
“Aku akan melakukan ini kalau kalian melakukan kesalahan lagi, terutama kau! Audrey. Jangan coba kalian menentangku, kalau tidak kalian akan mati mengenaskan seperti mereka.” Bossa memberikan peringatan pada mereka.
“Baik bos.” Jawab mereka semua serentak.
“Felix, ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan pada mu.” Perintah Bossa.
“Baik bos.” Felix mengikuti Bossa dari belakang.
Setelah Bossa meninggalkan tempat perkumpulan, semua anak buah nya baru bisa bernapas lega. Tedengar jelas helaan napas, apalagi Audrey, beberapa kali tatapan tajam dari Bossa selalu tertuju pada nya.
“Mengerikan… benar-benar mengerikan sekali dia. Aku sangat takut sekali.”
“Iya, aku pikir itu hanya rumor, tapi ternyata aku bisa langsung melihat nya dengan jelas.”
Itulah komentar dari anak buah yang di tinggalkan nya.
**********
Di dalam ruangan Bossa.
“Ada apa bos?” tanya Felix berdiri di belakang Bossa.
Bossa berbalik menghadap nya.
“Felix, habisi Audrey!” perintah nya pada Felix.
Felix terkejut.
“Apa..apa bos yakin? Bukan kah dia adalah…
Felix berhenti melanjutkan omongan nya karena mendapat tatapan tajam dari Bossa.
“Apa kau mau menggantikan nya?” suara Bossa yang penuh dengan penekanan.
“Ti…tidak..bos..” suara Felix yang gemetaran.
“Anak buah kita sudah di tangkap polisi bre****k itu\, dan itu semua karena wanita ja**ng itu. ‘hilangkan’ dia tanpa jejak.” Ucap nya lagi.
“Baik bos, saya mengerti dan akan saya kerjakan.” Jawab Felix setelah mengerti.
“Bahkan orang yang sudah mengabdi dengan nya begitu lama pun, bisa di lenyapkan begitu saja tanpa ragu.” Ucap Felix dalam hati.
“Kasihan sekali wanita tua itu. Tapi, ya mau bagaimana lagi, dari pada aku yang menggantikan nya, lebih baik aku kerjakan saja.” Gumam nya lagi.
Bossa memang mengerikan, dia suka meminum dan memakan bagian tubuh manusia, karena dia mengikuti ajaran sesat, sehingga dia memiliki kekuasaan dan kekuatan, maka nya banyak yang takut pada nya. Dari pada mengusik Bossa, lebih hidup tenang dan menghindar dari nya.
**********
Dua hari kemudian adalah acara pernikahan Bellova dan laki-laki yang akan menjadi suami nya. Satu hari sebelum nya Bellova sudah mengundang nya lewat pesan atau panggilan telepon, tapi sama seperti jawaban sebelum nya, Abraham menolak dengan alasan pekerjaan.
__ADS_1
Dan hari ini pun, Abraham sangat sibuk karena satu persatu kasus Shadow akan terungkap. Apalagi beberapa anak buah nya juga sudah di tangkap.
“Pak Abraham, maaf mengganggu, ini makan siang anda.” Monik memberikan makan siang untuk Abraham, karena ternyata Abraham menyukai masakan Monika, dan karena itu juga, banyak rekan-rekan nya yang ikut memesan makanan dari Monik, selain rasa nya yang enak dan bersih, harga nya juga bisa terjangkau.
Hanya Adley yang belum pernah mencoba makanan itu, mungkin karena masih gengsi. Apalagi hubungan Ridwan dan Monik semakin lama semakin dekat.
“Pak Abraham, hari ini hari pernikahan nona Bellova kan?” tanya Adley.
Abraham yang sedang membuka makan siang yang di antar Monik, hanya menganggukkan kepala.
“Kalau saya jadi anda, saya akan datang kesana.” Ucap Adley lagi.
“Ya udah kamu datang saja kesana. Gampang kan?” balas Abraham ingin memulai makan.
Baru saja ingin menyendokkan makanan kedalam mulutnya, ponsel di atas meja bergetar.
“Pak Abraham, ada panggilan dari Bellova tuh.” Ridwan yang duduk makan tidak jauh dari nya melihat nama si pemanggil.
Abraham meletakkan sendok yang sudah terangkat tadi.
