
Hari berlalu, tak terasa sudah tiga hari Zhou Fan berada di kota Laoshi. Selama kurun waktu tersebut, Zhou Fan dengan di temani Yin Cun berkeliling sambil mencari tahu setiap hal mengenai seleksi.
"Kau harus berusaha lebih jika ingin lolos seleksi. Setidaknya banyak orang dari penjuru negeri datang mengikuti seleksi." Yin Cun berkata dengan nada menasehati.
Zhou Fan yang tengah membenahi pakaiannya pun hanya mengangguk samar, bukan karena dia tidak menghiraukan ucapan Yin Cun, tapi karena dia lebih siap dari siapapun.
Keduanya keluar penginapan. Begitu keluar pintu, Zhou Fan berbelok ke kanan, itu adalah tempat penitipan kuda di mana kudanya berada.
Tanpa disangka Yin Cun sudah menunggu dengan kuda putih di sampingnya. Melihat Zhou Fan mendekat pemuda itu melompat dan langsung memacu kudanya.
Kuda berjalan pelan, banyak sekali orang yang mempunyai tujuan sama seperti mereka. Dari mulai kereta kuda hingga kuda seperti mereka, berbaris rapi dengan kecepatan sedang.
Zhou Fan sambil melajukan kuda terus memperhatikan jalan, menahan kecepatan kuda agar stabil bukan hal mudah. Terasa lebih gampang jika memacu kuda secepat mungkin.
"Yo... Bukankah ini tuan muda Yin, generasi sampah dari kota Ming?" Seorang pemuda dengan pakaian mewah menunggang kuda di sebelah kiri Yin Cun.
Yin Cun tak menanggapi, dia seolah tidak mendengar ada seorang pemuda yang berbicara dengannya.
Zhou Fan yang berada di sebelah kanan Yin Cun mengerutkan kening, sesekali dia menelisik pemuda yang baru saja datang itu.
Terlihat dari penampilan fisik, setidaknya pemuda itu berumur 28 tahun. Saat melihat kekuatannya, dia adalah petarung raja bintang delapan.
Zhou Fan tersenyum samar, pemuda itu mengatai Yin Cun dengan sebutan sampah, tapi kekuatan mereka berimbang, bahkan dari umur Yin Cun lebih muda tiga tahun.
"Terkadang orang tak tahu diri harus diberi pelajaran." Zhou Fan berkata tanpa mengalihkan pandangan, dia senantiasa menatap ke depan.
Pemuda itu mengernyitkan dahi, kemudian menatap kesal Zhou Fan. "Bocah! Apa yang kau katakan, ulangi sekali lagi aku akan memberikan mu sebuah tamparan kenikmatan!"
"Saudara Zhou, tak perlu kau urusi sesuatu yang tak penting. Bahkan anjing menggonggong pun harus berhenti kala tenggorokannya kering." Yin Cun yang biasanya sangat cerewet sekarang lebih terkesan dingin, terlihat jelas terdapat perselisihan antara keduanya.
__ADS_1
"Sampah, apakah kau sudah lupa kekalahan yang aku berikan kepadamu?" Pemuda itu tersenyum menyindir, menampilkan ejekan dengan niatan memprovokasi Yin Cun.
Namun Yin Cun tak menganggapnya sama sekali, itu membuat kepalanya terasa panas.
"Itu sudah berlalu delapan tahun, kau mengingatnya dengan begitu jelas. Entah karena kau memiliki ingatan yang begitu tinggi atau kau tak mempunyai kebanggaan selain hari itu?" Yin Cun melirik sinis pemuda di sebelahnya.
"Kau -- " Tak ada kalimat yang dapat keluar begitu saja, perkataan Yin Cun jelas menyinggung dirinya.
"Aku berharap dapat bertemu denganmu di seleksi sekte bulan sejati, saat itu aku akan memberikan kenangan yang tidak pernah kau lupakan. Itu adalah janji Feng Shuo."
Setelah berkata pemuda yang mengaku bernama Feng Shuo itu melesat bersama kudanya, dia seolah tak peduli dengan orang orang di depannya, dia menerobos tanpa ragu.
"Dia adalah tuan muda klan Feng, Klan Feng dengan Klan Yin selalu berselisih. Dia selalu mencari masalah dengan kami, terutama aku." Yin Cun tersenyum kecut.
