut terkejut juga.
Venam mengeluarkan ponsel nya, dan memberikan pada Abraham.
“Gambar nya memang buram, tapi terlihat sekali itu adalah papa mu, apalagi di belakang nya ada tuan Aris dan Hendra juga.” Abraham
__ADS_1
melihat jelas gambar itu, memang buram, tapi apa yang di katakan Venam itu benar, sangat mirip dengan papa nya.
Adley dan Venam saling menatap, Venam mengangkat bahu nya.
Abraham terkejut, kembali ke kursi dan duduk dengan lemas.
Di ruangan itu tidak ada orang lain selain mereka bertiga.
“Tapi Bram, aku yakin kalau papa mu… atau Deadly Poison itu tidak terlibat dengan kasus pembunuhan ini, karena beberapa tahun kebelakang ini, tidak ada kejahatan yang tercatat tentang mereka. Aku juga bingung, kenapa ada embel-embel ‘mafia’ di kelompok mereka.” Adley mengutaran isi hati nya, dan
Venam ikut mendukung ucapan rekan nya.
“Kau mengatakan ini karena papa ku melindungi kalian, dan karena hutang budi kalian juga?” tanya Abraham.
“Tidak. Aku memang menghargai papa mu, tuan Lucifer, tapi aku hanya mengandalkan kepercayaan ku pada nya, dia orang yang baik. Memang, kejahatan harus di basmi, tidak perduli siapa dan apa hubungan nya….”
“Sebaik nya, mari kita bicara pada papa mu, tidak… maksud ku, kau saja, agar tuan Lucifer tidak sakit hati atau marah, papa mu kan sudah
tua, takut terkena serangan jantung.” Ucap Adley memotong ucapan Venam.
“Ppppfft… itu tidak mungkin..” tawa Venam.
“Papa memang terlihat kasar di luar, tapi sangat menyangi keluarga nya. Apa memang benar, ada rahasia nya yang sengaja di sembunyikan?
Apakah aku perlu memberitahukan ini pada Ina dan Shinta?” gumam Abraham, tangan nya bertumpu pada Dagu seraya berpikir.
*********
Arshinta, Satmaka dan Rakha sedang dalam perjalanan liburan taman buah di salah satu kota yang terletak di Indonesia, pagi-pagi sekali
mereka sengaja berangkat dan akan menginap di penginapan yang ada di sana.
Sebelum nya juga sudah meminta ijin pada Ina, kakak dan kedua orang tua nya, semua nya tidak ada yang melarang, kecuali papa nya, tuan Lucifer, dia keberatan kalau anak perempuan nya pergi dengan seorang pria yang belum terlalu di kenal. Tapi karena bujukan Rakha dan semua anggota keluarga nya, papa nya pun menyerah, dengan catatan, tidak boleh tidur dalam satu kamar apalagi satu tempat tidur. Arshinta dan Satmaka pun setuju.
Satmaka membawa mobil nya, sekaligus sebagai supir nya juga, Shinta juga sudah membuat bekal saat di rumah nya.
__ADS_1
Arshinta dan Ina, masih belum tahu tentang apa yang sedang di pikirkan kakak nya, Abraham.