
“Apa? Sebenarnya siapa kalian? dan kenapa kalian menghancurkan tempat ini?” tanya pria itu dengan suara keras, di belakangnya juga sudah banyak staf-staf yang mengikutinya.
Beberapa dari mereka mengambil gambar dan video Aris dan Hendra.
Aris datang dengan membawa salah satu koran hasil terbitan perusahaan itu.
Plak…
Dilemparkan koran itu hingga mengenai wajah si wakil perusahaan. Dia mengambil dan masih tidak tahu kenapa koran itu di lemparkan padanya.
“Isi beritamu ini mengganggu tuan kami!” ucap Aris.
Staf dan wakil nya saling menatap heran.
“Siapa tuan kalian? dan apa hubungannya dengan perusahaan kami? Kami adalah perusahaan yang
memberitakan informasi yang nyata.” Balas pria tua itu.
“Ah, rasanya aku ingin memukul pak tua ini pakai tongkat besiku.” Ancam Hendra mengangkat tongkat besinya, membuat staf dan yang lainnya ketakutan.
“Tahan Hendra, jangan terburu-buru. Hari ini bos hanya menyuruh kita untuk memberi mereka pelajaran dan menghancurkan tempat ini.” Ucap Aris menahan hendra yang sudah gregetan.
Anak buah Aris tidak berhenti melakukan aksinya, walau Aris dan Hendra sedang berbicara dengan wakil
perusahaan.
__ADS_1
“Apa kalian mengancam kami?”
“Oh, apa kalian itu mafia ya?”
Pertanyaan dari staf-staf yang sok berani. Mereka bicara dari belakang pria tua yang sebenarnya sudah gemetaran.
Aris menatapnya dengan tajam dan sinis.
“Iya, kami adalah mafia, dan saat ini kami memang masih mengancam, tapi mungkin bisa berbeda beberapa jam lagi.” jawab Aris dengan yakin.
“Apa? Mafia?”
“Ya ampun, bagaimana ini?”
“Aku sangat takut sekali. Aku ingin risegn saja.”
Komentar-komentar dan celoteh mereka yang ketakutan.
“Apa jangan-jangan kalian adalah… adalah bagian dari Komisaris itu? si anak ma-
Bbrruugghhh…
Satu tinju keras mendarat di wajah staf yang bersembunyi di belakang tubuh pria kurus itu.
Tubuhnya terlempar dan terjatuh di lantai yang banyak serpihan-serpihan kaca dan benda lainnya.
__ADS_1
Tinju yang di berikan Aris.
“Hendra, robek mulutnya!” suruh nya pada Hendra yang sedari tadi bersabar.
“Oke, aku akan robek mulutnya itu.” Hendra berjalan mendekati orang yang wajahnya sudah berdarah.
Semua semakin ketakutan, saling merangkul dengan temannya karena ketakutannya.
Di depan mereka, Hendra merobek mulut orang itu, dia tidak perduli tindakannya di rekam dan di foto dari mereka. Ada juga yang sampai muntah di tempat karena melihat darah yang keluar dari mulut rekannya.
“Kami memang tidak di perintahkan untuk membunuh kalian, tapi kami masih bisa menyakiti kalian, bahkan sampai lumpuh pun kami bisa.” Ucap Aris memberi peringatan.
Salah satu anak buah Aris datang dan memberikan informasi padanya.
“Baiklah, semuanya turun dari sini kalau kalian masih ingin hidup. Karena sebentar lagi bangunan ini akan kami robohkan dan rata dengan tanah.” Aris memberitahukan yang baru di dengar.
Tidak menunggu banyak waktu, mereka bergegas ingin segera keluar.
“Tunggu! Kalian jangan pergi, mereka hanya mengancam saja. Jangan pergi atau kalian aku pecat!” wakil
perusahaan berusaha menahan karyawannya.
“Saya tidak ingin mati konyol di sini pak Hendra,” jawab salah satu karyawan nya mengambil barang-barangnya.
Hendra, rekan Aris melihat pria tua yang dipanggil dengan nama ‘Hendra’ nama yang sama dengannya.
__ADS_1
Aris menahan tawa karena namanya sama dengan rekannya, tapi Hendra yang merasa kesal karena ada yang menyamai namanya.
“Oiiy, Hendra kurus dan tua bangka! Turuti saja anak buah mu daripada kau mati konyol disini… HENDRA!” ucap Aris, menekan nama ‘Hendra’ untuk meledek Hendra.