“Hallo.. ada apa Bell…
“Hhiikksss…hhiikkss…hhikkss…”
“Kamu kenapa? Ini kamu kan Lova?” Abraham heran kenapa yang di dengar nya suara tangisan.
“Kamu kenapa menangis? Apa kamu sedih karena aku tidak datang ke pesta mu?” tebak Abraham.
Adley dan Ridwan penasaran juga apa yang sedang terjadi dengan wanita itu. Tapi mereka hanya bisa mendengar nya saja dulu.
“Saya….saya…ti…tidak…mau..me..menikah…paaakkkk…..” jawab Bellova masih menangis sesunggukkan.
“Saya…saya..mau…kembali…sama….sama..bapak… saya mau…ke Jakarta saja…” pinta nya berharap.
“Sebenar nya ada apa? Apa yang terjadi? Ini kan hari pernikahan mu, kenapa malah menangis dan tidak mau menikah? Ada apa?” tanya Abraham yang banyak dengan suara yang pelan seperti membujuk anak kecil agar
bisa berbicara dengan tenang.
Bellova belum menjawab, dia masih menangis, dan Abraham juga membiarkan wanita itu menangis dulu. Abraham melirik teman-teman nya yang berhenti makan karena khawatir kejadian nya, apalagi mereka juga sempat bertemu
dengan Bellova.
Perlahan-lahan suara tangisan wanita itu hilang, dan napas nya juga sudah mulai membaik.
“Udah selesai nangis nya? Apa masih mau menangis lagi? biar aku tunggu.” Tanya Abraham sebenar nya ingin menghibur.
Wanita itu malah menangis lagi, Abraham jadi merasa bersalah.
“Aduh, nangis nya masih bersambung.” Batin Abraham.
__ADS_1
“Saya, tidak mau menikah dengan nya pak… dia.. orang itu jahat pak, saya tidak mau..” Bellova sudah mulai berbicara.
“Kenapa?”
“Dia orang jahat di kampung saya pak, pernah memperkosa, berjudi dan memukul perempuan. Saya… saya takut menikah dengan nya. Apalagi dia juga sudah punya tiga isteri.” Jawab Bellova.
“Ya sudah kalau begitu kamu tidak usah menikah dengan nya.” Jawab singkat dari nya.
“Tidak bisa pak, mama saya… mama saya punya hutang pada nya.” Jawab Bellova berbisik, seperti takut kalau suara nya ada yang mendengar.
“Berapa?”
“Sebenar nya… sebenar nya hanya 5 juta, tapi… tapi saya harus membayar nya 100 juta karena kumpulan bunga nya juga, hhikkss…hhikkss…” jawab Bellova menangis kembali.
“Apa? Memang nya sudah berapa lama hutang nya?” Abraham pun terkejut.
“Dua bulan pak, dan saya juga baru tahu hari ini, karena mama saya..
Bbrruugghh..
“Hey nona, sudah waktu nya pernikahan kalian. Ayo cepat ikut kami.” Dari pihak calon suami Bellova menendang pintu kamar Bellova dengan keras sehingga hancur dan rusak.
“Tidak mau! Saya tidak akan menikah dengan orang jahat itu.” teriak Bellova bertahan.
“Dasar…tidak tahu malu, kalau kau tidak mau menikah dengan anak saya, bayar hutang-hutang kalian itu.” teriak nya.
Plak…
Si ibu calon suami menampar wajah Bellova dengan keras.
“Ayo cepat… jangan mengulur waktu.” Mereka menarik tangan Bellova untuk keluar.
“Hallo, Lova?”
“Pak..pak.. tolong saya, saya tidak mau menikah dengan orang jahat ini..” teriak Bellova dalam panggilan telepon yang belum berakhir.
“Begini saja, berikan ponsel nya pada mereka, biar aku yang akan berbicara pada nya.” Ucap Abraham.
Bellova mengerti.
“Lepaskan… ada yang ingin berbicara dengan kalian. Cepat lepaskan.” Teriak Bellova, menarik tangan nya.
Tanpa berpikir, mereka menerima ponsel itu dan bebicara pada Abraham, mereka tidak tahu awal nya siapa Abraham.
“Hallo!!!” si bapak calon suami yang menerima telepon dan menjawab dengan keras.
“Bang**t!!! jangan berteriak!!” teriak Abraham di seberang sana.
Dari dulu Abraham paling tidak suka ada yang berbicara dengan suara keras pada nya, walaupun itu Bellova.
__ADS_1