Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 100 : Kunjungan Klan Yu


__ADS_3

Pagi hari....


Sepasang kekasih masih tertidur di atas ranjang yang sama, padahal matahari pagi sudah menjulang tinggi.


Terlihat dari wajah keduanya tersirat rasa bahagia, meskipun kelelahan juga dapat dilihat dengan jelas di wajah keduanya.


Keduanya saling menautkan tangan, seakan tak mau terpisahkan walau hanya sesaat.


Suara bising penginapan memaksa Zhou Fan membuka mata, sanyum tipis terukir saat melihat seorang wanita yang dicintai berada di sampingnya.


Zhou Fan mulai mengingat apa yang terjadi kemarin malam, kenangan yang akan selalu ia ingat.


Zhou Fan membelai wajah polos Wei Guanlin, yang membuat si empunya menggeliat.


Sekali lagi Zhou Fan menarik sudut bibirnya, sambil memandang wajah wanitanya dia bergumam. "Tampak sangat mempesona pemandangan pagi ini."


Tak lama Wei Guanlin bangun, meskipun masih terasa lelah tak menutup wajah segar gadis itu.


"Fan gege." Saat matanya terbuka, melihat seorang terkasihnya membuat hatinya merasa nyaman.


"Tidurlah! Kau terlihat lelah." Wei Guanlin seketika memasang wajah cemberut.


"Ini semua karenamu..." Tidak nampak lagi wajah sedih, dengan wajah memerah dia mengingat apa yang terjadi di antaranya.


"Hehe..." Zhou Fan terkekeh.


Tangannya kembali bermain main disekitar tubuh Wei Guanlin. Namun sebuah cekalan tangan manahan gerak tangannya.


"Apa? Badanku masih terasa sakit dan kau mau apa?" Wei Guanlin kembali ke sifat aslinya, menatap Zhou Fan sengit.


"Apakah nona Wei yakin tidak mengetahui apa yang aku inginkan?" Tanya Zhou Fan menyeringai.


Punggung Wei Guanlin seketika berkeringat dingin. Tapi sebuah ketukan membuatnya bernafas lega.


tok tok tok...


"Siapa pagi pagi mengganggu kesenangan orang," Gerutu Zhou Fan sambil berjalan membukakan pintu.


Cklek.


Ternyata seorang pelayan yang bertugas mengantarkan makanan ke kamarnya.


"Sampai disini saja, biar aku bawa sendiri." perintah Zhou Fan sambil mengambil alih nampan di tangan sang pelayan.


Zhou Fan kembali memasuki kamar, tapi tak melihat Wei Guanlin.


Gemericik air membuat Zhou Fan tahu, Wei Guanlin sedang berada di kamar mandi.


Sambil menunggu, Zhou Fan duduk bersila, memejamkan matanya dan mulai berkultivasi.


Begitulah Zhou Fan, penggila kultivasi. Setiap ada kesempatan, ia selalu menyempatkan untuk berkultivasi.


Setelah merasakan tenaga dalamnya akan kembali melonjak, Zhou Fan membuka matanya, yang kebetulan dengan keluarnya Wei Guanlin dari kamar mandi.


Mereka berdua menghabiskan makanan itu berdua, kebersamaan membuat mekanan sederhana begitu nikmat dalam mulutnya.

__ADS_1


.


.


.


"Apakah kau secepat ini akan kembali?" Tanya Zhou Fan yang seolah enggan untuk berpisah.


"Andai aku bisa memilih tentu aku ingin selalu di sampingmu. Aku sudah pergi terlalu lama, guru akan mengkhawatirkanku." Jawab Wei Guanlin.


"Baiklah, aku tak bisa menahan mu disini, tapi aku janji. Akan segera datang menjemputmu." Janji Zhou Fan.


Wei Guanlin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Mereka berjalan di luar bersama, menikmati waktu kebersamaan diantaranya, yang akan segera berakhir.


Mereka akhirnya berpisah setelah menghabiskan waktu berkeliling.


"Haih... "


Zhou Fan menendang sebuah kerikil yang berada di depannya.


Di perjalanan Zhou Fan kembali ke penginapannya, dia mendengar semriwing kabar angin.


"Apakah kau yakin?! Meskipun Klan Qing termasuk lima klan besar, itu tidak membuatnya setara dengan Klan Yu yang menjadi Klan paling dominan." Dua orang remaja berbincang sambil berjalan.


Zhou Fan seketika teringat, pemuda Klan Yu yang ia temui di area makam kuno.


"Wei'er...." Zhou Fan bergumam, lalu melesat ke arah kediaman Qing Yuwei.


Zhou Fan meyakunti satu hal, ini pasti ada hubungannya dengan permasalahannya.


Tak lama, Zhou Fan sampai di kediaman Qing Yuwei, namun keadaan kediaman tersebut nampak kosong melompong.


Saat seorang lewat di depan kediaman, Zhou Fan menghentikannya untuk bertanya.


