
Keluar gerbang mereka kereta kuda dengan empat roda sudah menunggu di sana.
Meski itu lebih mahal dibandingkan dengan kereta kuda dua roda, sama sekali bukan masalah. Karena ada barang ada harga, dengan itu kereta akan lebih stabil saat berjalan.
Kusir juga telah siaga, mereka sudah siap berangkat. Dalam perjalanan Wei Guanlin kerap kali merasakan mual, Zhou agan yang tidak tahu apa yang terjadi berusaha menepuk punuk istrinya.
"Sebenarnya apa yang kau makan?"
Wei Guanlin menengadahkan kepala, menatap Zhou Fan lalu menjawab. "Beberapa roti."
Zhou Fan berpikir, dia juga makan roti yang sama, tapi dia tidak merasakan seperti yang Wei Guanlin rasakan. Ini jelas bukan masalah makanan, tapi selain itu dia tidak terpikir masalah lain.
Perlahan Wei Guanlin tidak lagi mual, Zhou Fan pun bisa bernafas lega. Menyaksikan istrinya seperti itu juga tidak tega.
Hari berganti, tak terasa mereka telah berada di kota Chennai. Tentu saja mereka menuju kediaman jendral besar, bagaimana pun dia adalah kakek Wei Guanlin.
"Aku sudah lama tidak bertemu dengan kakek, saat aku datang, malah membuat kakek khawatir. Aku merasa bersalah kepada nya."
Wei Guanlin mengatakan dengan nada menyesal, dia mengingat betul bagaimana kakek nya selalu terlihat khawatir saat mencoba membujuknya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, kakek tidak akan mempermasalahkannya. Kau adalah cucu yang paling dia sayangi." Zhou Fan mengelus punggung tangan wei Guanlin dengan ibu jarinya.
"Namun aku sudah sangat keterlaluan." Wei Guanlin masih saja memikirkan masalah itu, dia tidak bisa melepas begitu saja sebelum bertemu dengan kakeknya- Huang Yu.
Tak ada kata yang dapat Zhou Fan keluarkan, dia hanya diam dan mencoba menenangkan istrinya.
Beberapa saat berlalu, kereta berhenti tepat di hadapan gerbang kediaman yang megah. Itu adalah kediaman jendral besar Huang, lambang Kekaisaran Shi terpampang nyata di salah satu bagian gerbang.
Saat mereka sampai, dua orang penjaga datang menghampiri. Sang kusir yang hanya mengantar tentu saja langsung mengatakan 'saya hanya kusir, saya datang karena penumpang'.
Zhou Fan yang berada di dalam mengerutkan kening, Wei Guanlin baru saja bisa tertidur setelah di perjalanan kembali mual. Keributan ini terlalu keras, bisa saja istrinya terganggu.
"Siapa yang menghalangi?" Zhou Fan gak habis mengerti. Yang akan masuk adalah cucu pemilik kediaman, kenapa malah dihentikan seperti ini.
Dia melihat dua penjaga yang tidak asing dalam ingatannya. Senyum samar terluka di wajahnya, perlahan dia mendekat.
"Apa yang kalian lakukan?" Zhou Fan menepuk kedua pundak penjaga, mereka pun memalingkan wajah memandang seorang yang memanggil.
Kedua penjaga itu menyipitkan mata, mereka seperti pernah melihat pemuda ini, tapi tidak mengingat kapan dan di mana mereka pernah bertemu.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian mereka seolah mendapat sebuah pencerahan, tapi itu mengubah air muka mereka menjadi pucat.
"Tuan muda... "
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, membuat kedua penjaga itu semakin gelagapan.
Kedua penjaga itu sangat ingat saat dimana jendral besar Huang mengumumkan cucu menantu nya, walah inilah yang saat itu di tunjuk oleh Jendral besar Huang.
"Apa kalian akan menghentikan ku lebih lama?"
Kedua penjaga itu langsung berlari ke arah gerbang. Tanpa banyak membuang waktu membuka gerbang lebar lebar.
Kemudian mereka kembali ke tempat Zhou Fan berdiri. "Maafkan kami tuan muda, sungguh ini merupakan kelalaian kami."
Zhou Fan tidak memperpanjang masalah ini, selain itu juga kedua penjaga ini sebenarnya hanya melakukan tugasnya.
Bersamaan dengan itu, Wei Guanlin keluar dari kereta kuda. "Sudah sampai? Kenapa tidak membangunkan ku?"
Zhou Fan menoleh, dia pun menghampiri istrinya yang nampak lesu dengan wajah sedikit pucat. "Seharusnya kau tidak keluar."
__ADS_1
Belum juga Wei Guanlin menjawab, dari gerbang yang terbuka segerombolan lebah datang dan langsung menyerang.
"Datang tidak langsung masuk, tapi malah ngerumpi."