Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 68 : Turnamen Kota... 11 (Menuju Final)


__ADS_3

Pada saat yang sama, di arena lainnya.


Zhou Han berhadapan dengan jenius klan Ling, Ling Chen.


Tidak seperti Zhou Fan dan Shui Hen yang mempunyai jarak kekuatan yang jauh, mereka berdua sama sama memiliki kultivasi tingkat petarung mahir bintang 4.


Dengan menggunakan senjata yang berbeda keduanya terlihat seimbang, tapi seorang ahli dapat melihat perbedaan mencolok dari keduanya.


Postur tubuh Zhou Han lebih menguntungkan dari pada postur tubuh Ling Chen yang terlihat kurus kering, setiap serangan yang ia keluarkan dua kali lebih besar dari pada yang Ling Chen keluarkan.


"Teknik sembilan pedang!" Zhou Han meneriakan nama tekniknya sambil melompat menerjang lawannya.


"Heh..." Ling chen mendengus, kemudian ikut mengeluarkan teknik tombaknya.


"Teknik tombak gerhana!!" Teriaknya lantang.


Bentrokan dua teknik pun tak dapat terelakkan,


Clang.... Trank....


Ling chen tahu, dia tidak akan diuntungkan dalam pertarungan jangka panjang. Dalam segi kekuatan fisik, ia mengetahui jelas kekuatannya yang tidak bisa dibandingkan dengan fisik lawannya itu.


"Aku harus menyelesaikan dengan cepat!" Batin pemuda itu.


Sementara itu, Zhou Han terlihat begitu percaya diri menghadapi Ling chen. Pemuda itu bahkan dengan sengaja mengekspos titik lemahnya.


"Aku yakin dapat mengalahkannya," Gumam Zhou Han.


"Dia sungguh meremehkan lawannya," Ucap seorang pemuda yang menyaksikan pertandingan tersebut.


"Jika kekuatannya berbeda sangat jauh dengan lawannya, mungkin aku bisa mengerti dari mana asal kepercayaan dirinya. Tapi lawannya sekarang memiliki kultivasi yang sama dengannya, tidak heran jika dia di sebut bodoh." Pemuda itu menggeleng melihat kecerobohan Zhou han.


Meskipun semua orang tahu bahwa pemuda itu lebih unggul dalam kekuatan fisik, tapi ia tetap berpikir pemuda itu akan membayar mahal karena telah meremehkan lawannya.


"Kau benar anak muda, kau memang memiliki mata yang bagus," Puji seorang kakek tua setelah mendengar gumaman pemuda di sampingnya.


"Harus ku akui, si Zhou Han itu memang lebih baik dibandingkan lawannya, dan aku yakin dia akan menang....,"


"Tapi aku tidak yakin dia akan menjadi yang pertama, melihat lawannya yang begitu mendominasi," Ucap kakek tua itu lagi sambil mengarahkan pandangannya ke arena lainnya, yang tidak lain adalah arena Zhou Fan dan Shui Hen.


"Heem..." pemuda itu mengangguk mendengar ucapan kakek tua di sampingnya, ia juga memiliki pemikiran yang serupa dengan kakek tua itu.

__ADS_1


"Aku kira akan sehebat apa pemuda yang selalu dibangga banggakan Klan Ling, apa sampai disini saja?" Cibir Zhou Han setelah berhasil melukai Ling chen.


"Putra tetua pertama memang jenius." Semua orang mulai membicarakan Zhou Han yang sekarang sudah merasa di atas angin


"Tidak hanya kuat, dia juga tampan." Sahut seorang gadis yang dari tadi tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari pemuda itu.


Kepalanya semakin melambung mendengar semua orang menyanjung dirinya, Zhou Han tersenyum puas mendengarnya. "Sekarang kalian tahu, siapa yang pantas di sanjung. Hehe...,"


Sedangkan Ling chen, sekarang dia sedang berusaha bangkit kembali. Ia menatap tajam pemuda di hadapannya, ia menunjuk Zhou Han menggunakan tombaknya,


"Pertarungan belum selesai!! Aku masih berdiri di hadapanmu, tapi kau sudah merayakannya. Bukankah kau terlalu terburu buru, tuan muda Zhou?" Cibir balik Ling chen.


"Heh..." Zhou Han mendengus kesal, dan menatap Ling chen dengan tatapannya yang terlihat mematikan.


"Majulah!!" ucapnya lagi dengan ekspresi meremehkan.


"Cih..." Ling Chen mendecih kesal melihat tampang lawannya yang terlihat meremehkannya.


Dengan sisa kekuatannya, Ling Chen maju menyerang Zhou Han. Terlihat jelas pemuda itu terlalu memaksakan dirinya untuk terus bertarung.


