
Klik…
Abraham memasuki ruangan. Karena dia membuka pintu dengan tiba-tiba, membuat yang lainnya terkejut dan langsung menatapnya dengan tatapan heran.
“Bram, apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Atau, buka pintunya dengan pelan-pelan
saja, apa kau sebegitu kangennya pada isterimu ini?” ledek Aditya, yang saat itu juga berada di sana bersama Ina, dan Sakya.
Abraham mengabaikan perkataan Aditya, dia langsung berjalan mendekat pada Bellova, yang sudah membuka mata dan menatap kearahnya juga karena ikut kaget saat Abraham membuka pintu.
“Tuh kan, gitu tuh, kalau sudah kangen, kita di sini di abaikan. Sebaiknya kita pergi saja dari sini, biarkan suami isteri ini melepas rindu.” Ucap Aditya mengajak Ina dan Sakya.
“Bram, kamu tidak bawa apa-apa? Buah tangan gitu? Hanya begini saja?” tanya Ina pada Abraham yang
lansung melihatnya.
“Tidak ada kak, aku tadi terburu-buru-
“Alesan.” Sahut Aditya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Abraham.
“Ehem, ayo, ayo kita pergi dari sini.” Ajak Aditya lagi ingin keluar.
Ina dan Sakya pun sepakat.
“Kami keluar dulu ya, kalau ada apa-apa, hubungi saja kakkak.” Ina mengusap bahu adiknya.
“Iya kak.” Angguknya.
“Ingat, jangan bertengkar ya, hehehehe..” ledek Aditya.
__ADS_1
Plak…
Ina memberikan pukulan ringan pada bahu Aditya agar berhenti meledek Abraham.
Klik…
Pintu pun sudah di tutup kembali.
“Apa masih sakit?” Abraham mulai bertanya.
Bellova menggelengkan kepalanya, “Tidak.”
Dia mencari sofa kecil yang di pakainya saat itu, dan menarik agar bisa duduk di samping Bellova.
“Ayah dan Ibu, bagaimana dengan mereka?”
“Mereka sekarang ada di rumah kita, tentu saja ada yang menjaga di sana.” Jawab nya mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. Bellova mengerti.
“Tidak apa-apa, aku juga tidak ingin mereka datang kesini, nanti mereka semakin khawatir.” Sahutnya dengan suara lirih.
“Kamu sudah bangun dari tadi?” tanya Abraham, berusaha mengajaknya ngobrol.
“Sekitar dua jam yang lalu, tapi sebenarnya aku sudah sadar tapi sedikit susah membuka mata.” Jawabnya melihat Abraham.
“Kenapa? apa ada masalah dengan mata nya?” tanyanya berdiri.
“Entahlah, mungkin karena efek makeup nya-
Bellova terkejut, karena Abraham secara tiba-tiba menyentuh wajahnya, apalagi dibagian mata. Dengan serius memeriksa bagian mata, kening, dan pipinya secara bergantian.
__ADS_1
“Apa ada yang sakit di bagian wajahmu? Katakan saja, nanti biar Aditya yang memeriksanya.” Tanyanya masih mengecek wajah Bellova.
“Tidak, tidak ada yang… sakit kok.” Jawabnya malu.
“Tapi kenapa wajahmu merah? Apa kau demam? Atau-
“Ti..tidak!” Bellova menangkis tangan Abraham agar tidak menyentuh bagian wajahnya lagi.
“Itu sangat dekat, kau tidak nyaman.” Ucapnya dengan suara sangat pelan, seperti berbisik.
“Apanya yang dekat?” tanya Abraham yang ternyata mendengar suara Bellova.
Bellova hanya menggelengkan kepala, menundukkan wajah.
Abraham duduk lagi di sofa tadi.
“Apa kau sudah minum obat?”
“Sudah, tadi kak Ina juga menyuapiku makan dan minum obat.” Jawabnya masih menunduk.
“Baguslah.”
“Aku ingin pulang.” Pintanya dengan suara pelan.
“Iya, nanti aku tanyakan dulu pada Aditya, apakah kau sudah bisa pulang atau belum. Tapi kalau lukamu masih perlu perawatan, kau harus di sini.” Balas Abraham.
“Tapi… aku sangat bosan.”
“Bersabarlah. Kau sama seperti Mamaku, Mamaku juga selalu mengatakan kalau dia sangat bosan dirumah
__ADS_1
sakit. Yah… udah umum sih, mana ada yang betah bertahan di rumah sakit.” Ucap Abraham.