Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 79 : Gadis Aneh


__ADS_3

"Jadi, apa yang kalian bicarakan tadi?!" Tanya Zhou Fan sambil menenggak kendi arak itu.


"Beberapa hari dari sekarang, suryasena akan dibuka," Kata seorang pemuda yang menyebut dirinya Rui Sa.


"Suryasena?!" Zhou Fan nampak terkejut mendengar ucapan pemuda disebelah kirinya.


"Ha, kau pasti ingin ikut juga, kan?" Rui Sa bertanya sambil terus meneguk kendi araknya.


"Aku saja tidak tahu apa itu suryasena, buat apa aku mengikuti apa yang tidak aku ketahui dengan jelas keuntungannya." Zhou Fan berbicara dengan wajah sedikit memerah, bukan karena tersipu, tetapi ia sudah mulai mabuk.


Ini adalah kendi ke tiga untuknya hari ini, memang pantas jika pemuda itu mulai mabuk.


Meskipun begitu, Zhou Fan masih bisa mengendalikan tubuhnya sepenuhnya.


"Suryasena adalah sebuah ujian yang secara rutin digelar beberapa tahun sekali." Pemuda yang dari tadi diam akhirnya ikut menyambar.


Pemuda itu bernama Rui Zu. dibandingkan dengan Rui Sa, pemuda ini lebih kalem, tapi semua orang pasti dapat melihat seperiornya Rui Zu.


Pemuda ini sudah berada di tingkat petarung master bintang 4, dibandingkan Rui Sa, Rui Zu lebih unggul tiga bintang.


"Hanya sebuah kompetisi, untuk apa kalian berdua seheboh ini." Pertanyaan Zhou Fan yang blak blakkan membuat Rui Sa sedikit tidak terima.


"Kau sepertinya baru tiba di kota kapur putih, semua orang yang berasal atau pernah singgah di kota ini pasti tahu apa itu suryasena," Cibir Rui Sa.


Rui Zu menganggukkan kepalanya paham, ia mulai sedikit memahami Zhou fan.


"Suryasena berbeda dari kompetisi yang pernah kau lihat atau jalani, dalam suryasena semua peserta akan memasuki sebuah makam kuno yang memang menjadi identitas kota ini..."


"Disana terdapat banyak sekali keajaiban, dari mulai kitab jurus dan teknik tingkat tinggi, senjata, tanaman herbal bahkan air spiritual yang sangat langka. Tapi itu semua tergantung seberapa beruntung dirimu." Rui Zu menutup penjelasannya dan melihat Zhou Fan.


Mendengar penjelasan Rui Zu, Zhou Fan malah semakin tidak mengerti, pemuda itu mengernyitkan dahinya kemudian bertanya lagi.


"Kalau sebegitu hebatnya makam kuno itu, bukankah seluruh orang akan ikut ke makam kuno itu?!" Tanya Zhou Fan.

__ADS_1


"Inilah yang membuat kami, para generasi muda bersemangat. Makam kuno ini memiliki sebuah aturan, barang siapa yang telah berumur lebih dari 27 tahun tidak bisa memasukinya," Sahut Rui Sa.


Zhou fan menganggukkan kepalanya paham, "Tapi, jika ada yang nekad memasukinya dan orang itu berumur lebih dari 27 tahun, bagaimana?"


"Makam kuno tidak akan membiarkannya, jika ada seseorang yang memaksa masuk, dan usianya lebih dari 27 tahun, orang itu akan terbakar api abadi di depan mulut gua...." Rui Zu menghela nafas sejenak.


"Bahkan jika seorang petarung kaisar sekalipun!" Rui Zu membandingkannya dengan petarung kaisar, karena yang pemuda itu ketahui adalah petarung kaisar adalah tingkatan paling tinggi dalam tingkatan kultivasi.


Bahkan orang paling kuat di Kekaisaran Wei hanya berada di tingkat petarung kaisar bintang 4, itupun sudah berumur ratusan tahun. Seorang kultivator, semakin tinggi tingkatannya semakin sulit pula untuk meningkatkannya.


Zhou Fan sekali lagi menganggukkan kepalanya paham.


Zhou Fan mengetahui apa itu api abadi, api abadi adalah api yang tercipta dari energi alam, api itu tidak akan pernah padam, bahkan ketika air menguyurnya.


