
Ina tidak mau mengalah, malah dia nekad memajukan mobil nya.
Lawan nya pun dengan kesal dan marah membiarkan Ina yang menang.
Ina merasa puas karena bisa menang.
Di belakang nya lawan nya juga sudah parkir sedikit jauh.
Si pemilik mobil yang tidak mau mengalah dengan Ina turun dengan segera.
Langsung mendatangi si pemilik mobil.
Baru saja Ina turun dan mengunci mobil.
“Hey…. Apa anda tidak ada kesopanan ya?” tanya Satmaka yang berebutan parkiran dengan Ina.
Ina melihat pria itu.
“Kenapa anda melihat ku seperti itu?” tanya Satmaka yang masih kesal.
“Sebenar nya kan anda yang tidak mau mengalah. Karena saya yang lebih dulu.” Jawab Ina dengan tegas.
“Tapi….
“Sudah lah tuan… kita sudah sama-sama bisa parkirkan, jadi tidak usah di debatkan lagi.” Ina mengabaikan dengan berjalan menuju toko kue.
Satmaka diam berusaha bersabar.
“Shinta, kamu di mana sekarang? Sudah selesai ngajar belum sih?” tanya Ina dalam panggilan telepon.
“Belum nih kak, masih banyak urusan.” Jawab dari seberang telepon.
“Shinta?” gumam Satmaka mendengar nama yang di sebutkan Ina.
“Kakak udah di toko kue dekat taman. Kakak boleh ke tempat mu ya, sekalian menjemput mu pulang.” Pinta Ina sambil sedikit berjalan.
“Oh, oke deh. Beli nya agak banyak ya kak, sekalian beli minuman chat***e dua cup besar rasa vanilla dan latte. Toko nya ada di sebelah nya kok.” Pinta Arshinta.
“Oke, udah ya kakak tutup sekarang.” Ina menutup panggilan dan menyimpan ponsel dalam tas kecil nya.
“Permisi sebentar….” Panggil Satmaka yang masih mengikuti nya dari belakang.
Ina mendengar dan berbalik melihat ke belakang.
“Ada apa?” tanya Ina yang sedikit kesal karena masih di ikuti.
“Tadi kalau tidak salah dengar saya mendengar anda menyebutkan nama Shinta? Apakah itu Arshinta?” tanya Satmaka menebak.
Ina mengernyitkan dahi nya.
“Maaf? Maksud nya bagaimana?” tanya Ina merasa curiga.
“Begini, saya punya teman, nama nya Arshinta juga, kata nya dia seorang guru TK di dekat sini, apa mungkin anda juga kenal dengan nya.” Jawab Satmaka dengan serius melihat Ina.
Ina melihat Satmaka dari bawah sampai ke atas, membuat pria itu merasa risih.
“Kenapa aku seperti pernah bertemu dengan orang ini ya?” gumam Ina.
“Aku memang punya adik, nama nya Arshinta dan guru Tk juga. Memang anda siapa nya? Pacar nya atau……
“Bukan, saya hanya kenalan nya saja….
“Kenalan? Aduh… jadi bingung nih. Sekalian jalan ke toko kue itu ya, aku mau beli kue.” Ajak Ina.
__ADS_1
Satmaka menganggukkan kepala, dia setuju.
*******
Di dalam kelas terakhir yang akan di datangi Arshinta dan Ruly. Guru dan murid belum tahu tentang rencana Arshinta dan Ruly yang sudah di lakukan di kelas-kelas lain nya.
“Siapa yang nama nya Fredy?” tanya guru Samy memegang buku yang bertuliskan nama Fredy, murid yang ada di situ.
“Sa….saya pak.” Fredy mengangkat tangan nya dengan gugup.
“Kau tahu kan kalau saya menyuruh sampul buku berwarna biru tua?” tanya samy.
“Ta….tahu pak…..” jawab Fredy.
“Lalu kenapa ini kau sampul dengan warna hijau?” tanya Samy dengan suara keras.
Dia tidak sadar kalau Arshinta dan Ruly sedang berjalan menuju nya. Dan tentu saja mereka mendengar suara teriakan itu.
“Sa….saya……
“Ambil ini!!!!” pak guru Samy melempar buku itu ke lantai.
Semua murid-murid ketakutan karena guru yang galak itu.
Fredy berjalan mengambil buku yang sudah di lempar guru itu.
PPRROOKK…PPRROOOKKK…PPPRROOOOKKKKKK……
Terdengar suara tepuk tangan dari luar menuju kelas nya.
Semua melihat siapa yang datang dan berani bertepuk tangan.
