
“Haaahhhh….Hhhhaaahhh….Hhhhaahhh…” hembusan napas Bossa saat berusaha menyerang Lucifer.
Lucifer memberikan kesempatan pada Bossa untuk menyerangnya, dan dia hanya menghindar dari amukan
Bossa.
“Ternyata hanya begini saja kemampuanmu Bossa?” sindir Lucifer yang tidak melakukan apa-apa.
“Kau itu hanya mengumpulkan banyak anggota kelompok, dan kau bersembunyi di belakang mereka, padahal kau sangat payah dan lemah seperti ini ya?”
“Sebagai bos, kau harus kuat dan tangguh dulu Bossa, jika anak buahmu kalah, kau bisamelindungi dirimu sendiri, bukan seperti cacing yang susah payah lari.”
Bossa yang sudah berkeringat, gemetar dan kelelahan. Pimpinan Shadow itu menjadi tontonan anak buah Lucifer.
“Pantas saja kau susah di temui, karena kau hanya bermain dari belakang dan mengatur saja. Kau pasti tahu, kalau kau kedapatan, kau akan mati, iya kan?”
Bossa hanya diam saja, melihat sekelilingnya yang menertawakannya dengan sinis.
“Aku sudah memberikanmu waktu bermain, dan sekarang… waktumu sudah habis.” Lucifer melihat jam tangannya. Sekarang adalah gilirannya.
Dia berjalan mendekati Bossa, yang berusaha menghindar dengan lambat, karena kakinya yang pincang.
__ADS_1
“Aku paling tidak suka dengan matamu itu. Jadi…. Aku akan mengeluarkan bola matamu itu lebih dulu.” Jarak mereka sudah mulai dekat.
Bbrruuggh..
Lucifer menendang Bossa hingga tersungkur ketanah. Wajahnya sudah menghadap tanah sekarang.
Tangan kanan Bossa diambil dan di putar.
Kkkrreeekkkk….kkkkrrrreekkk…
“Aaaaaakkkkhhhhhh…” teriakan Bossa mengisi ruangan markas yang besar dan tinggi.
Setelah dirasa tulangnya sudah lepas, di lepaskan hingga tangan itu jatuh begitu saja dengan lemas, masih terhubung dengan kulit tubuhnya, tapi sudah tidak bisa digunakan lagi.
Lagi, Bossa teriak karena merasa kesakitan yang luar biasa. Sekarang kedua tangannya sudah lemah tidak bergerak. Dia jongkok di hadapan Bossa, tubuhnya sudah di balikkan hingga berbaring menghadap atap bangunan itu.
Tatapan mata Bossa yang seperti minta dikasihani, membuat Lucifer semakin membenci mata itu.
“Tolong-
“Ssssttt….. tidak ada lagi pertolongan untukmu.” Lucifer meletakkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruh Bossa untuk tetap diam.
__ADS_1
Tangan Lucifer mulai mendekati wajah Bossa, mengincar mata kirinya untuk di congkel keluar.
“Tidak… jangan, jangan la-
“Aaaakkkhhhhh….. sa….sakit… Aaakkhhh..” teriaknya saat jari-jari tangan Lucifer sudah masuk kedalam mata kirinya itu.
Ccrrruuttt….
Seketika bola mata kiri sudah keluar, terpisah dengan si pemiliknya, hanya masih terhubung dengan urat saraf yang tipis. Lucifer menarik paksa, hingga terlepas.
Teriakan Bossa tidak berhenti, semakin keras. Rasa sakit itu tidak terbayangkan yang dia terima.
“Lebih baik kau bunuh saja aku! Kepa*at!” pintanya dengan suara keras.
“Hahahaha… aku memang ingin membunuhmu, tapi tidak secepat itu, karena aku ingin bermain-main dulu dengan tubuhmu yang hina ini.” Jawab Lucifer, di genggamannya masih ada bola mata itu.
“Kau lihat ini Bossa? Bola matamu ini sekarang ada di tangan ku. Aku sengaja mencongkel satu terlebih dahulu agar kau bisa melihatnya.” Tunjuknya pada Bossa.
Dari lubang mata itu, mengalir darah yang sangat deras, menutupi hampir setengah dari wajahnya.
Lucifer berdiri, mendekati kotak peralatan ‘mainan’nya untuk mengambil sesuatu. Bossa tahu, apa yang akan dilakukan Lucifer dengan peralatan itu.
__ADS_1
Setelah mendapatkan alat apa yang sesuai dengan permainan barunya, dia berdiri dan mendekati Bossa lagi yang masih berbaring tidak berdaya karena tubuhnya tidak bisa di gerakkan.