
Pertarungan akan dilakukan tiga ronde, setiap satu ronde masing masing tetua akan mengurus salah satu orangnya, tidak ada batasan usia dalam pertarungan.
Aula klan Yu sangat ramai, aula tertutup seluas 100 x 100 meter itu sesak di penuhi oleh orang klan Yu sendiri, mereka ingin melihat secara langsung pertarungan yang mungkin adalah pertama dalam sejarah klan Yu.
Tetua kedua duduk di kursi yang khusus disediakan, bersama tetua pertama di sampingnya, dia selalu tersenyum, karena dia sangat yakin dengan kekuatan orangnya.
Tetua pertama masih memikirkan ekspresi salah satu orangnya yang bertugas memeriksa di pintu masuk aula, wajah tuanya semakin keriput ketika menghubungkan semua peristiwa.
Ketiga utusan telah berada di samping arena, mereka berdiri di bawah arena yang bersebrangan, kedua pihak dipisahkan arena yang menjadi pembatas kedua pihak.
Tiga utusan tetua kedua merupakan petarung raja, sementara utusan tetua pertama hanya ada satu petarung raja.
"Yang akan menang sudah terlihat, tidak mungkin tetua pertama akan memenangkan kursi patriark dengan hanya seorang petarung tingkat raja." Salah satu penonton yang juga merupakan anggota klan Yu menggeleng sambil memandang keenam perwakilan.
"Kau benar, tidak mungkin." Penonton lain ikut menimpali.
"Meskipun terlihat tidak mungkin, aku masih berharap tetua pertama yang menjadi patriark." Seorang pria paruh baya berkata dengan suara pelan.
"Aku tidak akan berkata demikian jika jadi kau, yang aku dengar, tetua kedua menjanjikan sumber daya jika kita dapat berdiri di belakangnya," sanggah pria seumuran dengan pria paruh baya.
"Apakah yang kau katakan itu benar?" tanya pria paruh baya.
"Tentu saja, jika tidak aku tidak akan mendukung tetua kedua. Tetua pertama merupakan orang terkuat, menurutmu apakah mungkin jika tidak ada sogokan mereka semua akan mendukung tetua kedua?" ujar pria itu lagi.
"Tapi dari mana tetua kedua mendapatkan sumber daya, apakah tidak terlalu mengada ngada jika dia menjanjikannya?"
"Heh... Kau tidak akan percaya, aku sudah mendapatkan pill kultivasi tingkat empat, meskipun aku tidak tahu dari mana tetua kedua mendapatkannya, terpenting aku mendapatkan pill kultivasi, apalagi pill kultivasi tingkat empat." Pria itu menaik turunkan alisnya.
Pria paruh baya seketika termenung, dia berniat bergabung mendukung tetua kedua, dia berharap mendapatkan keuntungan darinya.
Di arena pertarungan telah berdiri dua orang petarung, mereka saling memandang dengan tatapan tajam.
Tetua kedua terus mengulum senyum di bibirnya, seolah dia tengah mengejek tetua pertama.
"Dengan bantuan tuan Wei, aku tak khawatir tentang sumber daya, selagi aku dapat membantunya naik takhta aku akan mendapat tempat sebagai tuan Kota." Tetua kedua membatin masih dengan bibir tersenyum.
"Tetua pertama, apakah menurutmu orang pilihanmu dapat mengalahkan orangku?" Tetua kedua berkata sambil terkekeh.
"Kita lihat saja!" balas tetua kedua.
"Huh... Kemarin saja dia berkata, tidak ingin kursi patriark, tapi sekarang sudah menampakan wujudnya. Dasar rubah!" dengus tetua kedua sambil mengalihkan pandangannya ke arah arena.
__ADS_1
"Jika kau berniat membawa klan Yu ke arah keterpurukan, aku tidak akan tinggal diam." Sambil membatin Tetua pertama melirik sengit tetua kedua.
Dalam pandangan tetua pertama, semua perbuatan dalam dunia kultivator merupakan hal wajar, tapi bukan penghianatan. Segala bentuk tipuan serta muslihat itu merupakan bekal seorang petarung.
Seorang petarung tangguh bukanlah petarung yang hanya memiliki kultivasi tinggi, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan keadaan menjadi senjata untuk mengalahkan lawan.
