
“Kenapa seperti banyak suara? Aku ada di mana? Aku tidak bisa membuka mata, rasanya berat.” Ucap Bellova dalam hati.
Bellova tidak bisa membuka mata, hanya kelopak matanya saja yang bergerak-gerak. Jempol jari tangan di gerakkan.
“Nona Ina, pasien nya sudah sadar, lihat jarinya.” Sakya yang melihat lebih dulu.
Ina langsung melihat jari tangan Bellova yang memang melakukan pergerakkan.
“Cepat panggilkan Aditya!” perintahnya pada Sakya.
Sakya pun segera keluar untuk memanggil Aditya, meninggalkan Ina, yang langsung mendekati Bellova.
“Bella! Kamu sudah sadar?” tanyanya mengusap kening Bellova dengan pelan.
Wanita itu tidak menjawab, matanya juga masih tertutup. Terlihat sekali dia berusaha untuk membuka matanya.
“Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu bisa dengar suaraku kan? Aku Ina.” Ucapnya sabar, dan Bellova memberi jawaban dengan menggerakkan kelopak matanya lagi.
Klik..
Aditya dan Sakya baru saja memasuki ruangan.
__ADS_1
“Apa dia sudah sadar?”
“Dia sudah mulai memberikan tanda-tanda, tapi matanya tidak terbuka.” Sahut Ina memberi ruang agar Aditya bisa memeriksa keadaan Bellova.
Sakya pun sudah berdiri di samping Ina, dan ikut menyaksikan Aditya melakukan tugasnya.
“Tidak apa-apa. Perlahan dia bisa membuka matanya, jangan khawatir.” Aditya melepas stetoskop yang ada di telinga.
Ina merasa lega, “ Kalau begitu aku akan memberitahukan Abraham, karena dia yang paling khawatir padanya.”
Aditya menganggukkan kepala, sepakat dengan Ina.
“Aku akan keluar dulu, karena masih ada pasien.” Pamitnya mengusap bahu Ina yang sedang mencari nomor ponsel Abraham. Ina membalas senyum dan menganggukkan kepalanya juga.
Di tempat lain Arshinta dan Satmaka juga mengalami ancaman. Memang tidak sampai mereka, hanya saja seperti terror yang menakuti mereka bertiga.
“Jangan terpancing Shinta, kita abaikan saja mereka. Perasaanku tidak enak, sebaiknya kita temui Papamu.” Ajak Satmaka, dia tahu apa yang ada dalam pikiran Arshinta. Wajahnya terlihat emosi, rasanya dia ingin turun dari mobil dan memberi pelajaran pada mereka, tapi karena Satmaka yang lebih pintar dalam menahan emosi, dia menenangkan Arshinta.
Karena merasa di abaikan, pihak lawan mengikuti mobil Arshinta dari belakang, kecepatan mobil pun di tambah, mereka juga melakukan hal yang sama.
Pihak lawan menembakkan peluru, tidak mengenai mobil Arshinta, sengaja mereka lakukan untuk membuat Arshinta ketakutan dan panik.
__ADS_1
“Ya ampun Sat, aku layani saja dulu mereka ya, bikin aku gregetan banget. Lihat tuh mereka nya nantangin loh.” Gerutu Arshinta, yang duduk di samping Satmaka, sembari memangku Rakha.
Satmaka melihat Arshinta, wajahnya sudah memerah karena menahan emosi.
“Shinta, jangan. Biarkan saja-
“Tapi..
Dor… dor…
Terdengar suara tembakan yang di arahkan keatas.
“Tuh, lihat kan?”
“Itu karena mereka sengaja, biarkan saja, pasti mereka juga ada banyak, lihat barisan mobil di belakangnya.” Tunjuk Satmaka melalui kaca jendela mobilnya.
Dan memang benar, ada beberapa mobil di belakang mobil mereka. Dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitam, mereka mengeluarkan senjata pistol mengarah ke atas. Tidak perduli dengan ketakutan dari beberapa kendaraan lain di sana.
“Sehebat apapun kamu, pasti nanti kalah-
“Kamu remehin aku?” lirik Arshinta.
__ADS_1
“Bukan, aku tidak meremehkan mu, justru aku salut dan bangga sama kamu yang hebat ini. Tapi kalau Papa kamu tahu, yang akan dimarahi lebih dulu kan aku.” Jawab Satmaka.
“Ih… Mama Shinta dan Papa kenapa beyantem sih? Akha kan makin takut loh.” Celetuk Rakha dalam dekapan Arshinta.