
Zhou Fan yang tengah melesat dengan kecepatan tinggi tiba tiba berhenti dengan kening mengerut.
Srettt...
Zhou Fan menarik kerah pakaian belakang pria paruh baya, dia membawa layaknya seekor anak kucing, Zhou Fan melompat ke samping dan berdiri di balik bangunan.
"Paman, bukankah kau bilang perkumpulan gerhana membawa seluruh orangnya?" Zhou Fan bertanya sambil melepaskan cengkraman tangannya.
Pria paruh baya merapikan pakaiannya, meskipun terlihat kotor, dia tetap melakukannya.
Tak jauh dari bangunan besar yang menjadi tujuan, beberapa pria tengah duduk dengan permainan papan di tengah mereka.
"Menurut pemantauan yang aku lakukan memang demikian, tapi aku tak tahu jika masih ada yang berjaga." Pria paruh baya dapat merasakan beberapa orang itu dengan tingkat kultivasi petarung grand master bahkan petarung raja.
Zhou Fan menelisik kekuatan kumpulan pria itu, sekitar sembilan orang berada di sana. Beruntung yang paling kuat berada di tingkat petarung raja bintang satu, tidak masalah bagi Zhou Fan yang memiliki kekuatan setara dengan petarung raja bintang tujuh.
"Paman kau sebaiknya datang belakangan, karena pemuda tampan ini ingin membuat pertunjukan!" ucap Zhou Fan dengan bibir menyeringai.
Pria paruh baya hanya menggaruk tengkuk kepalanya, tak bisa berpikir sejalan dengan pemuda yang menurutnya sangat aneh.
"Apa yang hendak dia lakukan, meskipun dia kuat, apakah bisa mengalahkan sembilan orang sekaligus, bahkan diantara mereka memiliki aura sangat kuat, mungkin berada di tingkat petarung raja." Pria paruh baya itu membatin khawatir.
Meskipun dia mengakui kekuatan Zhou Fan berada di atasnya, dia tidak berpikir pemuda itu dapat mengalahkan sembilan lawan yang saling bekerja sama.
Dia hendak menghentikan pemuda itu yang bersiap melompat menghampiri lawan, tapi apalah daya, di tidak bisa membujuk, bahkan belum sempat membujuknya pemuda itu sudah tak berada di tempatnya.
Andai dia tahu kekuatan pemuda yang dia khawatirkan berada di tingkat petarung raja bintang lima bahkan setara dengan petarung raja bintang tujuh dengan menggunakan pedang darah malam, mungkin dia akan merasa sia sia karena telah mengkhawatirkan pihak yang salah.
Booom!
Zhou Fan yang melompat hentakan kakinya menimbulkan getaran juga bunyi yang ringan.
Permukaan yang tandus dan juga tanah yang kering membuat debu berterbangan bersamaan dengan mendaratnya pemuda itu.
Sembilan orang yang tengah duduk bersantai dengan di temani permainan papan, harus mengalihkan perhatian mereka ke satu titik yang sama.
Mereka belum bisa melihat jelas siapa di balik kepulan debu yang sangat menganggu, tapi dapat dipastikan mereka merasakan kekuatan yang tidak dapat diremehkan.
"Sepi sekali, bagaimana kalau aku bantu untuk meramaikan?"
Debu menghilang menampakkan seorang pemuda yang tengah membawa pedang di tangan.
Bersamaan dengan itu sebuah siluet tebasan menerjang ke tempat ke sembilan pria yang tengah terbengong sesaat.
Blaar!
Semuanya melompat menyebar sambil mulai mengeluarkan senjata masing-masing.
"Kaparat, siapa kau?! Datang datang langsung serang!" Pria botak dengan luka sayatan di mata berteriak dengan mengacungkan pedangnya.
"Menanyakan nama orang tanpa mengenalkan dirinya merupakan tindakan tidak sopan," balas Zhou Fan kepada pria botak.
__ADS_1
"Namaku adalah Ba Dong!" ucapnya dengan suara lantang.
"Hng... Siapa yang peduli!" Zhou Fan mendengus sambil menampakkan wajah acuh.
Grgg
Ba Dong mengeram marah, matanya menatap tajam pemuda kurang ajar di hadapannya.
"Mulut anjing! Aku akan merobek mulutmu!" teriak marah Ba Dong sambil melesat ke arah Zhou Fan.
Delapan orang lainnya tidak bergerak, merasa Ba Dong dapat mengatasi pemuda itu seorang diri.
Namun, baru saja mereka selesai berpikir, Ba Dong sudah terlempar dengan mulut menyembur darah.
Brak!
Tubuh Ba Dong menabrak bangunan di belakangnya, ke delapan orang lainnya yang seharusnya di sana, menghindar seolah enggan menangkap tubuhnya.
Karena hempasan tubuh Ba Dong yang terlalu kuat, membuat dinding bangunan hancur dan menimpa tubuhnya.
Blar!
Reruntuhan yang menimpa tubuh pria botak seketika terlempar dan hancur oleh hempasan tangan Ba Dong.
