
Ina melirik Arshinta dan Satmaka sambil tersenyum meledek.
“Apaan sih kak..” ucap Arshinta.
“Oh ya, hari ini papa kami sedang ulang tahun. Apa kau dan Rakha bisa datang? Sekalian bertemu dengan calon mertua…
“Kak Ina..ih…” Arshinta menyenggol bahu Ina.
“Ya kan bisa saja. Siapa tahu kan… kalian…
“Kak….??” Arshinta melirik Ina, agar kakak nya itu diam dan tidak melanjutkan kalimat nya.
“Hari ini ya…jam berapa acara nya?” tanya Satmaka mempertimbangkan ajakan Ina.
“Jam 7 malam ini sih. Kalau kau mau, aku akan memberikan alamat nya.” Jawab Ina dengan yakin.
“Kalau Arshinta nya tidak keberatan, aku dan Rakha akan datang.” Jawab Satmaka melihat Arshinta.
“Tentu saja kau bisa datang. Tidak ada larangan kok.” Arshinta dengan cepat menjawab nya.
“Oke, kami akan datang, sebaik nya aku dan Rakha pamit dulu, Rakha harus mandi juga karena ini sudah sore kan. Nanti alamat nya tolong di kirim, waktu itu kau sudah mencatat nomor ku kan?” tanya Satmaka.
“Iya udah. Nanti aku kirim ya….”
********
Abraham dan Adley berada dalam satu mobil yang sama. Mereka sedang mencari kado untuk papa nya yang ulang tahun.
“Bram, lihat wanita itu…” tunjuk Adley pada Abraham yang serius mengemudikan mobil nya.
Abraham pun melihat arahan.
“Siapa?” tanya nya sambil memicingkan mata agar bisa melihat dengan jelas.
“Itu loh, salah satu wanita yang di culik, si nomor 10.” Jawab nya dengan meledek.
“Nomor 10? Bellova?” tebak nya yang ternyata masih ingat dengan nama gadis itu.
“Bellova? Nama nya Bellova ya? Kok kamu tahu? Apa kalian sudah kenalan? Terus…..
“Diam Adley!... berisik tahu. Si Aditya yang kasih tahu aku kalau nama nya Bellova..” Abraham kesal dengan rangkaian pertanyaan dari Adley.
“Oooohhh….. tapi lihat, apa yang di lakukan nya? Sebaik nya hentikan dulu mobil nya.” Ucap nya yang masih fokus melihat wanita yang duduk di trotoar dengan wajah murung.
Kecepatan mobil berhenti perlahan. Hingga berhenti tepat di hadapan wanita itu.
Adley membuka kaca jendela, hendak bertanya pada nya.
“Nona…..Nona Bellova….!” Panggil Adley.
Wanita itu melihat arah suara yang memanggil nama nya.
__ADS_1
“Apa yang anda lakukan di sini?” tanya Adley.
Bellova tidak menjawab nya.
Di rasa tidak ada jawaban, Adley pun keluar dari mobil dan menghampiri Bellova.
“Bram, kamu juga ikut dong….. gimana sih…” ajak Adley, kesal melihat Abraham yang santai nya duduk sambil melihat.
Sedikit tidak semangat, Abraham akhir nya turun. Menyusul Adley yang sudah lebih dulu menghampiri Bellova.
“Love…. Kamu ngapain di sini?” tanya Adley memanggil dengan nama pendek.
“Pppfftthh…..Love….” Abraham yang berusaha menahan tawa karena mendengar Adley memanggil dengan nama itu.
“Pak Adley, pak Abraham….” Wanita itu mengangkat wajah dan melihat kedua pria yang masih berdiri di hadapan nya.
“Kok kamu tahu nama kami? Apa kita sudah kenalan ya?” Adley merasa aneh, karena jarang ada yang tahu dengan nama nya.
“Pak dokter Aditya yang memberitahukan pada ku.”
“Ooohhh…” Adley menganggukkan kepala nya.
“Oh ya…. Apa yang kau lakukan di sini sendirian? Kau tidak pulang?” tanya nya lagi kembali pada topik utama.
“Saya tidak bisa pulang pak……
“Kenapa?” tanya Abraham ketus.
