
Ruly menganggukkan kepala nya, sudah mengerti apa maksud dari Arshinta karena sudah di arahkan sebelum nya.
Ruly memberikan selembar kertas kosong kepada satu persatu murid dengan mendatangi meja nya. Guru yang mengajar tampak pucat.
“Kalian tahu apa yang ada di tangan kalian sekarang?” tanya Shinta.
“Kertas kosong bu…” jawab murid-murid serentak.
“Iya, sekarang aku kasih kalian waktu 5 menit, tuliskan nama guru yang mengajar dengan tidak wajar, pelecehan dan cacian, kalian tuliskan beserta mata pelajaran apa yang di ajarkan nya.” Suruh nya.
Murid-murid saling melihat.
“Kalian jangan takut! Aku akan singkirkan guru yang seperti itu.” ucap nya karena tahu apa yang di rasakan murid nya.
“Aku membutuhkan guru yang benar-benar seorang guru! Bekerja dengan mengajar secara tulus, ikhlas dan sabar.”
“Silahkan tulis sekarang, nanti kertas nya akan aku kumpulkan lagi. Tidak usah kalian tulis nama dan kelas kalian.” Ucap Arshinta
sambil menunggu.
Ternyata murid-murid pun semangat menulis nya. Tanpa ragu mereka mengisi kertas yang sebelum nya kosong itu.
Arshinta menganggukkan kepala dan tersenyum.
“Ruly, tolong kamu ke kelas sebelah, bagikan kertas nya juga, lakukan seperti apa yang kita lakukan di sini, nanti aku akan menyusul
mu.” Suruh nya pada Ruly.
“Baik bu. Saya permisi.” Ruly pergi sesuai arahan.
Arshinta berjalan dalam barisan meja dan kursi, melihat apa yang mereka tuliskan.
Beberapa menit kemudian…….
“Baiklah, sekarang aku akan mengumpulkan kertas nya.” Sekarang dia mengumpulkan semua kertas tanpa ada yang ketinggalan.
“Semua kertas nya sudah aku kumpulkan, kalian bisa melanjutkan pelajaran nya lagi. Terima kasih.” Ucap Arshinta.
“Saya permisi dulu bu Yan.”ucap Arshinta untuk keluar.
Guru itu hanya tersenyum berusaha ramah walau sebenar nya dia sangat gugup dan khawatir.
Setelah Arshinta keluar, guru itu masih diam, di tatap nya murid-murid itu.
“Anak-anak….mmmmm…. apa…. Apa kalian ada menulis nama saya?” tanya nya panik menunggu jawaban.
“Rahasia bu….” Mereka menjawab secara serentak.
“Sialan…. Sudah mulai berani mereka sekarang ya..” gumam Yana.
*******
Di kelas yang di datangi Ruly, kebetulan bu guru Jamilah yang mengajar.
__ADS_1
“Bu Ruly, kenapa sih harus melakukan seperti itu? kesan nya kami sebagai guru ini di curigai.” Protes Jamilah.
“Ini adalah perintah dari ibu Arshinta."
Ruly sedang menunggu murid-murid yang mengisi kertas.
“Memang aku sedang mencurigai kalian! orang-orang yang bersembunyi dalam jabatan profesi kalian….bu guru Jamilah.” Ucap Arshinta yang mendengar perkataan Jamilah saat dia masih di luar.
Arshinta masuk, membuat Jamilah ketakutan. Ruly hanya tersenyum. Murid-murid pun merasa tenang.
“Apa kertas nya sudah di bagikan Rul?” tanya Arshinta pada Ruly.
“Sudah bu. Dan sekarang mereka sedang mengisi nya.” Jawab Ruly.
Arshinta diam, berdiri dengan tegas.
“Bu Arshinta, apa ini tidak kelewatan? Bisa saja murid-murid menulis asal-asalan.” Ucap Jamilah mencoba membela diri.
Arshinta melihat Jamilah.
“Siapa pemilik sekolah ini bu?” tanya Arshinta tenang.
“A….anda bu Shinta..” jawab nya.
“Siapa yang membayar gaji anda bu?” tanya nya lagi.
“A..anda juga..bu.” jawab nya lagi.
“Pintar…. Jadi tidak ada salah nya kan kalau aku begini?” balas Arshinta dengan percaya diri.