Ba Dong berdiri dan menatap ke delapan rakannya. "Apa yang kalian lakukan! Cepat serang!"
Ba Dong mengintimidasi ke delapan orang dengan auranya, membuat ke delapan orang itu melompat mengepung Zhou Fan.
"Aku ceroboh, jangan harap kau lari setelah melukaiku!" Pria botak itu perlahan mendekat dan bergabung dengan ke delapan orang lainnya.
Perkataannya yang santai terasa sayatan bagi pria botak, secara tidak langsung pemuda itu mengatakannya sebagai orang bodoh.
Pria paruh baya yang bersembunyi di balik bangunan hanya mengintip tanpa berani mendekat, dia terlalu lemah jika dibandingkan dengan kesembilan pria yang mengepung Zhou Fan.
"Dia terlalu sembrono, jika begini dia hanya menyetorkan nyawa saja." Pria paruh baya bergumam pelan.
Dia ingin keluar dan membantu Zhou Fan, tapi dia terlalu pengecut untuk melakukan itu, juga ada keluarganya yang sedang menunggu ia bebaskan, dia tidak bisa bertindak gegabah.
Pria paruh baya hanya bisa berharap dan berharap, dia berharap pemuda sebaik Zhou Fan dapat diberikan ketenangan setelah pergi ke alam lain.
Pria paruh baya mengusap wajahnya, seolah itu menjadi penghujung setiap harapan yang dia keluarkan.
"Jangan salahkan kami karena bermain jumlah, salahkan kau saja yang datang seorang diri." Salah seorang diantaranya mengatakan dengan suara sinis.
Heh...
Zhou Fan tersenyum samar, seolah dia tak menganggap keberadaan orang yang mengelilinginya.
Meski hanya seutas senyuman samar, masih terlihat jelas oleh orang yang berada di depannya.
"Persetan!" ba Dong kembali maju dengan seluruh kemampuannya, dia tak akan percaya bisa kalah oleh seorang pemuda yang terlihat berumur dua puluh lima tahun.
__ADS_1
"Belum saatnya!"
Zhou Fan merendahkan tubuhnya menghindari pedang pria botak dan dengan perkiraan yang tepat mengayunkan pedang darah malam mengincar perut pria botak.
Slitss.....
Pakaian pria botak terkoyak dengan robekan memanjang dari kanan ke kiri, darah mengucur sedikit demi sedikit, tapi terasa perih yang membuatnya bermuka pahit.
Melihat pria botak mundur dalam sekali serangan, tak membuat nyali ke delapan pria memudar, mereka melompat bersamaan dengan senjata beragam.
Trang... Tring...
Zhou Fan bergerak menghindar sambil sesekali menangkis serangan mereka.
Dalam keadaan seperti itu Zhou Fan tiba tiba tersenyum dan mulai mengeluarkan teknik dewa pedang.
Perlahan kobaran api mengobar semakin besar, pedang darah malam tak mau diam dan terus melakukan tebasan.
Jeritan menyayat hati terdengar beriringan dengan tubuh mereka yang mendapat luka bakar serta goresan, mereka seketika kehilangan nyawa saat Zhou Fan melakukan gerakan terakhir.
Bruk bruk bruk....
Dengan mengayunkan pedang darah malam memutar, dia berhasil memisahkan kepala dengan raga, membuat ke delapan orang terhempas tanpa nyawa.
Zhou Fan menghentikan gerakan teknik dewa pedang, berjalan mendekati pria botak dengan menyeret pedang darah malam.
Sret...
Decitan bunyi goresan pedang terasa pautan waktu kematian bagi pria botak, wajahnya terus memucat.
Pria botak tanpa sadar berusaha menjauh, meskipun dalam keadaan terduduk dia terus mendorong kakinya menjauh.
Zhou Fan menyeringai dan mengangkat pedang darah malam.
Wajah pria botak semakin memburuk, bahkan untuk bicara saja dia tak bisa, ingin rasanya dia memohon untuk mendapatkan pengampunan, tapi tubuh serta mulutnya terasa kaku, tak bisa dia gerakkan sama sekali.
Pedang semakin turun, dan pria botak memejam takut.
Jleb!
"Akh!!" Pria botak berteriak sangat keras bahkan membuat kening Zhou Fan sedikit mengerut.
Perlahan pria botak membuka mata, dia heran kenapa tidak merasakan sakit yang telah ia bayangkan.
Tepat matanya terbuka, ia melihat ternyata pedang itu menancap di bawah aset berharga miliknya. Mungkin jika sedikit melenceng, hilang sudah kebanggaannya.
Tubuhnya semakin gemetar, dia memberanikan diri untuk menengadahkan kepalanya.
Sling...
Tepat setelah mata keduanya bertatapan, Zhou Fan mengayunkan pedang darah malam menyambar leher pria botak.
__ADS_1
Bugh!
Kepala terjatuh dengan mata melotot, bahkan bayangan sosok pemuda memegang pedang belum sepenuhnya hilang dalam kepalanya.