
Abraham dan Adley akhir nya memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi. Mereka sengaja berjalan dengan biasa-biasa saja, agar mereka bisa memperhatikan sekitar nya. Sementara itu, di jendela atas sebuah
horden putih tersingkap sedikit, terdapat bayangan kecil sedang mengintip di balik nya. Abraham merasa ada yang aneh, hingga dia sempat berhenti dan menoleh kebelakang bagian atas. Walau sekilas, dia bisa melihat kalau ada pergerakan dari horden jendela nya.
“Ada apa Bram?” tanya Adley yang heran kenapa Abraham berhenti dan menatap ke atas.
“Tidak ada, mungkin itu hanya perasaan ku saja. Ayo kita kembali.” Jawab Abraham.
“Siapa mereka?” tanya seorang wanita berusia sekitar 41 tahun.
“Mereka adalah polisi nyonya, mereka datang ke sini untuk mencari tuan Agus…”
“Lalu jawaban apa yang kau katakan pada nya?” tanya ibu itu masih menatap jendela.
“Saya bilang kalau tuan sedang berada di luar. Tapi mereka bilang akan kembali datang lagi ke sini, untuk bertemu dengan tuan, nyonya.”
Jawab si pelayan dengan gugup.
“Lain kali kalau mereka yang datang lagi, kau periksa dulu, dan jangan sampai membuka pintu untuk mereka. Hindari saja mereka dengan cara seperti itu. Kau mengerti?!” ucap majikan nya dengan tegas.
“Saya mengerti nyonya.” Jawab nya menunduk.
**********
“Aku merasa kalau ada yang mengawasi kita..” ucap Abraham sambil mengemudikan mobil nya.
“Itu karena ada CCTV itu kan? Aku juga berpikir seperti itu.” balas Adley melihat Abraham.
“Bukan cuma itu saja, waktu kita mau kembali, aku seperti melihat ada yang mengintip kita dari balik jendela. Maka nya aku tadi sempat berhenti.” Abraham menceritakan kejadian yang di alami nya.
“Tapi menurut ku juga aneh, kenapa ada kandang sapi di sana? Padahal rumah nya sangat besar, tidak seperti orang yang beternak. Menurut mu bagaimana Bram?” tanya Adley yang menceritakan kejanggalan yang di rasakan nya juga.
“Iya, itu benar-benar mencurigakan.”
********
Bellova sedang asik membersihkan rumah Abraham. Dengan kemoceng bulu ayam, di bersihkan sudut-sudut lemari, bagian bawah dan koleksi foto-foto yang berjejer rapi di atas lemari.
“Wah, ternyata nona Arshinta dan pak Abraham sangat mirip sekali ya, sampai susah membedakan nya. Kalau pak Abraham panjang rambut nya, pasti sama persis dengan nona Arshinta.” Ucap Bellova, tersenyum melihat foto Abraham dan Arshinta yang masih kecil.
Di letakkan foto itu kembali di atas meja, tempat awal sebelum nya. Lalu di lihat lagi ada foto di samping nya.
“Ini pasti tuan Adam dan nyonya Eva, mereka juga sangat tampan dan cantik, pasangan yang sangat serasi dan cocok, pantas saja bisa memiliki anak yang tampan dan cantik…….
“Apa yang kau lakukan?” tanya seorang pria dari belakang.
Prraaannngg…….
__ADS_1
Karena terkejut, foto kaca yang ada di genggaman Bellova terjatuh, hingga pecah dan berantakan.
“Pak Abraham…. Maafkan….maafkan saya……
“Kau itu bagaimana sih? Kenapa kau bekerja sembrono seperti itu?” tanya Abraham merasa sangat kesal dan marah.
Dia berjalan mendekati Bellova. Di lihat foto yang masih di lantai.
Di ambil nya…..
“Biar saya saja tuan…..
“Diam di situ!!...” teriak Abraham, mengangkat tangan nya.
Bellova terkejut mendengar suara Abraham.
“Kerjakan mana bagian mu saja! Jangan menyentuh yang bukan urusan mu!” ucap nya, masih sibuk mengambil serpihan kaca yang potongan nya lebih besar.
