
Lucifer bisa melihat ketakutan Bossa, apalagi saat melihat banyaknya anak buah Lucifer.
Lucifer berdiri, melihat salah satu anak buahnya.
“Lepaskan ikatan tangannya, aku ingin membiarkan Bossa bertarung melawanku,” ucapnya sembari melihat Bossa.
Anak buahnya pun segera bertindak.
“Apa kau ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat di Singapura Bossa? Kau menculik anak-anakku.”
Bossa mengingat kejadian yang di maksud Lucifer.
“Rasanya aku ingin langsung mengejar dan mencincangmu hidup-hidup, tapi kau masih beruntung bisa
kabur, dan aku membiarkannya, karena aku masih ingin bermain denganmu pada saat itu, ternyata aku menunggunya sangat lama ya, dan kita bertemu di Indonesia. Sepertinya takdir kematian mu tetap ada di tanganku. Ckckckckck… menurutmu, apa ini tidak lucu?”
Ikatan tangan Bossa sudah di lepaskan, dia berusaha untuk berdiri, tapi terjatuh, hingga mencoba beberapa kali.
“Berdiri saja kau tidak mampu, tapi berani melakukan kejahatan sadis. Oh ya, aku dengar kau memiliki ilmu magis ya? coba tunjukkan! Aku ingin melihatnya.” Sindir Lucifer tersenyum sinis.
__ADS_1
Bossa menyentuh kaki pincangnya, dari paha hingga telapak tangannya, beberapa kali di pijit, seperti membenarkan susunan tulang di dalam kakinya itu, dan Lucifer masih tetap membiarkannya, hanya mengamati.
Bossa melihat Rock yang masih belum sadar.
“Dasar bodoh! badannya dan omongannya saja yang besar.” Caci Bossa dalam hati.
**********
Bellova sudah selesai di obati, perbannya juga sudah diganti. Dan sekarang Abraham masih setia menjaga dan menunggu di sampingnya.
“Sudah selesai. Kau juga terluka, sebaiknya kau-
“Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri. Kau urus saja dulu Arshinta dan Satmaka, mereka yang terluka.” Abraham menolak untuk diobati.
“Baik… Baik, aku akan pergi, jangan melototiku seperti itu. Sensi banget sih kalau di singgung saudarinya. Aku keluar dan periksa pasien lain.” Aditya membereskan peralatan medisnya dan meninggalkan Abraham dan Bellova yang saling menatap.
“Maafkan aku ya, karena ku, kau jadi terluka dua kali seperti ini.” Abraham mengusap atas telapak tangan Bellova.
“Jangan katakan seperti itu. Ini sudah menjadi resiko untukku karena mencin… menikah denganmu.” Balas Bellova tersenyum.
__ADS_1
Abraham ikutan tersenyum.
“Aku haus, apa aku bisa minum?” pinta Bellova.
“Oh, sebentar ya. Aku… aku…” Abraham tidak melihat ada air minum di ruangan itu.
“Aku akan keluar sebentar untuk mengambil air minumnya ya. Kau bisa menunggu kan? Aku akan datang dengan cepat.” Abraham berdiri, dan Bellova menganggukkan kepalanya.
Abraham pun keluar untuk mengambil air minum, meninggalkan Bellova sendirian.
“Terima kasih Abram. Terima kasih karena kau ada bersamaku saat penembakan itu terjadi. Terima kasih
karena kau sudah beberapa kali menyelamatkanku. Bagaimana aku tidak jautuh cinta denganmu? Tidak apa-apa, asal kau menemaniku saja aku sudah senang, meski terasa sakit kalau kau mengabaikan perasaan cintaku padamu.”lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Klik….
Pintu terbuka karena ada yang masuk.
“Cepat ju-
__ADS_1
Bellova berhenti bicara saat melihat yang masuk kedalam ruangannya bukan Abraham, melainkan seorang wanita. Wanita yang pernah bertemu dengannya beberapa saat itu. Wanita yang di yakini Bellova memiliki perasaan pada suaminya, Abraham.
“Ternyata kau masih hidup ya… benalu?” ucap Angel, dia berjalan mendekati Bellova. Angel memakai selendang untuk menutupi kepala dan kacamata hitam, sebelumnya memakai masker dan kemudian di lepas. Dia sengaja untuk menunjukkan siapa dirinya pada Bellova.