
"Sampah!" desis Zhou Fan sambil melangkahkan kakinya pergi.
Tapi sebuah lontaran kalimat tajam menghentikannya.
"Hei kau! Pemuda jelata?!"
Zhou Fan yang mengetahui kalimat tersebut diarahkan kepadanya membalikkan badannya, kemudian mendekat ke arah pemuda yang berteriak ke arahnya.
Jarak keduanya semakin dekat, bahkan hanya tersisa satu langkah besar diantaranya.
Zhou Fan menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mencari sesuatu.
Beberapa orang yang memerhatikannya menjadi bingung berjamaah.
Apa yang di lakukan pemuda tersebut? Semua orang memiliki pertanyaan yang sama dalam benaknya.
Merasa tak menemukan apa yang dia cari, Zhou Fan kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Apakah kau berbicara kepadaku, tuan muda..." Zhou Fan mengatakan 'tuan muda' dengan nada mencibir.
Seketika kepala Tuan Muda Shang mengeluarkan asap, wajahnya merah menahan marah.
"Kau..." Tuan Muda Shang tak bisa berkata lagi, amarahnya sudah memenuhi kepala tuan muda tersebut.
Hap... Fiuhhh...
Tuan Muda Shang mengambil nafas untuk menenangkan amarah yang marasuki dirinya.
Sementara beberapa pengunjung paviliun obat mulai menepi karena tak ingin terlibat dalam masalah.
Para pengunjung itu menjauh sambil menyampaikan perasaan bala sungkawa kapada Zhou Fan.
"Sungguh sial pemuda kumal itu, dia menyinggung Tuan Muda Shang. Semua orang tahu tak akan ada yang berakhir baik jika berurusan dengan Tuan Muda Shang."
"Tapi kalau di lihat lebih jelas, tak ada raut khawatir ataupun takut dalam wajah pemuda tersebut, dia tenang layaknya air."
"Huh, aku rasa dia sudah pasrah dengan akibat yang akan dia tanggung."
Sepasang pemuda berbicara setengah berbisik sambil berusaha menjauh dari tempat tersebut.
Sementara tuan muda Shang memasang wajah arogannya, sifat angkuhnya tergerak saat mendengar obrolan orang sekitar yang begitu 'menghormatinya'.
"Apakah kau hanya akan diam disana? Cepatlah berlutut di hadapan tuan muda Shang, mungkin dia akan memberikanmu keringan." Salah seorang pelayan disamping tuan muda Shang berkata sinis terhadap Zhou Fan.
Beberapa orang menunggu dengan tegang apa yang akan dilakukan pemuda berpakaian kumal tersebut.
Tak lama suara angkuh sang tuan muda membuat semua orang ikut senang dengan apa yang akan di dapatkan Zhou Fan.
"Yah, berlutut lah! Aku akan membiarkan masalah ini berlalu setelah kau berlutut satu menit di bawah kakiku." Tuan Muda Shang berkata dengan tawa menghina.
Di saat semua merasa Zhou Fan sedang beruntung karena akan lepas begiti saja, suara pemuda tersebut membuat seisi ruangan lantai satu terkejut bukan main.
"Berlutut?! Apakah kau layak?" Zhou Fan menampakkan seringai di wajahnya.
"Kau..." Saat pelayan di sampingnya akan berteriak marah, Tuan MudaShang memberi isyarat untuk diam.
__ADS_1
Sst!
Tuan muda Shang mendesis sebagai tanda diam, kemudian bertepuk tangan sambil memutari Zhou Fan.
Prok prok prok...
"Kau pemuda yang berani," puji Tuan Muda Shang, namun wajahnya sangat jelas bahwa dia sedang kesal sekaligus marah.
"Kalau aku tak layak, siapa yang layak bagimu?" tanya Tuan Muda Shang sambil kembali ke posisinya semula.
Zhou Fan mendengus kemudian berkata. "Heh... Apakah seorang anjing layak untuk mendapatkan sujudku? Bahkan jika induk si anjing itu datang, tak akan mambuat diriku ini berlutut di hadapannya ... "
" ... Kerena hanya orang tua serta guruku yang berhak atas sujudku." Zhou Dan menyambung ucapannya dalam hati.
Tuan Muda Shang mengernyitkan keningnya.
Anjing, apakah dia baru saja menyamakan tuan muda berwibawa ini dangan seekor anjing? pikir Tuan Muda Shang yang mulai meradang.
Beberapa orang yang mengerti perumpamaan Zhou Fan menahan untuk tidak tertawa, atau dia akan masuk kedalam lingkaran masalah.
"Berani sakali kau menyebut Tuan Muda Shang dengan anjing!" Pelayan di samping Tuan Muda Shang menghardik Zhou Fan.
"Aku tak mengatakannya loh, dia yang mengatakannya." Zhou Fan menggoyangkan tangannya cepat setalah menunjuk pelayan wanita di samping Tuan Muda Shang.
Eh! Pelayan itu terkejut dengan ucapan Zhou Fan.