Belum sampai pemuda itu mendekat ke arahnya, Zhou Han mengeluarkan jurusnya.


"Cakar api!!" Teriak pemuda itu, sambil melakukan tebasan kedepan.


Ling Chen yang terkejut, dengan cepat mengeluarkan jurusnya.


"Tombak pembelah!!" Ling Chen mengarahkan tombaknya ke atas lalu dengan kedua tangannya, pemuda itu memukulkan tombaknya ke lantai arena.


Duar!!


Ledakan hebat pun terjadi, Ling Chen terpental sedangkan Zhou Han tidak bergeming sama sekali dari tempatnya semula.


Uhuk...huk


Keluar seteguk darah segar dari mulut Ling Chen, pemuda itu memegang dadanya yang terasa sedikit sesak.


"Tak pernah terpikir olehku, dikalahkan seorang pemuda yang memiliki kultivasi sama sepertiku," Gumam Ling Chen dengan tersenyum pahit.


Dengan julukan jenius yang selalu disematkan kepadanya, tentu Ling chen menganggap dirinya yang terkuat.


Belum pernah ia mengalami kekalahan pada saat dirinya bertanding, yang membuatnya sedikit menyesal adalah, alasan kekalahannya merupakan hal yang selama ini ia anggap tidak penting, kekuatan fisik.

__ADS_1


Pemikirannya lah yang membuat pemuda itu tidak pernah meningkatkan kekuatan fisiknya. Ia berpikir selama kultivasinya tinggi, tidak akan ada yang mengalahkannya.


Sekarang Ling Chen telah sadar, dan dia bertekad akan meningkatkan kekuatan fisiknya setelah sampai di klannya.


Tepat setelahnya, pemuda itu jatuh pingsan. Pertandingan pun selesai dengan kemenangan Zhou Han.


Pemuda itu tidak terlalu terkejut bahwa dirinya masuk final, yang membuatnya terkejut adalah siapa yang akan menjadi lawannya.


Yang menjadi lawannya tidak lain adalah pemuda yang selalu ia anggap sampah, pandangannya terhadap Zhou Fan tidak akan pernah hilang jika ia tidak membuktikannnya sendiri.


Zhou Han memang mendengar betapa superior Zhou Fan di mulut semua orang, dan menurutnya itu adalah hal yang dibesar besarkan.


Mengetahui lawannya adalah Zhou Fan, pemuda itu tertawa. Dia berpikir, meskipun Zhou Fan telah bisa berkultivasi, tidak mungkin bisa mengalahkannya yang telah berada di tingkat petarung mahir bintang 4 dan akan naik ke bintang selanjutnya.


**


Setelah istirahat satu jam, semua orang yang tadinya pergi kini telah kembali ke posisi awalnya.


Semakin siang penonton bukannya berkurang tetapi berlipat ganda, siapa yang mendapatkan tempat pertama? semua orang ikut tegang memikirkannya.


Tetapi tidak untuk anggota Klan Zhou, mereka menunggu dengan tenang. Siapapun yang menang tetap klan Zhou lah yang menang, pikir mereka semua.


Hanya tetua pertama dan golongannya yang sedikit dongkol dengan pemikirannya.


Melihat banyaknya penonton yang memberikan suaranya untuk lawan anaknya, membuatnya kesal, padahal pendukung anaknya juga tidak lebih sedikit dari pendukung Zhou Fan.


"Klan Zhou semakin berjaya," Ucap seorang pria paruh baya.


"Apa maksudmu kawan?" Pria yang baru saja datang menatap penasaran pria paruh baya itu.


"Kau tidak tahu? Sudah dipastikan dua besar turnamen tahun ini akan di rebut klan Zhou," Jelasnya tanpa memandang wajah lawan bicaranya.


"Bagaimana bisa?! apakah Shui hen tidak bertanding?" Tanya pria yang baru datang itu sedikit tidak percaya.


"Dia kalah dari 'kuda hitam' Klan Zhou." Pria paruh baya itu berkata sambil melirik pria di sampingnya.


"Kuda hitam??" Pria itu semakin bingung mendengar penjelasan pria paruh baya di sampingnya.


"Apakah sebegitu hebat kuda hitam ini?" Pria baru datang itu mengernyitkan dahinya.


"Sebenarnya Zhou Fan bukanlah salah satu dari sepuluh perwakilan Klan Zhou..." Pria paruh baya itu menjelaskan sepak terjang Zhou fan kepada pria di sampingnya dengan semangat, tidak satupun tentang pemuda itu ia lupakan.

__ADS_1


Pria itu mengernyit mendengar seluruh cerita Zhou Fan, kemudian memandang arena.


"Pemuda yang tangguh!"


__ADS_2