"Permisi paman, kalau boleh tahu, apakah pemilik kediaman ini ada di dalam?" Zhou Fan menunjuk kediaman yang sedang ia belakangi.


"Oh tetua Qing Si, seluruh penghuni kediaman ini berada di aula klan Qing, katanya Klan Yu datang mencari pertanggung jawaban kepadanya," Jelas sang pria paruh baya.


O


Zhou Fan hanya mengangguk dengan mulut membentuk huruf O.


"Terimakasih, atas informasinya paman," Seru Zhou Fan.


"Anak yang sopan!" Batin pria paruh baya itu sambil berjalan mengarah ke aula Klan Qing.


Beberapa saat kemudian, Zhou Fan berhenti.


"Ah... " Sesal Zhou Fan yang baru ingat ia tidak mengetahui di mana aula Klan Qing.


Dengan lontang lantung tanpa arah dia mencari seseorang untuk bertanya.


Dan akhirnya dia menemukan aula Klan Qing setelah bertanya ke seorang wanita tua.

__ADS_1


Dari luar terdengar jelas ketegangan antara kedua belah pihak.


Zhou Fan yang berdiri di depan pintu aula, sengaja ingin mendengar kondisi di dalam.


Kalau dia langsung masuk tanpa pertimbangan, bukan menyelesaikan masalah malah membuat dirinya mempermalukan diri sendiri.


Sementara di dalam aula klan Qing...


"Patriark Qing, anda harus memberikan penjelasan kepadaku." Patriark Yu berkata dengan suara menahan amarah.


Patriark Qing diam, lalu melirik tetua Qing Si dan putrinya.


Huft...


"Sebagai patriark Klan Qing, aku memang memiliki hak atas anggota Klan Qing. Tapi aku tidak berhak untuk memaksa seorang gadis untuk bersama dengan seorang pria yang tidak dia inginkan."


Patriark Qing mengkode untuk bertanya kepada pihak yang bersangkutan.


"Bagus sekali! Huh, tetua Qing Si, apakah kau tak berniat memberiku penjelasan?!"


Patriark Yu benar benar geram, putranya merupakan jenius nomor satu di kota kapur putih harus di pandang rendah oleh Klan Qing? sungguh keterlaluan.


"Yang berhak memutuskan adalah Wei'er, karena Wei'er menolaknya maka aku tak bisa berbuat apa apa lagi." Qing Si berkata lirih.


Brak...


Suara meja di pukul begitu keras oleh Patriark Yu.


"Bagus!! Kalian sudah menyetujuinya beberapa bulan lalu untuk pertunangan ini. Dan saat kalian berkata tidak, berarti tidak? Apakah Klan Yu kami begitu rendah di mata kalian." Teriak Patriark Yu dengan wajah memerah marah.


"Tetua Si, kau sendiri yang menyetujuinya. Apakah kau mengingatnya?!" Yu Zhong ikut memojokkan Qing Si.


Dia adalah putra kedua Patriark Yu, dia merasa dengan adanya ayahnya, tak kan ada yang menganggapnya omong kosong.


Semua yang berasal dari Klan Qing terdiam, terutama Qing Si. Dia juga mengingatnya, ia sendiri yang menyetujuinya, tapi itu sebelum mendengar prilaku Yu San dari putrinya dan juga sebelum bertemu dengan Zhou Fan.


"Patriark Yu. Aku berhak mendapatkan pasangan yang lebih baik dari putramu, kau tak berhak mengatur hidup seseorang!"


Semua orang terkejut mendengar ucapan yang tak lain berasal dari mulut Qing Yuwei.


Tak terkecuali Qing Si yang tak menyangka putri kecilnya akan setangguh ini dalam mempertahankan kebahagiannya.


Dalam hati dia mendukung keputusan Qing Yuwei, meskipun ia tak bisa membelanya, karena dialah penyebab utama dalam kasus ini.


"Lebih baik?" Patriark Yu mencibir.


Siapa yang lebih baik dari putranya, tidak ada pemuda lebih baik yang seumuran dengan usia Yu San. Pikir Patriark Yu dengan percaya diri.


"Apakah kau pikir tidak ada pemuda yang menyaingi putramu, Patriark?!" Qing Yuwei berkata dengan nada mengejek.


"Kau..." Yu Zhong ingin memaki Qing Yuwei, tapi diberi tanda diam oleh sang kakak.


"Kalau kau sangat yakin dengan pemuda itu, kau panggil dia kesini. Jika dia menang aku akan menganggap masalah ini selesai, tapi jika dia lebih lemah dariku, kau tidak akan dapat bertemu dengannya lagi." Yu San yang dari tadi diam mulai menampakkan taringnya.


Brak!!

__ADS_1


Pintu aula terbuka lebar, dan menampakkan seorang pemuda berpakaian maroon.


"Tantangan diterima!"


__ADS_2