Tuan Muda Shang menatap pelayan itu dengan tatapannya yang mencekam, sorotan matanya setajam pedang.
Plak!
"Beraninya kau!" ujar Tuan Muda Shang dengan marah sambil menunjuk pelayan wanita yang kini tengah terkapar di lantai.
Kemudian menatap tajam ke arah pelayan wanita di sisi yang lain.
Seketika pelayan tersebut melepaskan pegangan tangannya, dan menjauh sejauh jauhnya.
Tuan Muda Shang kemudian beralih ke pemuda yang dengan berani mempermainkannya.
"Kau tahu siapa aku?!" bentaknya kepada Zhou Fan.
Zhou Fan tak peduli dengannya, pemuda itu menoleh ke belakang mencari seseorang, kemudian menatap ke depan setelah tak melihat siapapun di belakangnya.
"Aku?" tanya Zhou Fan santai dengan menunjuk dirinya sendiri, tak ketinggalan juga dia memasang wajah tak bersalah.
"Ya, bodoh! Siapa lagi kalau bukan pemuda sial sepertimu!" Tuan Muda Shang benar benar sudah emosi jiwa menghadapi pemuda kolot seperti Zhou Fan.
Zhou Fan mengangguk tenang, kemudian membuka mulutnya.
Sementara tuan muda Shang yang tadinya marah, seketika reda amarahnya saat melihat Zhou fan mengangguk. "Bagus jika kau tahu siapa aku."
"Tuan muda Shang!" ujar Zhou Fan acuh.
Duar!
Kepala Tuan Muda Shang separti akan meledak, mendengar jawaban pemuda di hadapannya.
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu!!" Teriak marah Tuan Muda Shang, pemuda itu mengangkat tangan, bersiap memukul Zhou Fan.
Tuan Muda Shang bersiap mengeluarkan serangan. Tapi sebuah suara halus namun tegas memaksanya berhenti.
"Apa yang akan kau lakukan Tuan Muda Shang?"
Seisi ruangan seketika menoleh ke sumber suara, dan seorang wanita dewasa berjalan anggun menuruni tangga.
Wanita tersebut tak lain adalah penerus paviliun obat. Murid sang alkemis agung, Sin Taihan. Bernama Zhang Xiaoyu.
Zhang Xiaoyu yang kini berusia 25 tahun telah menjadi alkemis bintang 2. Sungguh jenius jika tak membandingkannya dengan Zhou Fan.
"Nona Zhang," sapa Tuan Muda Shang.
Siapa yang tak mengenal murid sang alkemis agung, Zhang Xiaoyu.
Meskipun berstatus sebagai seorang murid, Zhang Xiaoyu memiliki posisi yang sama dengan para tetua. Hal tersebut membuat beberapa orang akan berusaha menjalin hubungan baik dengannya.
Zhang Xiaoyu hanya melirik sekilas lalu mengangguk saat mendengar sapaan tuan muda Shang.
Beberapa orang disana yang melihat Zhang Xiaoyu berjalan mulai membicarakannya.
"Sungguh seorang dewi yang turun dari langit."
"Tidak hanya cantik, tapi juga seseorang yang berbakat dalam alkemis."
"Andai dia menjadi pendamping hidupku, aku rela jika harus kehilangan setengah umurku."
"Jika aku, aku akan memberikan semua yang dia inginkan."
Semua orang mulai berkhayal dengan dunia fantasi miliknya.
Ehem!
Zhang Xiaoyu menyadarkan semua orang yang sedang memikirkan dirinya, hanya berdehem saja membuat semua orang memandang ke arahnya.
Pandangan Zhang Xiaoyu tak teralihkan dari pemuda berpakaian sedikit kumal.
"Tak pernah aku lihat seorang pemuda yang tak terpengaruh dengan wajahku," gumam Zhang Xiaoyu di dalam hatinya, sambil berjalan mendekat ke arah pemuda tersebut dan tuan muda Shang.
Zhang Xiaoyu jelas heran dengan sikap pemuda berpakaian kumal yang tak lain adalah Zhou Fan. Dia merupakan wanita yang dikatakan sebanding dengan kecantikan tuan putri Wei.
Jika Tuan Putri Wei merupakan malaikat, Zhang Xiaoyu adalah bidadari. Mereka berdua sudah sangat terkenal akan kecantikannya di seluruh ibukota.
"Apa yang akan kau lakukan Tuan Muda Shang, apakah kau ingin mengacau di paviliun obat." Zhang Xiaoyu kembali bertanya.
"Kau salah paham denganku Nona Zhang, dia ... Dialah pembuat onar yang sesungguhnya." Tuan Muda Shang menunjuk Zhou Fan yang dari tadi diam.
Sedangkan yang di tunjuk malah menampakkan wajah tak peduli.
Zhang Xiaoyu mengikuti arah telunjuk Tuan MudaShang.
Zhang Xiaoyu melihat bagaimana wajah tenang Zhou Fan di tengah situasi yang menyudutkannya.
"Pemuda kumal ini begitu berani!"
__ADS_1