"Kau pernah kalah darinya?" Pertanyaan Zhou Fan membuat Yin Cun memasang wajah suram.
Siang hari, Zhou Fan sampai di kota Lan Yuliang. Kota yang selalu tertutup itu kini menyambut orang orang dengan begitu meriah.
Hanya saat seleksi, kota Lan Yuliang dibuka untuk umum, sedang saat saat seperti biasa, yang bukan anggota sekte bulan sejati tidak akan berani berkeliaran di sana.
"Sekte bulan sejati benar benar luar biasa."
"Ternyata seperti ini penampakan kota Lan Yuliang."
Decak kagum semua orang begitu memasuki gerbang kota terdengar bersahutan, mereka yang tak pernah melihat tatanan kota yang begitu sederhana namun terkesan rapi itu membuat mata semua orang berbinar.
Sampai di sana, Zhou Fan mengambil nomor dengan plakat sebagai syarat. Jika tidak menunjukkan plakat, jangan harap mendapatkan nomor urut guna keperluan seleksi.
Seleksi akan diadakan bertahap, seluruh orang yang mengikuti seleksi berkumpul di desa Cuyu, itu merupakan desa pertama yang akan dilewati jika masuk kota Lan Yuliang.
__ADS_1
Sekitar ribuan orang berkerumun mengitari dua puluh lima arena, desa Cuyu merupakan desa yang secara khusus menjadi tempat seleksi, tak heran jika terdapat banyak sekali arena yang ada di sana.
"Saudara Zhou, aku penasaran dengan nomor yang kau dapatkan." Yin Cun menunjukkan nomor di tangannya. "Aku mendapatkan nomor 40, yang berarti aku di arena pertama."
"157..." Zhou Fan menunjukkan nomor miliknya.
"Kau berada di arena nomor empat, aku harap kau tidak akan kesulitan melaju ke babak selanjutnya." Yin Cun terkekeh sambil melirik Zhou Fan.
Setiap arena akan menampung sekitar 40 peserta. Dalam babak pertama mereka akan bertarung dalam pertarungan bebas, maksudnya seluruh peserta dalam satu arena akan bertarung.
Untuk lolos ke babak selanjutnya, harus bertahan sampai menyisakan lima orang saja. Sedang yang lain tidak akan mendapatkan kesempatan untuk meneruskan perjuangan, jika masih memiliki hasrat untuk bergabung dengan sekte bulan sejati, mereka dapat menunggu waktu selanjutnya.
Seorang pria tua dengan pakaian serba putih juga jenggot putih berjalan ke pusat, dia berdiri dengan tangan terlipat di punggung.
"Jika aku tidak salah, dia adalah Tetua Que, merupakan kepala tetua murid luar."
"Dilihat saja auranya begitu mengagumkan, kualitas orang hebat memang sungguh berbeda."
Pandangan semua yang ada di sana sepenuhnya terpusat setelah kemunculan Tetua Que, semua orang di sana yang mengenal Tetua Que pasti tahu pria tua itu adalah penanggung jawab seleksi babak pertama.
"Sekte bulan sejati tidak menerima murid lemah, tidak menerima murid yang tidak mau berusaha. Jika kalian ingin menjadi salah satu yang beruntung, kalian harus berusaha dengan sekuat tenaga." Tetua Que berkata dengan pandangan penuh dengan semangat, dia ingin semua orang di sana terbawa dengan pembawaannya.
"Setidaknya ada seribu peserta yang mengikuti seleksi, tapi kalian harus tahu, yang akan di terima hanya sekitar dua puluh lima per seribu, kalian dapat menyimpulkan sendiri betapa ketatnya persaingan."
"Kalian lihat arena ini," ucap Tetua Que, bersamaan dengan itu sebuah kubus bening kemerahan tercipta bak tembok yang menghalang.
"Saat babak pertama, jika kalian keluar atau terhempas keluar, kalian akan dipastikan gagal." Tetua Que melangkah dan melompat turun, dia seolah tak melawati apapun, hanya sepintas udara kosong.
"Yang sudah keluar tidak akan bisa kembali, kalian akan terpental jika memaksa." Tetua Que mencoba masuk ke dalam arena sebelumnya, tapi tubuhnya seakan terdorong beberapa langkah oleh kubus bening yang merupakan formasi ruang.
__ADS_1