Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 139 : Pertanda Badai


__ADS_3

Zhou Fan kini tengah berada di sebuah bukit, tempat dirinya bertarung dengan Tuan Besar Shang.


Entah mengapa kakinya mengarah ke sana, seolah mempunyai pikiran kakinya melangkah tanpa sadar.


Setelah diam dan hanya memandang ke langit untuk beberapa saat, dia akhirnya mengeluarkan bahan bahan untuk membuat pill kultivasi tingkat ke-enam.


Suasana yang tenang dan damai membuat Zhou Fan berpikir tak masalah untuk membuat pill di sana.


Zhou Fan mengolah tanaman herbal yang ada di depannya dengan sangat hati hati, sama seperti saat dia mengolah pill sebelumnya, dia juga beberapa kali terlihat menelan pill pemulihan.


Dia begitu fokus dengan setiap prosesnya, dia tak ingin menyia-nyiakan tanaman herbal yang ia beli dengan harga yang sangat mahal.


Seratus ribu koin emas bukanlah jumlah sedikit, bahkan bisa menghidupi sebuah klan kecil beberapa tahun. Andai dia tidak mementingkan harga diri, dia tidak mungkin membayar sejumlah itu. Seorang pria yang dipegang adalah ucapannya, begitulah kata para orang tua.


Setelah beberapa jam bergelut dengan api yang terus berputar di sekitarnya, akhirnya dia berhenti, dan meraup pill kultivasi tingkat ke-enam dengan wajah puas.


Dari lima tangkai rumput jendral dia dapat membuat 4 pill kultivasi tingkat ke-enam, kemudian dia pergi ke penginapan nya untuk ber kultivasi setelah memasukkan butiran pill tersebut kedalam cincin penyimpanannya.


Sampainya di ruangannya dia tak menunggu waktu lama, dia langsung duduk bersila, menelan sebuah pill kultivasi tingkat ke-enam dan memejamkan matanya sambil menyerap kandungan pill.


Bersamaan dengan terpejamnya mata Zhou Fan, perputaran angin di sekitar tubuhnya bertambah cepat, semakin lama semakin kuat hembusan yang tercipta.


Zhou Fan yang tengah berkonsentrasi penuh dengan kultivasinya tak sadar akan kekacauan yang terjadi dalam ruangannya.


Hari demi hari bahkan minggu berlalu dengan sungguh cepat, tak terasa sudah 3 minggu Zhou Fan berada dalam kondisi ber kultivasi.


Padahal hanya satu pill saja yang ia telan, tapi tak kunjung juga dia selesaikan.


Waktu yang di perlukan untuk ber kultivasi tidaklah selalu sama, cepat lambatnya dia bergantung dengan dirinya sendiri.


Keesokan harinya mata Zhou Fan mengerjap pelan, perlahan dia membuka matanya yang tampak berat.


"Huh... Bahkan satu pill kultivasi tingkat ke-enam tidak dapat membuatku menerobos." Zhou Fan mendengus sambil mengeluh, kemudian kembali menelan sebutir pill yang masih sama.


Zhou Fan menutup mata, sekali lagi kecepatan perputaran angin menjadi meningkat.


Dua minggu kemudian...


Tubuh Zhou Fan terselimuti pancaran energi, aura yang ia miliki terasa semakin kuat.


Beberapa saat berselang tubuh Zhou Fan bersinar, seolah ada seberkas cahaya yang berputar mengelilinginya. Perlahan cahaya tersebut membentuk kubah, dan semakin lama semakin membesar.


Saat ukurannya sudah memenuhi ruangan tiba tiba kubah tersebut meledak, bersamaan dengan terbukanya mata Zhou Fan.


Bhoom!


Meskipun tak terlalu keras, suaranya sudah cukup membuat beberapa orang terkejut, tapi tidak ada ekspresi aneh atau penasaran dari keseluruhan orang tersebut, karena suara seperti itu sudah sangatlah wajar, bahkan sering kali terdengar.


Mata Zhou Fan mengerjap, bayangan ruangan terporak poranda terlihat semakin jelas, Zhou Fan menghela nafas rendah, dia sudah menduga hal ini akan terjadi.

__ADS_1


Senyum manis menghiasi wajah Zhou Fan yang rupawan, rambut terurai dan mata setajam elang membuatnya semakin sempurna.


Sekarang dia berada di tingkat petarung raja bintang satu, tapi dengan pedang darah malam di tangannya dan teknik dewa pedang, dia dapat mengimbangi petarung raja bintang tiga.


Zhou Fan tersenyum puas, kemudian dia beranjak ke kamar mandi, berdiam diri begitu lama membuat tubuhnya terasa lengket.


Tak lama dia keluar dengan balutan pakaian hitam, tangannya mengacak rambutnya yang basah menggunakan sebuah handuk.


"Ah... Segarnya, membasuh diri di saat saat seperti ini memang sebuah kenikmatan tersendiri." Zhou Fan bergumam sembari melangkah ke ranjangnya.


Saat dia ingin turun ingin mencari makanan, tiba tiba sebuah cahaya terpancar dari cincin penyimpanannya.