"Oh ya, dari yang pernah aku dengar, disana juga terdapat sebuah pedang kuno yang terletak di tengahnya, semua orang pernah mencoba untuengangkatnya tetapi tidak ada yang bisa." Rui Sa teringat akan pedang kuno yang kabarnya terletak di pusat makam kuno itu.


Pedang? Zhou Fan berpikir untuk mendapatkan pedang itu. Pedang yang semua orang dapat menariknya, bukankah merupakan senjata tingkat tinggi? Zhou Fan tersenyum samar.


***


Tanpa sungkan Zhou Fan memasuki gedung itu. Dilihatnya ada seorang pria tua sedang duduk di sebuah kursi santai, dengan ditemani segelas teh dan cemilan.


"Pak tua!" Panggil Zhou Fan pada pria tua tersebut.


Orang yang Zhou Fan panggil pak tua itu menoleh." Apakah kau mencari sebuah senjata anak muda?"


"Tidak tidak..." Zhou Fan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku kemari ingin memesan sebuah senjata, aku dengar disini adalah tempat yang tepat untuk membuat sebuah senjata."


"Tentu saja anak muda, toko pusat senjata adalah yang terbaik dalam hal ini. Bahkan nama pusat senjata sudah menyebar sampai Ibukota," Terangnya dengan bangga.


"Bagus!" Zhou Fan mengangguk, lalu mengeluarkan kertas desain senjata pesanannya. "Ini adalah senjata yang aku inginkan, apakah bisa selesai dalam dua hari?"


Pak tua itu memeriksa kertas dari tangan Zhou Fan, semakin lama semakin

__ADS_1


pias wajah pak tua itu.


"Senjata ini..." Pak tua itu menoleh ke arah Zhou Fan dan dibalas anggukan oleh pemuda itu. "Baiklah, akan kami usahakan dan juga apakah ada yang lain anak muda?"


"Seperti nya, itu saja." Zhou Fan berbalik pergi. "Oh aku akan melihat lihat sebentar, siapa yang tahu aku sedang beruntung."


"Kalau bagitu nikmati waktumu anak muda." Pamit pak tua itu sambil berjalan meninggalkan Zhou Fan.


Sepeninggalnya pak tua itu, Zhou Fan berniat pergi ke lantai dua yang memang menjadi tempat untuk menyimpan barang barang bagus.


Saat tiba di lantai dua, Zhou fan melihat lihat sekitar. Zhou fan tanpa sadar bergumam, "Sangat ramai."


Sejauh matanya memandang, hanya ada gerombolan orang di dalam lantai dua.


"Hei kawan!" Zhou Fan merangkul seseorang dari arah belakang, lengannya melingkar di bahu orang itu.


Eh! Orang yang Zhou Fan rangkul terkejut, saat mendapati sebuah lengan di pundaknya


Melati? apakah pria sekarang begitu menyukai wewangian? pikir Zhou Fan yang mencium aroma melati dari tubuh 'pemuda' didekatnya.


Zhou Fan melirik ke wajah orang yang ia anggap pria itu dan seketika ia melompat menjauh.


Wanita? Zhou Fan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar mesum! Kau, beraninya kau..." 'Pemuda' yang ternyata adalah seorang gadis itu menunjuk Zhou Fan dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menyilang menutupi dadanya.


"Ah, maaf nona." Zhou Fan menangkupkan kedua tangannya. "Kau terlihat seperti seorang pria."


"Beraninya kau menyebut nona ini seperti pria!" Gadis yang terlihat seusia Zhou Fan itu terus merongrong marah.


"Gadis mana yang memakai pakaian pria saat keluar," Gerutu Zhou Fan mengeluh pelan.


Sebenarnya Zhou Fan tidak sepenuhnya salah. gadis itu memakai pakaian layaknya seorang pria, dan dengan belati di pinggangnya membuat Zhou Fan semakin yakin bahwa dihadapannya adalah seorang pria.

__ADS_1


Gadis itu semakin marah mendengar gerutuan Zhou Fan, memasang wajah galak dia kemudian berkata.


"Apa yang kau bilang?! Aku masih bisa mendengarnya!"


__ADS_2