"Bersiaplah untuk kalah!" Pria berumur tiga puluhan tahun berambut panjang berkata dengan nada mencibir.
"Meskipun kalah, aku tidak akan pernah menyerah sebelum bertanding!" ujar pria yang umurnya tak jauh berbeda, dengan pedang ganda di punggung serta kepala botak membuatnya terlihat sangar.
Hng...
Pria berambut panjang mendengus, kemudian melesat dengan tombak sebagai senjata.
Tombaknya bukan seperti tombak pada umumnya, tombak pria berambut panjang memiliki tiga mata tombak, atau lebih dikenal dengan trisula.
Pria berambut panjang memutar trisulanya, setelah merasa sudah sangat dekat dia menyabet trisulanya mengincar paha pria botak.
Pria botak tak hanya diam menerima, dia dengan lihai memainkan pedang gandanya, sambil melompat dia menangkis serangan trisula.
Trang...
Benturan senjata rank epic menggema di aula pertarungan, tetua kedua terus memasang senyum, dia dapat melihat orangnya berada di atas angin.
Phak..
Pria botak menghalau kaki kanannya, sambil bertahan pria botak menyambar kepala pria berambut panjang dengan pedang ganda miliknya.
Shut...
Tebasan menyilang dapat dihindari dengan mudah, pria berambut panjang tersenyum mengejek kemudian melancarkan tusukan.
Sambil menusuk dia bergerak cepat, maju menerjang pria botak.
Gerakan yang sungguh tak terduga membuat pria botak mati langkah, dia sesaat hanya berdiri mematung, tapi sepersekian detik sangat berarti. Hanya memanfaatkan kelengahan pria botak, pria berambut panjang mendaratkan tusukan.
Trang...
Meskipun telah mati langkah, pria botak tak kehilangan akal, dia menyilangkan pedang gandanya untuk menghalangi tusukan pria berambut panjang.
Heh...
__ADS_1
Pria berambut panjang menyunggingkan senyum. "Naif!"
Bersamaan dengan perkataannya dia mendorong trisulanya dengan sepenuh tenaganya.
Hyat...
Tekanan yang sungguh berat membuat pedang ganda pria botak menakan dadanya, dia berusaha menahan dorongan dari lawannya, tapi kekuatannya tak bisa melakukannya.
Huak!
Pria botak terhempas dengan darah menyembur keluar dari mulutnya.
Huk... Huk...
Pria botak memandang lawannya yang berdiri dengan wajah angkuh, kemudian melirik tertua pertama yang juga memandangnya.
Tetua pertama menggeleng, mencoba menyuruh pria botak agar menyerah, tetua pertama sedikit khawatir dengan pria botak yang terlihat jelas kalah dalam kultivasi.
Pria botak berusaha berdiri, setelah berhasil berdiri dengan segenap usahanya, dia mengangkat tangan kanannya, sebagai tanda menyerah.
Pria berambut panjang menggeleng dengan tersenyum menghina.
Sementara di kursi tetua kedua serta tetua pertama,
"Huh sayang sekali, padahal aku berharap lebih dari orangmu tetua pertama, tapi sudah kalah saja." Tetua kedua mengatakan dengan nada dibuat menyesal.
Ronde kedua dimulai, tetua kedua yang semula selalu memasang wajah tenang, berubah buruk, orangnya dipaksa bertahan melawan orang tetua pertama.
"Sial!" Tetua kedua mengepalkan tangannya.
Tetua pertama yang melihat ekspresi tetua kedua, menarik sudut bibirnya. "Aku menantikan pertandingan yang seru!"
"Masih ada pertandingan ke tiga," ujar tetua kedua dengan wajah ramah, tapi ekspresinya tampak kaku menahan marah.
Huft...
Tetua kedua menghela nafas, meskipun kalah dalam ronde kedua, dia akan menang dalam ronde ketiga, mengingat kekuatan orang yang tersisa milik tetua pertama adalah petarung grand master.
Senyum kembali terbit saat tetua kedua memikirkannya, tapi saat melirik tetua pertama dia berubah serius, melihat sesosok berjubah hitam di samping tetua pertama.
Tetua kedua menyipitkan matanya, kedua alisnya berkedut akan menyatu. Dia mengamati sesosok berjubah yang berdiri di samping tetua pertama.
__ADS_1
"Siapa dia ... Sejak kapan?!