“Wah….wah…wah….. hebat ya….” Ternyata tepukan itu berasal dari Arshinta yang mendengar teriakan samy.
“Hhhhmmmm…. Boleh tidak sih aku keluarin usus besar dan satu ginjal orang ini? Toh belum mati kan?” gumam Arshinta menahan amarah.
“Bu…a….ada..apa…bu?” tanya nya panik.
“Aku dengar ada teriakan. Aku pikir siapa yang berteriak, ternyata pak guru Samy ya.” Jawab Arshinta.
“Itu…..
“Ini kenapa?” tanya Arshinta melihat Fredy akan mengambil buku di lantai.
“Kenapa buku mu ada di lantai?” tanya Arshinta pada murid itu.
“Itu….itu karena….
“Terjatuh tadi bu, pada saat mengumpulkan tugas.” Jawab Samy memotong jawaban dari Fredy.
“Sekarang aku ingin menjahit mulut nya.” Gumam Arshinta melihat Samy dengan menahan emosi.
“Fredy… aku bertanya pada mu, kenapa tidak di jawab?” tanya Arshinta yang tahu nama murid itu dari plate name di baju nya.
“Itu…karena saya…saya salah bikin sampul buku bu.” Jawab nya gugup.
“Salah nya di mana?” tanya Arshinta.
“Ha….harus nya berwarna biru tua, tapi saya membuat nya dengan warna hijau……
“Jadi karena alasan itu buku mu di lempar ke lantai?” tanya Arshinta.
“Bukan begitu bu, tapi…
__ADS_1
BBBRRRRAAAAAGGGGHHHH……
Emosi Arshinta memukul meja dengan keras. Meja salah satu murid yang duduk di barisan depan.
Semua murid terkejut termasuk dengan Samy. Ruly mengusap dada nya.
Shinta memukul meja itu karena dari tadi Samy yang menjawab pertanyaan yang di berikan pada Fredy.
Suasana diam.
“Kenapa kau membuat nya dengan warna hijau?” tanya Arshinta pelan.
Fredy yang panik dan takut.
“Itu….itu karena…karena saya tidak bisa membedakan warna…warna hijau dan biru bu… apa lagi membedakan antara warna tua dan warna muda.” Jawab Fredy gugup.
Tidak ada pembicaraan lagi.
“Fredy, aku juga tidak bisa membedakan warna antara hijau dan biru, tapi aku selalu membuat perbedaan dengan membandingkan antara warna langit dan rumput.” Jawab Arshinta.
Fredy mengangkat wajah nya, tidak di sangka kalau pemilik sekolah itu juga memiliki kesulitan yang sama dengan nya.
“Bagaimana bu?” tanya nya penasaran.
Arshinta tersenyum.
“Rumput warna nya apa?” tanya Arshinta.
“Hijau?” jawab Fredy yakin.
“Lalu langit?” tanya nya lagi.
“Biru?” jawab Fredy.
Arshinta lalu tersenyum.
“Jadi, aku selalu ingat dalam pikiran ku, langit biru dan rumput hijau. Pasti kau pernah melihat rumput dan langit kan?” tanya Arshinta.
Fredy menganggukkan kepala nya.
“Saya sekarang sudah mengerti bu. Saya bisa sekarang membedakan nya.” Jawab Fredy senang.
“Mau warna nya tua dan muda, pasti ada perbedaan nya. Jadi kau harus ingat dan bedakan warna itu.” ucap Shinta.
“Iya bu, terimakasih bu.” Jawab Fredy.
“Dia sangat bijak, walaupun…. Gampang emosi..” gumam Ruly yang menyaksikan adegan itu.
“Baiklah….. aku datang kesini dengan suatu tujuan. Ruly….bagikan kertas nya.” Suruh nya pada Ruly.
Ruli segera membagikan kertas kosong pada setiap murid.
“Ini adalah kelas terakhir yang akan saya kumpulkan suara nya. Kalian tuliskan nama-nama guru-guru yang bekerja tidak seperti guru sebenar nya. Tidak usah tulis nama dan kelas kalian dan jangan takut. Aku sedang ingin ‘membuang’ guru-guru premanisme.” Ucap Arshinta tegas.
“Aku tunggu selama 5 menit, nanti kertas nya akan di kumpulkan.” Ucap Arshinta.
Semua murid dengan semangat langsung segera menulis, seakan memang sudah tahu nama-nama yang harus di catat.
.
.
.
__ADS_1
Sedikit curhat... aku termasuk salah satu yang susah membedakan warna Hijau dan biru, dan aku juga pernah mengalami kejadian seperti Fredy, maka nya aku sering menghindari warna hijau dan biru.