“Beneran dah…. Rasa nya pengen aku botakin kepala orang ini.” Gumam Arshinta menahan
kesal.
“Ter….se…rah….ku…!!!” jawab Arshinta tegas.
********
Di dalam perusahaan Satmaka, dia yang baru saja selesai mengikuti meeting di kantor. Masih panik dan khawatir dengan keadaan anak nya Rakha yang masih sakit. Sedikit tidak fokus.
“Aku sudah mencari wanita itu di taman, tapi tidak ada. Kemana dia harus aku cari lagi? Hanya di situ yang aku tahu. Atau…. Aku ke
taman lagi saja ya?” gumam Satmaka.
Setelah berpikir, akhir nya dia berdiri dan memakai jas nya untuk keluar dari ruangan.
“Lay, apa ada pekerjaan yang membutuhkan tanda tangan ku lagi?” tanya nya pada sekretaris bernama Laila.
“Tidak ada pak.” Jawab nya setelah mengecek laporan.
“Kalau begitu aku akan pulang duluan, nanti kalau ada sesuatu yang penting, kabari saja.” Ucap nya lalu pergi tanpa menunggu jawaban
__ADS_1
dari sekretaris nya.
*******
Di dalam perusahaan Adam Company, Ina yang sedang santai ingin makan kue yang pernah di bawa Arshinta. Ingin memesan melalui Arshinta, tapi adik nya itu sedang sibuk mengurus sekolah nya.
“Seperti nya harus aku sendiri deh yang beli, lagi pula itu kan dekat dengan sekolah nya, sekalian menjemput nya pulang kan?” ucap nya setelah berpikir.
Akhir nya Ina memutuskan akan pergi sendiri langsung ke toko kue yang sudah di beritahukan Arshinta sebelum nya.
“Bos, anda mau kemana?” tanya Sakya melihat Ina yang baru keluar dari ruangan nya.
“Aku mau pulang duluan. Tidak ada jadwal lagi kan?” tanya Ina memakai jas nya.
“Tidak ada sih bos. Apa kami semua boleh pulang juga?” tanya nya bercanda.
“Ooohh…. Boleh….boleh kok… sekalian besok dan seterus nya tidak usah datang lagi kan….” Balas Ina dengan tersenyum.
“Bener bos? Tapi gaji kan?” balas Sakya belum mau mengalah.
“Di gaji, di bayar dengan daun aja ya….kan udah enggak kerja, jadi pakai daun aja.” Ucap nya membalas.
“Ppppffftthhh…” Meta yang duduk nya tidak jauh dari mereka berdua menahan tawa.
“Meta, apa kau mau ikut pulang juga sekarang? Biar di bayar dengan daun juga?” tanya Ina.
“Tidak bos…. Saya masih butuh uang asli kok.” Jawab Meta tersenyum.
“Bagus…bagus…..nanti kalau kau mau pulang Sak, lapor saja pada Meta ya, biar aku tahu.” Ucap nya menepuk bahu Sakya pelan lalu pergi.
Sakya melihat Meta yang masih menahan tawa dan hanya bisa tersenyum.
******
Ina yang sekarang di dalam mobil, dengan mengikuti GPS dari ponsel nya mencari letak toko kue yang di sebutkan Arshinta.
“Ah…akhir nya nemu juga…” ucap nya melihat toko kue di samping taman bermain.
Saat hendak memarkirkan mobil nya…..
TTTTIIINNN…TTTTIIIINNN…..TTTIIIINNN…….
Di samping nya juga sudah ada mobil yang ingin masuk daerah parkiran. Mereka berebutan untuk parkir.
Ina menurun kan kaca jendela nya.
“Permisi ya, saya duluan yang ingin parkir.” Teriak nya dalam mobil.
“Maaf, saya duluan yang mau parkir, tapi mobil anda mengahalangi mobil saya.” Balas mobil yang berebutan dengan nya.
“Tidak bisa! Jelas-jelas ini mobil saya yang lebih dulu masuk nya, lihat tuh jarak nya…” balas Ina yang tidak ingin mengalah.
“Loh…. Saya yang duluan… segera mundurkan mobil anda sekarang!” balas lawan nya.
__ADS_1
Ina tidak mau mengalah, malah dia nekad memajukan mobil nya. Lawan nya pun dengan kesal dan marah membiarkan Ina yang menang.