
Desa Bambu Panjang...
Gabungan klan Kota Kapur putih harus menelan pill pahit, mereka kalah telak dengan pasukan perkumpulan gerhana yang didukung oleh kediaman Tuan Kota.
Meskipun perbedaan jumlah tidak terlalu dominan, jarak kekuatan antar setiap orangnya terlalu menonjol.
Jika rata rata gabungan klan kapur putih selain tetua juga patriark, memiliki kultivasi tingkat petarung master bintang tujuh, maka rata rata anggota perkumpulan gerhana memiliki kultivasi petarung master bintang delapan.
Tak membutuhkan waktu terlalu lama untuk pasukan perkumpulan gerhana mengalahkan lawannya. Namun, seolah tengah terburu-buru mereka langsung pergi tanpa mempedulikan orang orang klan kapur putih yang terluka.
Sekejap mata pasukan yang terdiri belasan ribu orang itu sudah tak lagi terlihat, meninggalkan pasukan gabungan Klan Kapur Putih di Desa Bambu Panjang.
"Sepertinya mereka akan bergerak ke pusat pertempuran yang terjadi di desa karang hijau?" gumam patriark Qing yang terduduk dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Tuan Kota telah berkhianat, aku tak mengira orang aku segani malah membantu perkumpulan gerhana menghancurkan menggulingkan kekuasaan." Patriark Yu atau tetua pertama mengatakan sambil berusaha bangkit dari duduknya, tubuhnya yang terluka terasa amat berat baginya.
"Mereka tak pantas menjadi bagian dari Kota Kapur Putih!"
"Kota Kapur Putih bukan tempat untuk para pengkhianat!"
Mereka yang tidak mengetahui alasan Tuan Kota memaki juga menyumpah serapah pria yang sudah memimpin Kota Kapur Putih puluhan tahun.
Mereka seolah melupakan bagaimana perangai Tuan Kota selama bertahun tahun, membangun Kota Kapur Putih menjadi Kota yang terkenal akan pandai besinya.
....
Desa Karang Hijau...
Pertarungan masih terus berjalan. Pasukan Wei Huan dibantu dengan pasukan Wei Yun semakin menguasai alur pertarungan, tapi itu tak bertahan lama.
Di saat beberapa orang mulai berpikir pihak Kekaisaran akan memenangkan pertempuran, sebuah pasukan kembali hadir dengan begitu mengejutkan.
Wei Jia yang sudah menantikan sejak lama kedatangan mereka, menjadi bersemangat saat melihat bendera hitam dengan lambang matahari bulan mengibar.
"Hahaha... Lihat pasukanku kembali datang, apakah kau pikir kau akan mengalahkanku?" Wei Jia memandang Wei Huan yang melirik pasukan yang baru datang.
Bagai ombak yang menghantam karang, pasukan yang di bawa Yang Yu'er langsung berbaur dan menyerang orang berzirah keemasan.
"Hng..." Wei Huan mencoba untuk tidak peduli, dia berusaha fokus mengalahkan Wei Jia yang selalu bersama Penatua Du.
Sekali lagi alur pertempuran berbalik, seolah pertempuran hanya masalah waktu.
Di tengah pertempuran, pemuda berwajah hitam bertarung dengan seorang pasukan perkumpulan gerhana. Kultivasinya yang berada di tingkat petarung master bintang sembilan harus berusaha kuat untuk mengalahkan orang yang berada di tingkatan sama dengannya.
__ADS_1
Trang.. Tring..
Lee terus menggempur lawannya bahkan dia sudah mengerahkan segala usahanya, tapi pengalaman bertempur lawannya jauh lebih tinggi darinya.
Namun, pemuda berwajah hitam itu tak hilang akal, dengan memanfaatkan kegesitannya dia melakukan gerakan zig-zag.
Sambil melangkah Lee terus memainkan pedangnya, gerakan yang sangat cepat membuat lawan Lee kewalahan, dan pada satu kesempatan pemuda itu dapat memenggal kepala sang lawan.
Bruk!
Lee menatap tubuh terbaring tak bernyawa dengan nafas memburu, dia kemudian mengeluarkan pill pemulihan dari cincin penyimpanan dan segara melahapnya.
Pertempuran sudah lama terjadi, banyak korban berhamburan, bahkan hampir setengah dari jumlah keseluruhan.
"Yang Mulia... !" Ban Fulong tiba tiba berteriak saat tak sengaja melihat Wei Huan dikepung tiga orang sekaligus.