“Aku paling tidak suka kalau ada yang menyentuh barang-barang pribadi ku, apalagi foto kenangan. Mengerti tidak???!” tanya
Abraham.
Dia berdiri, dengan telapak tangan yang sudah penuh dengan potongan kaca.
Di tatap nya Bellova dengan tajam dan sinis.
Tidak pernah bos nya marah seperti itu.
“Ambil kan tempat sampah, sapu dan pengki ke sini!” suruh nya.
“Ba….baik pak…” dengan cepat, Bellova segera mengambil apa yang di perlukan bos nya.
Abraham melihat nya dengan menggelengkan kepala.
Tidak lama, Bellova datang dengan terburu-buru.
“Pak, ini tempat sampah……..
Bbbuuuggghhhh…….
Tiba-tiba karena dia terburu-buru, hampir terjatuh, hingga tempat sampah tanpa di sengaja menutup kepala Abraham.
“Aaaakkkhhh…. Ma…. Maafkan saya pak, saya tidak sengaja…..”
Ucap Bellova, segera melepaskan tempat sampah. Karena tubuh Abraham yang tinggi, agak susah bagi nya untuk melepas tempat sampah berukuran tidak terlalu besar itu.
Abraham juga tidak bisa langsung melepaskan nya, karena tangan nya yang menampung serpihan kaca, dan kertas foto.
__ADS_1
Bellova menarik pinggiran tong sampah tersebut ke arah nya agar lebih gampang di lepas, sampah yang ada di dalam nya juga sudah pasti mengotori tubuh Abraham, apalagi bagian kepala nya.
Tempat sampah sudah bisa di lepas. Saat membuka nya, wajah Abraham sudah sangat marah sekali. Bau sampah yang busuk membuat nya tidak bisa tahan lagi.
“Pak, ma…..
“Jangan bicara dulu!! Cepat benerin dulu tempat sampah nya… apa kau tidak lihat apa yang aku pegang?” teriak Abraham marah.
“Ba…baik pak……”
Bellova mengambil tempat sampah yang sempat di lepas nya ke lantai. Lalu mengambil sampah dengan memungut nya pakai kedua telapak tangan nya.
Abraham pun langsung memasukkan serpihan kaca yang di pegang nya ke dalam tempat sampah.
“Pakai sapu dan pengki nya dong…. Apa kau sengaja bekerja seperti itu?” tanya Abraham yang kesal dengan pekerjaan Bellova.
“I…iya, pak…” dia ambil lagi pengki dan sapu, untuk mengumpulka sampah dan memasukkan ke dalam tempat sampah.
Kedua tangan nya di tepuk, mecium kerah baju yang sudah sangat bau.
“Cepat bereskan!” ucap nya lalu pergi meninggalkan Bellova.
“Baik pak…” jawab Bellova gugup dan masih panik.
Abraham dengan cepat, berlari melalui anak tangga menuju kamar nya. Sementara itu Bellova merasa sangat sedih. Mata nya sudah berkaca-kaca.
“Aku tidak menyangka kalau pak Abraham akan sangat marah seperti itu.” gumam Bellova.
*******
Sekolah pendidikan Cinta Kasih Arshinta sudah berjalan dengan baik. Tidak ada terdengar kabar tentang guru-guru yang menyimpang.
Murid-murid juga semakin menunjukkan prestasi nya. Bahkan murid kelas 11F,
mereka sangat bersemangat sekali dalam belajar nya. Para pedagang di kantin
juga, tidak ada masalah, beberapa kali Arshinta dan Ruly datang untuk sekedar
sarapan atau makan siang, sering sekali makanan yang di pesan mereka di
gratiskan, tidak perlu di bayar, tapi Arshinta tidak ingin itu terjadi. Biar alasan apapun, Arshinta tidak mau menerima nya cuma-Cuma, dia selalu membayar
nya.
Satmaka juga beberapa kali sering datang sambil membawa Rakha bertemu dengan Arshinta, baik di sekolah mau pun di luar gedung sekolah.
Sejak kejadian itu, hubungan mereka semakin dekat, masih belum ada perasaan apapun di antara mereka.
__ADS_1