KETIKA JATUH CINTA

KETIKA JATUH CINTA
episode 234


__ADS_3

“Aku sudah berapa lama di rumah sakit?”


“Sekitar 3 hari.” Jawabnya singkat.


“Lama juga-


Ddrrttdd…. Dddrrtt..ddrttdd..


Ponsel Abraham bergetar di atas meja samping ranjang, membuat Bellova berhenti bicara.


“Sebentar ya, aku jawab telepon dulu.” Pintanya meraih ponselnya.


Abraham berdiri, menjawab panggilan dengan sedikit menjauh dari Bellova, agar tidak berisik.


Bellova melihat tubuh suaminya yang membelakanginya. Dia memainkan jari, melihat tangannya juga masih


terhubung dengan jarum infush.


Tidak lama, Abraham selesai berbicara dari ponsel dan berbalik kearah Bellova yang sedari tadi memperhatikannya.


Dia berjalan, untuk duduk lagi di sofa, meletakkan kembali ponsel di atas meja.


Rasanya Bellova ingin bertanya, tapi diurungkan, tidak mau dianggap terlalu ingin tahu.


“Kenapa? apa kau menginginkan sesuatu? Atau… kau mau kekamar mandi?” tanya Abraham berdiri.

__ADS_1


“Tidak, sebelum kamu datang, kak Ina sudah mengantarku kekamar mandi.” Jawabnya.


Mendengar jawaban itu, dia kembali duduk lagi.


“Apa kau tidak sibuk? Kalau aku punya banyak pekerjaan, pergi saja.” Tanyanya walau bertentangan dengan hatinya.


“Tidak ada yang mendesak sih, memang ada sedikit masalah, tapi sudah di kerjakan Adley dan lainnya. Jadi aku bisa di sini menemanimu.” Jawabnya biasa saja.


Tanpa sadar Bellova tersenyum, hanya beberapa detik bibirnya berekspresi biasa lagi.


“Kenapa kau disini dan mau menemaniku?” tanyanya, wajahnya masih menunduk, sedikit takut dengan jawaban Abraham.


“Kau kan isteriku, kalau aku, suamimu ini tidak menemanimu kan, aku bisa dapat cacian dan amarah dari keluarga mu dan keluargaku.” Jawabnya biasa lagi.


Ekspresi wajah Bellova murung, jawaban yang membuatnya sedikit sedih.


Tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Hanya suasana hening dan diam. Apalagi Abraham sibuk dengan ponselnya. Sesekali Bellova melirik Abraham.


“Begini saja, benar. Begini saja aku sudah senang.” Ucap Bellova dalam hati.


************


Lagi, Lucifer mendapat laporan dari anak buahnya, kalau anak-anak nya mendapat serangan dari pihak


lawan. Walaupun masih bisa di halangi oleh anak buahnya, tapi tidak membuat amarah Lucifer mereda. Bukannya Lucifer tidak bisa menghabisi mereka secepatnya, hanya harus perlu waktu dan menjaga keselamatan keluarganya yang sudah mulai bertambah anggotanya.

__ADS_1


Revand dan Vicky melihat Lucifer yang diam saja, namun ekspresi wajahnya masih menunjukkan emosi


yang memuncak. Eva mengobrol bersama Cleo dan Isabella di teras rumah sembari melihat kebun bunga dan sayuran segar yang sengaja di tanam Eva.


“Luc, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita harus diam seperti ini? Kau kan sudah lihat, semakin lama tingkah mereka semakin berani. Mereka pasti pikir kalau kau itu penakut-


Plak…


Vicky memukul bahu Revand yang mengompor-ngompori Lucifer.


“Apaan sih Vic? Kan memang benar, mereka sudah sangat keterlaluan loh. Belum apa-apa, Ina dan Arshinta sudah mendapat terror dan ancaman begini. Aku sebagai paman pasti ingin balas dendam, mana ada-


Brugh..


Lucifer memukul meja lagi dengan keras.


“Suara apa itu?” tanya Isabella yang mendengar.


“Abaikan saja, palingan itu Lucifer yang sedang marah, dan pasti Revand seperti kompornya.” Jawab Cleo santai.


Eva hanya menganggukkan kepalanya, sepakat dengan jawaban Cleo, sembari meletakkan gelas teh nya.


Kembali kepada Lucifer dan kedua anggota keluarganya.


“Baiklah, aku sudah memutuskan akan menyerang dan menghabiskan Bossa, sekarang!” ucap Lucifer memberi jawaban.

__ADS_1


Revand sangat senang mendengar keputusan Lucifer. Vicky juga ikut senang, tapi dia tidak suka cara Revand yang mengompori Lucifer.


__ADS_2