
“Mereka sudah turun, apa itu adalah anak buah Lucifer?” salah satu anak buah Bossa melihat Aris dan Hendra.
Delapan orang keluar dari dua mobil, sementara dua orang lagi sebagai supir tetap berada did alam mobil untuk melihat keadaan.
“Ris, menurut mu berapa yang harus kita biarkan hidup?” tanya Hendra pada Aris yang sudah berdiri di samping nya.
“Cukup satu saja, kau lihat kan dua mobil itu masih ada masing-masing satu orang di dalam? Harus ada salah satu nya yang hidup.” Tunjuk Aris.
“Apa yang mereka bicarakan? Kenapa menunjuk seperti itu?”
“Hati-hati, aku dengar anak buah Lucifer sangat hebat.”
“Benar, apalagi dua orang itu adalah anak buah nya yang paling kuat.”
“Bagaimana ini?”
“Apa nya yang bagaimana? Kita mau tidak mau harus melawan mereka.”
Begitulah bisikan dan obrolan kecil mereka sebelum menghadapi Aris dan Hendra.
“Kau lihat mereka Ris, seperti nya mereka sangat takut.” Bisik Hendra.
“Jangan banyak bicara, ayo cepat kita selesaikan ini, tuan Lucifer tidak bisa menunggu lama.” Aris bergerak lebih dulu.
Karena Aris yang maju lebih dulu, mau tidak mau anak buah Bossa harus menghadapi nya. Perkelahian tidak bisa di elakkan lagi, dua melawan delapan orang yang sebenar nya sudah ketakutan.
__ADS_1
Bagh…Buukhh…Plak…Tak..
Pukulan dan tendangan yang di berikan Aris dan Hendra.
Seperti harimau yang bebas karena sudah lama di dalam kandang, mereka sangat bersemangat sekali.
“Hahahahaha… Cuma segini kemampuan kalian hah?” tantang Hendra dengan mempersiapkan tinju nya.
“Jangan sombong Hend.” Ucap Aris yang berdiri di samping nya.
“Bos ku menyuruh kami untuk melepas satu orang saja di antara kalian semua, menurut kalian, siapa yang harus di lepaskan?” teriak Hendra, lawan nya saling menatap karena mereka ingin di lepaskan.
Aris dan Hendra tidak terluka sedikit pun, walaupun rambut dan kemeja nya sudah basah karena keringat dan napas memburu, tidak membuat nya kelelahan, justru sangat bersemangat sekali. Sementara lawan nya sudah hampir menyerah, mereka memegang dada, tangan dan kaki yang sudah terluka.
Srek…srek..
“Hendra, awas!!” teriak Aris.
Dor…Dor…
Untung saja Aris mendorong tubuh Hendra, sehingga dia tidak terkena tembakan.
Setelah pria yang bersembunyi untuk menembak, segera melarikan diri.
“Jangan di kejar! Biarkan dia lari, dia pasti akan melapor.” Suruh Lucifer yang mendadak keluar dari mobil karena melihat Aris yang ingin mengejar.
__ADS_1
Perkelahian di menangkan dari tim Lucifer, lawan nya sudah tidak berdaya.
“Apa? Jadi dia adalah si ‘Lucifer’ itu?”
“Aura nya sangat tajam dan menusuk, aku tidak bisa bernapas.”
“Wajah nya sangat membebaniku, aku tidak berani menatap nya.”
Ucapan-ucapan anak buah Bossa yang melihat Lucifer datang dan berdiri di hadapan mereka.
“Tuan, apa yang akan kita lakukan?” tanya Aris.
“Apa lagi, kita harus membunuh mereka sampai mati, kita bakar atau mutilasi saja tuan?” tanya Hendra memberi ide.
“Tuan, saya bawa gergaji, kapak, dan pedang di bagasi. Anda mau menggunakan yang mana?” tanya Aris dengan suara lantang nya.
Lawan nya yang mendengar menjadi gemetaran.
“Jangan… tolong jangan bunuh kami, kami hanya di paksa saja. Tolong…” pinta salah satu dari mereka dengan menangis.
“Benar bos Lucifer, kami diancam akan di bunuh kalau tidak bekerja dengan Bossa.”
“Bos? Siapa bos mu? Ngaco banget kalau bicara ya. Tuan, pertama-tama saya potong saja lidah mereka.” Hendra yang tidak suka orang lain sok akrab dengan ‘tuan nya’.
“Jangan bos..jangan..”
__ADS_1
Delapan orang yang tidak berdaya menangis bersamaan seperti anak kecil yang takut permen nya diambil. Aris dan Hendra menunggu perintah dari Lucifer, dua supir yang ada di dalam mobil juga ikut ketakutan. Lucifer hanya
diam sambil berpikir tindakan selanjut nya.