
Patriark Yu berdiri dari duduknya dan melesat cepat ke arah Zhou Fan.
Cekk.. .
Leher Zhou Fan dicekik oleh Patriark Yu, Zhou Fan masih bisa bertahan, tapi dia tak bisa melepaskannya.
Patriark Yu telah berada di tingkat petarung raja bintang 1, Zhou Fan belum sanggup menghadapinya.
"Beraninya kau melukai anakku!" Patriark Yu bersikap impulsif, seolah lupa akan kehadiran tuan kota.
"Heh! putramu sangat lemah, salahkan saja dia yang lemah dan tak berguna itu." Meskipun dalam keadaan terdesak, Zhou Fan tak mau menunduk.
Karena, tak ada siapapun yang berhak menerima sujudnya kecuali orang tua dan gurunya.
Semua orang menahan nafas ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zhou Fan.
Padahal dalam pikiran setiap orang, Zhou Fan akan merendah dan meminta pengampunan, tapi apa yang terjadi di luar pikiran semua orang.
Anggota Klan Qing juga begitu terkejut, meskipun mengetahui Zhou Fan sangat berani, meraka tetap terkejut melihat kejadian di hadapan mereka.
Patriark Qing bukan tak mau turun tangan, tapi tak bisa, selain kekuatannya berada di bawah Patriark Yu, dia masih memandang tuan kota yang juga berada di sini, dia hanya bisa berharap tuan kota akan menanganinya.
Benar saja, tak lama kemudian sebuah suara dominan menggema di seluruh taman kota.
"Yu Dan Rui, apakah kau tak menganggap keberadaanku di sini!"
Dia disini sebagai juri sekaligus pengawas, Patriark Yu mencari masalah saat dia menjadi pengawas, sungguh tak menganggap keberadaannya.
Patriark Yu tersadar, kemudian melepaskan cengkraman tangannya di leher Zhou Fan.
"Awas kau!" Bisik Patriark Yu saat kepala keduanya masih sangat dekat.
"Aku tak mengira Klan Yu bersikap begitu arogan, di hadapan tuan kota masih bersikap impulsif, sungguh klan besar!" Cibir Zhou Fan.
"Bahkan tuan kota tidak kalian pandang, aku rasa Klan Yu sungguh berjaya," Serunya lagi.
Muka Patriark Yu merah padam mendengar ucapan Zhou Fan, tapi dia berusaha dengan keras kenahannya.
Sementara anggota Klan Qing, hanya mengeleng sambil tersenyum kecut.
"Bocah ini! Mulutnya begitu tajam." Semua orang tertawa pelan mendengar gumaman tetua Qing Si.
Patriark Yu tak berani mengeluarkan kata lagi, mendapat sanggongan dari tuan kota benar benar membuat hati kecil pria tua itu gemetaran.
__ADS_1
Siapa yang tidak tahu akan kekuatan tuan kota yang menjadi kultivator terkuat kota kapur putih, bahkan orang pinggiran pasti sudah mendengarnya.
Dengan terpaksa Patriark Yu menggotong Yu San tanpa peduli pandangan semua orang, yang terpenting dalam pikiran Patriark Yu sekarang adalah membawa putranya kembali ke kediamannya dan segera mengobatinya.
Untuk masalah balas dendam dan segala macamnya, ia akan menunda setelah keadaan kota kembali tenang. Karena dia merasa kota ini akan menyudutkan Klan Yu setelah melihat jenius nomor satu sekaligus calon pewaris gelar Patriark dikalahkan dengan telak oleh pemuda tak berlatar belakang.
Patriark Yu dan rombongannya pergi dengan raut wajah menebal, menghadapi olokan dan tatapan remeh mengarah kepadanya, mereka tak bisa berbuat apa apa, hanya bisa berusaha seolah tak mengetahui ekspresi semua orang kepada dia dan anggota Klan Yu lainnya.
Dalam hati anggota Klan Yu termasuk Patriark Yu sendiri, menaruh dendam atas penghinaan yang di terima kepada Zhou Fan, pemuda yang menjadi biang keladi masalah ini.
"Awas kau bocah!!" Gumam Patriark Yu sambil melirik Zhou Fan tajam.
Zhou fan yang kebetulan juga menatap lirikan Patriark Yu tersenyum puas. Yang sekali lagi membuat pria tua itu semakin marah.
Shut!
Rombongan Klan Yu melesat meninggalkan area taman kota, mereka tak berniat lebih lama untuk tinggal di sana.
Sementara beberapa tokoh besar menghampiri Zhou Fan yang sudah berada di tempat Klan Qing.
"Saudara Zhou, kau sungguh mengagumkan!" Ucap Qing Manlu dengan mata berbinar.
"Haha bocah, kau memang lumayan." Qing Si menepuk pundak Zhou Fan.
Zhou Fan berbalik, kemudian melihat seorang pria tua yang dia ketahui adalah tuan kota kapur putih.