Wei Huan mulai terdesak dengan Tang Yu'er yang baru saja bergabung, meskipun wanita itu berada di tingkat petarung raja bintang tiga, senjata serta kecepatannya tidak lebih buruk dari Wei Jia yang berada di tingkat petarung raja bintang lima.
Trang... Tring...
"Beraninya kau meremehkanku! Terima akibatmu!"
Sret...
Perlahan lengan ya mulai sedikit membaik, tapi tak bisa langsung pulih begitu saja.
"Jangan kau pikir aku masih sama seperti dulu! Akan aku jamin tombakku akan menusuk lebih dalam meski kau hanya lengah sesaat." Que Ye mengatakan dengan memutar tombaknya.
Cis...
Ban Fulong tak menghiraukan perkataan Que Ye, dia masih berusaha mengamati keadaan Wei Huan.
"Sialan, aku bilang jangan meremehkanku!" Que Ye melompat dengan wajah memerah marah, kelakuan Ban Fulong sangat tidak dapat dia terima. Seakan tidak menganggap keberadaannya.
Trang!
"Aku tak meremehkanmu, tapi kau tak akan tahu bagaimana rasanya mengkhawatirkan seseorang, karena hidupmu terlalu menyedihkan!"
Trang.... Sret!
Ban Fulong menghempaskan tombak Que Ye dan membuat pria tua itu mundur beberapa langkah.
"Pangeran... ! Bantu Yang Mulia!" Ban Fulong berteriak kepada Wei Yun yang terlihat sudah tak mempunyai lawan untuk bertarung.
__ADS_1
Pemuda berusia dua puluh delapan tahun itu dengan spontan menoleh ke Ban Fulong, dan mengangguk dengan cepat, setelah itu dia melesat ke tempat ayahnya berada.
Que Ye tidak langsung menerjang, dia berdiri tegak membalas perkataan Ban Fulong.
"Kenapa harus susah mengurusi hidup orang lain? Aku tak akan sesenggang itu untuk melakukannya ... "
"Keluarga adalah beban seorang petarung, beban akan membuat seorang petarung lemah, dan aku tak suka menjadi lemah. Persetan dengan hubungan, karena yang terpenting adalah kekuatan!" Que Ye tertawa lantang setelah mengatakannya, pemikirannya merupakan pegangan dalam hidupnya.
"Aku prihatin dengan nasibmu! Di usiamu yang menginjak seratus tahun kau tidak mempunyai orang yang memperhatikanmu, bahkan untuk sekedar menanyakan keadaan ... "
" ... Sekte tombak angin tidak seperti sekte pedang suci yang mengutamakan kekeluargaan, sekte mu terlalu keras terhadap anggota." Ban Fulong memandang Que Yue dengan senyuman sinis.
"Diam kau kambing!" Que Ye melompat sambil mengayunkan tombaknya, tangan kiri yang membentuk cakar ikut mengais tubuh Ban Fulong.
Namun, dengan menarik tubuhnya sedikit ke belakang, Ban Fulong berhasil menghindari serangan dia arah patriark sekte tombak angin itu.
Tak sampai disitu, Que Ye langsung mengibas tombaknya berkali kali. Sambil menyerang dia terus bergerak maju.
Ban Fulong menangkis sambil mundur, pedangnya bergerak cekatan menghalau serangan Que Ye.
Bust...
Tombak Que Ye menusuk tanah hingga tenggelam separuh. Ban Fulong yang merasa ini adalah saat yang tepat dengan secepat kilat menghunuskan pedang sambil mengayunkan tangan.
Prang...
Tak sesuai dugaan, Que Ye melengkungkan gagang tombaknya dan melepas bagaikan pegas yang terus bergerak.
Wei Huan yang semula satu lawan tiga, berdiri saling memunggungi dengan sang putra menghadapi tiga lawan sekaligus.
"Yun'er tetap siaga!" Wei Huan berpesan kepada putranya.
Tak terasa sudah dua hari pertempuran berlangsung, tapi mereka seolah tak mengenal lelah, bertarung memperjuangkan kemenangan. Pagi siang malam tak dapat mengahalang tekad pertarungan.
Tiba tiba sebuah teriakan terdengar dari atas benteng, entah apa yang diteriakkan sampai membuat beberapa orang menengadahkan pandangan.
Seorang pemuda terjun dari atas benteng, dengan sebuah pedang di tangan kanannya.
Bhaam!
Zhou Fan menghantam tepat di tengah Wei Huan dengan para lawannya, membuat lawan pria tersebut melompat menjauh.
Sambil memanggul pedang di bahu, Zhou Fan membuka mulutnya tampa melihat Wei Huan yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Jangan lupakan aku ayah mertua!"