"Kenapa mendadak bercahaya," ucap Zhou Fan heran.


Zhou Fan dengan segera memejamkan matanya, mengirim kesadarannya untuk melihat benda apa yang bersinar dari dalam cincin penyimpanan.


Setelah menemukan asal cahaya tersebut, Zhou Fan melambaikan tangannya, tak lama kemudian dua buah giok berwarna hijau bersinar redup, dari permukaannya terlihat jelas retakan.


Zhou Fan terdiam, tiba tiba sebuah ingatan terlintas dalam pikirannya.


***


Flasback on....


Malam sebelum Zhou Fan pergi untuk berpetualang...


Zhou Fan yang tengah tiduran di ruangannya, terperanjat saat menjumpai ibunya tiba tiba berteriak.


"Ibu~ bisakah kau tidak berteriak, bahkan tanpa tenaga dalam suaramu sudah sangat menggelegar." Zhou Fan mengatakan dengan nada mengeluh.


Zhou Qian menatap putranya tajam, tak terima dengan ucapan yang dilontarkan kepadanya.


Saat Zhou Qian menarik nafas dalam dalam, spontan Zhou Fan menutup kedua telinganya.


"Apa yang kau katakan, Ha?!" Zhou Qian berteriak lebih keras, membuat Zhou Fan membatin.


"Huft... Aku heran kenapa aku tak suka berteriak seperti ibu?" Zhou Fan memasang wajah serius, dia bergumam dalam hati.


Sepertinya dia harus berpikir ulang, apakah benar dia adalah putra dari wanita yang sekarang berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.


Merasa aman, Zhou Fan membuka kedua tangan yang yang membekap telinganya "Ibu, sebenarnya apa yang kau perlu denganku, sampai malam malam menemuiku?"


Huft..


Zhou Qian menghela nafas untuk mengatur nafasnya, kemudian memandang Zhou Fan.


"Fan'er, masukkan sedikit auramu kedalam giok ini!" Zhou Qian menunjukkan sebuah giok indah berwarna hijau di tangannya.


"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, ibu?" tanya Zhou Fan dengan mata menyipit.

__ADS_1


"Bisakah kau tak banyak bertanya!" ujar Zhou Qian sedikit kesal, dia sudah kesal dengan putranya yang akan pergi meninggalkannya, menghadapi pertanyaan dari Zhou Fan membuatnya semakin kesal.


"..." Zhou Fan tak berani membantah ibunya, dia melakukan sesuai apa yang dikatakan sang ibu.


"Sudah, lalu apa?" Zhou Fan memandang ibunya.


"Kau simpan kedua giok ini dalam cincinmu!" Zhou Qian mengeluarkan dua giok yang sejenis dari dalam cincin penyimpanannya.


"Apa sebenarnya yang ingin ibu lakukan?" Zhou Fan bertanya dalam benaknya.


Zhou Fan berusaha mencari dalam pikirannya, mengingat apakah ada gambaran tentang giok itu di dalam kitab emperor.


Huft..


Zhou Fan menghela nafas, dia tak mendapatkan sedikitpun gambaran tentang giok tersebut.


Zhou Fan tertawa kecil di dalam hati, dia tak mengira kitab emperor memiliki kekurangan.


Tapi mengingat kitab emperor juga merupakan kitab yang di buat oleh manusia, dia memaklumi karena tidak ada makhluk yang sempurna.


Zhou Fan berpikir giok ini ditemukan setelah kitab emperor di tulis, karena tidak ada satupun pembahasan tentang giok itu dalam kitab emperor.


"Simpanlah baik baik, dan ibu akan menyimpan giok berisi aura-mu." Zhou Qian memasukkan giok yang sudah menyerap aura Zhou Fan.


"Ibu, bisakah kau jelaskan kepadaku?" Zhou Fan menarik lengan pakaian ibunya.


"Itu adalah giok kehidupan, seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi kepada orang yang masukkan auranya kedalam giok tersebut...,"


"Dengan membawanya bersamamu kau akan tahu keadaan ibu dan ayah di sini." Zhou Qian mengatakannya dengan sangat jelas.


"Owh... " Zhou Fan mengangguk, mulutnya membulat membentuk huruf O.


"Jadi seperti ini bentuknya giok kehidupan," ujar Zhou Fan dalam benaknya.


Giok kehidupan sudah sering dia dengar, tapi bagaimana bentuk dan cara menggunakannya dia tidak begitu tahu.


Dia heran, kenapa saat dia pergi ke hutan mati, ibunya tidak memberikan kepadanya. Namun, dia memilih untuk berpikir 'mungkin ibunya lupa akan hal itu'.


Flasback of....


****


Zhou Fan seketika membelalakkan matanya, nafasnya memburu, dadanya terasa sesak.


Dia dengan cepat melesat, keluar dari jendela penginapan, pergi ke arah barat.


Tangannya mengepal erat, sampai tak terasa darah segar merembes dari sela selanya. Matanya memancarkan ketakutan, takut akan sesuatu yang bahkan tidak berani ia pikirkan.


"Ayah ibu.. Aku akan segera kembali!"

__ADS_1


__ADS_2