
“Hhhheeyyyy!!!! Jangan lakukan itu!!” teriak Arshinta yang juga melihat seseorang mengarahkan pistol pada kakaknya.
Melihat itu dengan cepat Abraham memeluk Bellova, dan menunduk dibawah kursi.
Dor…Dor… Dor…
Beberapa peluru sudah keluar dan di tembakkan kearah mobil Abraham. Kaca mobil bagian depan juga
sudah pecah berkeping-keping, Abraham berusaha melindungi Bellova dalam dekapannya.
“Sial…” cacinya marah. Cacian itu bisa di dengar Bellova yang panik.
Abraham berusaha membuka laci mobil untuk mengambil pistolnya. Semakin lama semakin banyak lawan yang datang.
Kendaraan orang-orang yang menyaksikan itu memutar arah karena takut dan tidak mau membahayakan diri
mereka.
Tak…
Pistol sudah ada di tangan Abraham, dan dia sedang mengambil waktu untuk membalas serangan.
Greb…
“Tolong…. Tolong jangan… pergi…” lirik Bellova menarik tangan Abraham yang ingin melepas pelukannya.
Abraham merasa kasihan, tapi membuatnya semakin marah pada musuhnya.
__ADS_1
“Aku akan di sini, kau tenang ya, semua akan baik-baik saja.” Ucapnya dengan lembut mengusap wajah
Bellova.
“Aku… takut… aku sangat…. Takut..” suaranya dan tubuhnya gemetaran, Abraham bisa merasakan getaran itu.
Si penyerang juga sudah mulai mendekati mobil Abraham dan mobil Arshinta juga sudah di kepung.
Dor… Dor….Dor…
Arshinta menembaki lawannya dengan bertubi-tubi tembakan. Bukan hanya Abraham saja yang membawa
senjata, Arshinta juga menyimpan pisau belati dan pistolnya.
Sambil menembak, Arshinta berjalan mendekati mobil Abraham, tanpa rasa takut.
Pisau kecil milik Arshinta tertancap pada pria dari samping Arshinta yang hendak menembaknya.
Arshinta menoleh kebelakang, ternyata Satmaka yang melemparkan pisau itu agar tidak mengenainya.
“Ah… padahal aku belum pernah melempar pisau, untung saja tidak salah sasaran, sepertinya pisau itu
haus akan darah ya. Sama seperti pemiliknya.” ucap Satmaka pelan karena merasa puas dengan yang dilakukannya.
Anak buah Lucifer juga ikut membantu Arshinta dengan ikut menyerang anak buah Bossa yang begitu banyak. Entah dari mana datangnya anak buah Bossa yang sangat banyak itu.
Cccrriitt….cccrrriittt….
__ADS_1
Mobil banyak yang datang, dan semuanya memiliki senjata, mereka adalah Rock dan anak buahnya.
“Waw..waw…waw… it’s war… I like it.” Ucap Rock yang baru keluar dari mobil, dengan senjata berlaras panjang di tangannya.
“Siapa mereka?” gumam Arshinta, Satmaka dan Arshinta.
Jumlah musuh jauh lebih banyak dari anak buah Lucifer yang melindungi Arshinta dan Abraham.
“Hahahahaha…” tawa keras Rock melihat kemenangan di tangannya.
Peluru di tangan Arshinta juga sudah habis, dia sudah sangat lelah, napasnya tersengal dan keringat juga sudah mengalir membasahi wajah dan pakaiannya.
“Ya ampun, lukamu berdarah lagi.” Abraham merasakan ada cairan di tangannya, dan setelah dilihat itu berasal dari luka operasi di bagian dada beberapa hari yang lalu karena terkena tembakan.
Abraham semakin panik saat melihat wajah Bellova yang semakin pucat, napasnya juga tidak beraturan, karena sempitnya ruangan dan membuat tubuhnya meringkuk.
“Sial…. Kenapa kau harus terlibat dengan masalahku?!”
“Love… lihat aku… lihat!” Dia mengangkat wajah Bellova, membuatnya agar tidak menutup mata.
Bellova masih berusaha menahan dan membuka matanya, walau terasa sangat berat.
“Kau harus kuat! Kau harus bertahan, sebentar lagi ini akan berakhir, jangan takut.” Ucapnya memeluk isterinya yang kembali kritis lagi.
“Bagaimana ini… aku tidak bisa membiarkan isteriku terluka lagi.. tolong… tolong datanglah, siapapun itu.” harap Abraham dalam hati sembari masih memeluk isterinya.
Anak buah Lucifer juga sudah banyak yang terluka dan tewas di tempat.
__ADS_1