
Abraham dan Bellova sudah tiba di rumah, dan dia langsung menggendong Bellova lagi sampai masuk
kedalam rumah. Padahal Bellova sudah berusaha untuk menolak, tapi terus dipaksa.
Abraham tidak merasa berat menggendong wanita itu, dia bisa berjalan dengan tenang, tidak terlalu cepat atau lambat.
Klik…
Pintu pun sudah dibukakan Bellova.
Abraham meletakkan Bellova di sofa, dan masih memeriksa perban yang menutupi lukanya.
“Aku sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir lagi.”
Abraham masih terus diam, berjongkok didepan Bellova.
“Lain kali kamu harus hati-hati. Untung saja lukanya tidak parah.” Abraham berdiri dan mengeluarkan obat yang diberikan dokter sebelumnya.
Abraham tidak bertanya dengan orang yang menabrak Bellova, dan mereka juga tidak terlalu membahas secara serius.
Drtd…drtd.. drtd…
Ponsel Abraham berdering.
“Hallo.” Jawabnya menerima panggilan telepon.
Bellova memperhatikan suaminya yang sedang berbicara dihadapannya.
“Apa? Aku akan segera kesana!” ucap Abraham menutup teleponnya. Dengan wajah serius dia menatap
Bellova.
“Love, aku harus kembali kekantor. Kamu bisa kan disini sendirian?” tanya Abraham jongkok.
__ADS_1
“Iya, kan biasanya juga aku sendirian disini.” Jawab Bellova tersenyum.
“Oh iya ya.” Abraham berdiri.
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi aku atau siapa saja, atau kau bisa memanggil Arshinta, Kak Ina atau-
Bellova menggenggam tangan Abraham yang masih berdiri dihadapannya.
“Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri kok. Pergilah.” Bellova menenangkan Abraham yang masih panik, entah apa yang dipikirkannya.
Abraham menghela napas, menganggukkan kepala dan tersenyum.
Setelah itu dia pergi meninggalkan Bellova yang masih menatap kepergiannya.
********
Di depan kantor polisi, sudah banyak orang dan wartawan berkumpul. Bahkan mereka memasang spanduk dan tulisan-tulisan yang menyudutkan Abraham dan hubungannya dengan mafia.
Saking banyaknya mereka, membuat Adley dan anggota kepolisian lainnya kerepotan.
“Hukum dan singkirkan anggota Mafia!”
“Usir Abraham dan keluarganya dari Indonesia!”
“Tegakkan keadilan!”
“Kami warga Indonesia menolak Abraham dan keluarganya yang Mafia!”
Begitulah tulisan-tulisan dari masyarakat yang tidak tahu apa-apa itu.
Vvvrroomm…. Vrroommm…
Mobil Abraham sudah berhenti didepan kantor polisi. Semua menyerbu mendekati Abraham yang baru akan
__ADS_1
turun dari mobilnya.
Baru saja kakinya menginjak tanah, sudah banyak wartawan ingin mewawancarainya. Abraham hanya
diam mengabaikan. Semakin banyak mereka, semakin sulit dia berjalan untuk masuk kedalam kantornya.
“Pak Abraham, apakah benar anda adalah anak dari seorang Mafia?” tanya salah satu wartawan sambil
berjalan mengimbangi langkah kaki Abraham. Abraham diam saja.
“Abraham, apakah jabatan anda sekarang ada hubungannya dengan ayah anda yang seorang anak buah
Mafia?” pertanyaan dari wartawan lainnya.
Abraham hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan mereka.
Hingga akhirnya Abraham berhasil masuk kedalam kantornya. Dia langsung duduk dan melepas jaket juga kacamata hitamnya.
************
Sementara itu, dirumah kediaman Eva dan Adam juga sedang menyaksikan berita tentang hubungan mafia
dengan Abraham. Berita itu ada di setiap saluran televisi. Semua anggota keluarga Eva dan Adam beberapa kali menghubungi Lucifer, mencari tahu apa yang akan dilakukan Lucifer setelah mendengar kabar berita tersebut.
“Papa, apa yang harus kita lakukan?” tanya Eva yang tidak bisa menutup rasa kekhawatirannya.
Adam menatap isterinya dengan tenang.
“Papa akan ikuti apa keinginan mereka.” Jawab Adam setelah berpikir.
Eva mengernyitkan dahinya, “Maksudnya pa?” tanyanya ragu.
Adam tersenyum padanya, “Kalau mereka ingin papa mendapat hukuman, papa akan terima-
__ADS_1
“Apa?” Eva berdiri karena terkejut.
“Tidak! ini semua bukan