
Hari ini adalah orang tua dan adik-adik Bellova akan kembali ke desanya.
“Kakak, Dino masi bisa datang kesini kan?” tanya Dino pada kakaknya yang sebenarnya tidak mau kembali ke desanya lagi.
“Iya, kan Ayah dan Ibu sudah janji, kalau kalian akan tinggal di Jakarta, tapi kalian harus lulus ujian ya, jangan sampai tidak naik kelas, hukumannya kalian tidak bisa tinggal di sini.” Bellova memperingati adiknya, agar bisa lebih giat lagi belajar.
“Iya kak.” Jawab adiknya mengacungkan jempol tangannya dengan riang.
“Bell, Ayah dan Ibu pulang dulu ya, kamu jaga kesehatan dan harus nurut apa kata suami.” Pesan Ayah
melirik Abraham yang berdiri di samping Bellova.
“Iya Ayah, jangan khawatir denganku.” Balas Bellova mencium tangan bagian belakang telapak Ayahnya.
Setelah orang tua dan adiknya berpamitan dan mempersiapkan semua yang mereka bawa kembali.
“Apa kamu yang akan mengantar mereka sampai ke sana?” tanya Adam pada Abraham.
__ADS_1
“Iya Pa, Bellova juga akan ikut.” Liriknya pada Lova yang memberi anggukkan kepala.
“Hati-hati di jalan.” Pesan Papanya.
“Pak Adam dan Bu Eva, kami permisi pulang dulu. Terima kasih sudah menerima dan membantu kami. Kami
akan titipkan puteri kami pada anda.” Ucap Ayah Bellova dengan tulus.
“Jangan khawatir dengan Love, sekarang kan dia sudah menjadi bagian dari kami, dan berarti puteri kami juga. Tenang saja, kami akan menjaganya di sini.” Balas Eva tersenyum.
Semua sudah bersiap-siap akan berangkat. Abraham dan Bellova akan ikut mengantar.
Satu persatu keluarga Bellova sudah masuk kedalam mobil, Ayah Bella duduk di depan, di samping Abraham, dan isterinya berada di belakang, bersama dengan Ibu dan adik-adiknya.
*************
“Mmmm… nak Abraham, apa benar kami…. Akan naik ini?” Ayah Bellova terkejut dan ragu berdiri di depan sebuah pesawat.
__ADS_1
“Iya Ayah, biar lebih cepat tiba di rumah.” Jawab Abraham berdiri di samping Ayah mertuanya.
Keluarga isterinya tercengang saat mereka baru turun dari mobil dan melihat sebuah pesawat perpaduan warna hitam dan silver. Ukurannya tidak terlalu besar seperti pesawat pada umumnya.
Sepasang orang tua itu saling menatap terkejut dan heran, Bellova juga memiliki perasaan yang sama.
“Ayo masuk.” Ajak Abraham berjalan lebih dulu menuntun mereka yang bingung bagaimana cara masuknya.
Ayah dan Ibu bergandengan tangan saat menaiki tangga, Abraham juga menggenggam tangan Bellova agar tidak jatuh, Aris dan Hendra juga ikut masuk dan membantu adik-adik Bellova untuk berjalan berhati-hati.
“A… Ayah, ini tinggi sekali.”
“Jangan lihat ke bawah Bu, Ayah juga yakut.”
Mereka sama sekali belum pernah naik pesawat seumur hidup, bahkan menyentuh pesawat saja belum pernah, hanya bisa melihat dari layar televisi tetangga.
Abraham terus berjalan kedepan, menunjukkan dimana posisi mertuanya untuk duduk.
__ADS_1
“Nah, sekarang kalian duduk di sini.” Tunjuknya pada sofa yang sangat empuk berwarna putih.
Dengan hati-hati mereka duduk, di sampingnya Abraham dan Bellova juga ikut duduk, Aris dan Hendra masih sama, mengurus dan menjaga adik ipar Abraham di belakang orang tuanya.