"Salam tuan kota!"
Semua orang memberikan salam kepada tuan kota termasuk juga Zhou Fan.
"Tidak perlu sungkan anak muda..." Tuan kota meraih pundak Zhou Fan.
"Kau adalah pemuda yang sangat berbakat, kau pasti akan mendaki sampai ke puncak. Dengan umurmu yang masih muda, kau ditakdirkan memiliki nama yang besar di Kekaisaran, tidak! mungkin bisa sampai ke luar Kekaisaran," Ucap Tuan Kota dengan wajah antusias, karena baru pertama kali dia menjumpai anak muda sejenius pemuda di hadapannya.
"Tuan kota berlebihan, pemuda ini masih jauh kalau dibandingkan dengan tuan kota sendiri." Zhou Fan merendah.
"Haha, kau sungguh pemuda yang bijak. Kau tak terbuai oleh pujian dan kemenangan, aku salut kepadamu anak muda." Tuan Kota memandang Zhou Fan selayaknya memandang putranya sendiri.
"Yang di katakan tuan kota sungguh benar. Tapi aku belum pernah mengetahui Klan Zhou di Kota Kapur Putih, dari mana asalmu anak muda?" Pria sepuh di samping Tuan Kota menyahut.
Zhou Fan menoleh ke pria sepuh yang berada tepat di samping tuan kota.
"Dia adalah tetua Hisyan, dia adalah tetua dari paviliun obat," Bisik Qing Manlu.
__ADS_1
Zhou Fan mengangguk, lalu memberi salam kepada pria sepuh di depannya.
"Suatu keberuntungan bisa bertemu dengan tetua Hisyan." Zhou Fan menangkupkan kepalan tinjunya.
"Tak perlu terlalu sungkan anak muda." Tetua Hisyan berkata sambil tersenyum.
"Anak muda ini memang bukanlah berasal dari kota ini, kota batu hitam, itu adalah tempatku tumbuh dan berkembang." Zhou Fan berkata sopan.
Semua orang yang belum mengetahui kebenaran itu seketika tersedak, karena tak bisa menerima kenyataan yang ada.
Sungguh? Kota Batu Hitam? Semuanya kompak melirik ke arah Zhou Fan.
Zhou Fan yang melihat ketidakpercayaan di mata semua orang mulai merogoh sakunya, dan dikeluarkannya token Klan Zhou miliknya. Karena di token itu sudah jelas terukir keterangan tentang siapa dirinya, juga terdapat lambang kota batu hitam disana.
"Emm... Kami percaya, tapi bagaimana bisa di Kota Batu Hitam terselip bakat mengerikan seperti dirimu? Bahkan jenius kota kapur putih tidak dapat mengalahkanmu...," Tanya Tuan Kota penasaran.
Semua mengangguk, tak terkecuali tetua Hisyan, hanya Patriark Qing, Qing Manlu dan tetua Qing Si yang tidak menampakkan wajah terkejut, karena mereka sudah mengetahui hal itu sebelumnya.
Sudah menjadi rahasia umum kota batu hitam adalah kota paling miskin, baik dalam materi ataupun sumberdaya.
"Dengan kerja keras dan keberuntungan, aku menjadi seperti sekarang." Zhou fan menjawab dengan singkat.
Tuan kota mengernyit tak suka, tapi itu hanya sesaat karena dia berpikir semua orang memiliki rahasia masing masing.
**
Tiga hari telah berlalu sejak duel di taman kota...
Sebagian orang sudah melupakan pertarungan itu, tapi tidak dengan Yu San, setelah pulih dari lukanya dia menjadi sangat giat berlatih.
Balas dendam menjadi tujuan utama dalam hidupnya. Sang 'tunangan' direbut di hadapan semua orang membuatnya sangat sangat merasa terhina.
Apalagi dia juga kalah dalam duel yang disaksikan banyak orang, beberapa hari belakangan namanya selalu menjadi buah bibir semua orang di seluruh kota.
Yu San yang saat itu masih terbaring di ranjang tidurnya, hanya bisa menutup mata dan telinganya. Tapi dalam hati ia sudah memupuk kebencian kepada Klan Qing dan Zhou Fan. Ia berjanji tidak akan membuat hidup keduanya baik baik saja.
Sementara di Klan Bai...
"Apakah kau sudah menemukan siapa yang membunuh putraku?!" Tanya Patriark Bai.
"Dugaan sementara masih samar Patriark, tapi kami akan berusaha sebaik mungkin. Dalam seminggu berikutnya kami akan menuntaskannya." Pengawal bayangan melaporkan hasil penyelidikan.
Dengan harapan bisa mencari informasi dari beberapa orang yang juga mengikuti penjelajahan makam, Patriark Bai yakin dapat menemukan siapa pembunuh putranya.
__ADS_1
"Aku akan membalaskan dendammu, Qu'er!"