“Karena……karena saya tidak ada ongkos, dan…. Dan saya tidak tahu cara nya pulang, saya juga malu kalau pulang dengan keadaan seperti ini.” Jawaban dari Bellova ragu.
“Malu? Kenapa harus malu? Kan kamu pulang nya tidak dalam keadaan telanjang kan? Jadi kenapa…..
“Sssstthh…” Adley menyenggol lengan Abraham agar diam.
“Apaan sih?”
“Kau yang apaan Bram, kenapa kau harus bertanya seperti itu..” bisik Adley tidak suka dengan kecuekan dari Abraham.
Bellova diam, wajah nya menunduk, kedua telapak tangan nya menggulung ujung pakaian.
“Lalu….. kalau kau tidak pulang, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Adley setelah menghela nafas.
Bellova mengangkat wajah nya, melihat Adley dan Abraham lagi.
“Saya…. Saya ingin bekerja…. Tapi saya tidak tahu harus bekerja di mana…” jawab Bellova.
“Kamu lulusan apa?” tanya Adley lagi.
“Saya…saya cuma lulusan SD pak Adley..” dengan ragu, wanita itu menjawab jujur.
“SD ya…. Susah juga sih…. Mungkin ada nya pekerjaan kasar… maaf ya… bukan maksud ku…
__ADS_1
“Tidak apa-apa pak, saya bisa mengerjakan apa saja, yang penting halal. Waktu di kampung saya pernah kok bekerja sebagai kuli bangunan….” Ucap Bellova berharap mendapatkan pekerjaan.
“Whhaaattttt??? Kuli bangunan??? Kamu kan perempuan….” Adley yang terkejut mendengar pernyataan Bellova.
“Walaupun saya perempuan, saya kuat kok pak. Saya juga bisa kok gendong pak Adley, tapi dari belakang…”
“Pppffftthhh….” Adley menahan tawa mendengar celoteh gadis itu.
Bellova, dengan wajah polos nya berharap akan mendapatkan pekerjaan.
“Saya anak pertama dari 5 bersaudara, Ayah, Ibu dan ke empat adik saya tinggal di kampung. Saya….saya… sengaja..datang ke sini…. Untuk bekerja…. Dan bisa kirim…. Uang untuk mereka…” Bellova bercerita dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Adley semakin bingung.
Abraham berdiri dengan santai.
Adley melihat Abraham.
“Ehheemm…. Bagaimana kalau dia bekerja di rumah mu Bram?” tanya Adley.
“Apa? Di rumah ku? Kenapa harus di rumah ku? Kenapa tidak di rumah mu saja?” tanya Abraham yang terkejut dengan pendapat dari Adley.
“Ya ampun Bram… aku kan cuma tanya, kenapa kau malah balik tanya dengan banyak pertanyaan lagi….”
“Lagi pula aku tidak bisa membawa nya bekerja di rumah ku, karena pacar ku akan curiga dan cemburu. Nah…. Kalau kau kan masih single, jadi tidak akan ada yang cemburu kalau ada perempuan di rumah mu..” ledek nya dengan menaikkan salah satu alis nya.
“Pak Abraham masih single? Jomblo?” tanya Bellova dengan tersenyum.
Dia senang mendengar kalau Abraham masih sendiri.
Adley dan Abraham melihat serentak pada Bellova, wajah nya berubah cerah secara tiba-tiba.
“Iya, memang nya apa hubungan nya dengan mu?” tanya Abraham ketus lagi.
“Tentu saja ada hubungan nya Bram. Seperti yang aku katakan tadi kan, tidak akan ada yang marah.”
Ucap Adley tersenyum penuh arti.
Abraham diam.
Di lihat nya Bellova dan Adley bergantian yang menunggu keputusan nya.
“Nanti saja aku pikirkan, sekarang kita cari kado dulu untuk papa ku…..
“Kalau begitu apa saya bisa ikut pak?” tanya Bellova penuh harap.
“Hah???” Adley dan Abraham membuka mulut, tercengang dengan pertanyaan Bellova.
“Kan aku bilang kalau aku akan memikirkan nya dulu, bukan berarti kau bisa langsung ikut dengan kami…
“Kata anda kan ‘kita’, maka nya saya pikir kalau itu termasuk saya juga..” ucap Bellova kembali murung.
__ADS_1