Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 111 : Kehebatan Pedang Darah Malam


__ADS_3

Zhou Fan terlonjak kaget, dia kemudian mengangkat senjatanya, menatap pedang darah malam lekat-lekat.


"Ya, yang kumaksud adalah pedangmu yang itu," ucap pria paruh baya itu mengerti pandangan ragu Zhou Fan.


"Jadi, apakah kau sudah menyiapkan dirimu untuk melakukan ujian kedua?" tanya pria paruh baya tanpa mengeluarkan ekspresi dari wajahnya.


"Aku terlahir untuk selalu siap!" Zhou Fan berkata dengan tegas.


"Apa yang harus aku lakukan?!" tanya Zhou Fan tak sabar dengan mata bersinar.


"Cukup mudah. Kau hanya harus mengumpulkan esensi kolam darah di belakangmu, kau cukup melakukan apa yang kau lakukan saat ber kultivasi, bedanya kau melakukannya dengan berendam di danau darah ... "


" ... Saat kau mulai bisa mengumpulkan esensi danau darah, kau akan dapat membangkitkan kekuatan pedang darah malam ... kau hanya memiliki waktu satu batang dupa," jelas sang pria paruh baya itu sebelum sosoknya memudar.


"Terimakasih sen.... Eh?" Baru saja Zhou Fan akan mengucapkan terimakasih, pria paruh baya itu sudah menghilang sepenuhnya dari pandangannya.


Dupa? Zhou Fan mencari cari dupa yang di bicarakan oleh pria paruh baya yang merupakan jiwa pedang.


Dalam pikiran Zhou Fan, setidaknya dia memiliki waktu sekitar dua jam.


"Ah itu dupanya," ucap Zhou Fan dalam benaknya


Zhou Fan melihat asap melambung dari tepi danau, kemudian menghampiri. Alangkah terkejutnya dia saat melihat lebih dekat dupa yang berada di tepi sungai, kerena dupa tersebut sudah terbakar setengahnya.


Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.


"Pak tua! Kau menipuku!" teriak Zhou Fan marah.


Bagaimana bisa dia hanya memiliki waktu sekitar satu jam saja, padahal waktu yang seharusnya adalah dua kali lipat dari waktu yang tersisa.


Dengan cepat Zhou Fan masuk ke dalam air, dia berpikir semakin banyak dia mengeluh, semakin kecil kemungkinan berhasil.


Byur!


Tak ada reaksi aneh dari air tersebut saat Zhou Fan masuk ke dalamnya.


Zhou Fan duduk bersila, yang membuat seluruh badannya terendam kecuali kepalanya yang keluar, bagaikan buaya yang tengah menunggu mangsanya datang.


Waktu terus berlalu, tapi Zhou Fan tak kunjung bisa menyerap esensi air dari kolam darah.


'Seperti yang kau lakukan saat berkultivasi'


Kata kata pria berpakaian merah kehitaman itu kembali mengalir dalam pikirannya.


"Seperti yang kulakukan?!"


Zhou Fan mencoba menginprofisasi penyerapan tersebut.


Semoga saja berhasil! Pikir Zhou Fan.


Tak lama kemudian pedang darah malam yang menggantung di punggungnya tiba tiba bersinar.


Cahaya merah gelap mulai meluas, bahkan sebentang kolam tertutupi cahaya yang di keluarkan pusaka tersebut.


Zhou Fan masih menutup matanya, dia belum menyadari bahwa dia telah bisa menyerap esensi air kolam darah.


Perlahan cahaya merah gelap kembali meredup, dan seketika hilang saat Zhou Fan membuka matanya.


Zhou Fan yang tak tahu fenomena alam yang baru saja terjadi, keluar dari kolam dengan wajah kusut, dia mengira dirinya telah gagal.


Dupa sudah terbakar habis tak tersisa, tapi Zhou Fan tak merasakan perubahan dari tubuhnya.

__ADS_1


"Mungkin aku bisa melakukannya dengan waktu penuh satu batang dupa," gerutu Zhou Fan sambil membanting dupa yang sudah menjadi lidi gosong.


"Selamat anak muda!"


Sebuah suara yang muncul tak terduga tentu membuat Zhou Fan melompat seketika.


"Ah Senior, kau mengagetkanku," seru Zhou Fan sambil memegang dadanya.


"Dan kau pasti mengejekku. Jelas jelas aku tak merasakan apapun, tapi kau dengan senangnya mengucapkan selamat kepadaku. Kau pasti mengejekku." Zhou Fan memberengut kesal, menuding pria di hadapannya tangah mrngoloknya.


"Benar apa yang dikatakan roh tua itu, kau sungguh bodoh!" ujarnya dengan dahi mengernyit.


"Coba kau pegang pedang darah malam, gunakan seperti saat kau ingin bertarung," suruh pria paruh baya yang merupakan jiwa pedang darah malam.


Eh?


Zhou Fan terbengong sesaat, kemudian mulai mengambil pedang darah malam dari punggungnya.


Whoa!


Mata Zhou Fan membulat merasakan sesuatu mengalir dalam dirinya, sebuah aliran energi yang sungguh nyaman.


"Sekarang kau pasti merasakannya," ucap sang jiwa pedang dengan bangga.


Zhou Fan menaruh kembali pedang darah malam di punggungnya, dan seketika tubuhnya kembali seperti semula.


Zhou Fan sekali lagi terkejut.


"Apakah hanya perasaanku saja. Aku merasa kekuatan dalam tubuhku meningkat saat memegang pedang darah malam, namun seketika penyap saat aku melepaskannya." Zhou fan bergumam dalam benaknya.


"Kau pasti bingung," tebak sang jiwa pedang.


Zhou Fan menoleh ke wajah pria paruh baya di hadapannya.


"Dan kekuatannya akan lenyap saat pedang itu di lepaskan."


Sekali lagi jiwa pedang menjelaskan dengan bangga.


"Apakah kau akan bisa berkomunikasi denganku saat sudah di dunia nyata?"


Zhou Fan mengeluarkan pertanyaan yang mengganjal hati kecilnya.


"Tidak! Aku tidak bisa dan tidak akan bisa melakukannya, aku adalah esensi pedang yang dikumpulkan oleh Kaisar Rui, dan dalam kurun waktu tertentu mulai terbentuk menjadi sebuah jiwa."


Penjelasan jiwa pedang membuat Zhou Fan semakin penasaran akan siapa Kaisar Rui.


Sedetik kemudian Zhou Fan kembali ke tempat dimana dia berada sejak pertama kali memasuki dunia semu.


"Tak kusangka bocah bodoh seperti dirimu bisa mendapat pengakuan dari pedang darah malam."


Suara tak asing mulai kembali terdengar di telinga Zhou Fan, padahal dia sudah mulai nyaman dengan ketenangan di tempat ujian kedua, tapi dia harus kembali ke tempat berisik ini lagi.


"Dia selalu menyebutku bodoh, entah terbuat dari apa tenperung kepalanya." Zhou Fan mencibir, tentu saja dalam hati.


"Aku tahu apa yang kau bicarakan bocah! Aku berbeda denganmu...ak.." Sebelum suara misterius itu menyelesaikan ucapannya Zhou Fan menyambar terlebih dahulu.


"Aku tahu, kau sejenis dengan pria yang merupakan jiwa pedang kan?" tebak Zhou Fan dengan percaya diri.


"Pak tua itu berkata banyak terhadapmu ya bocah?! Tapi aku berbeda dengan jiwa pedang yang kau bicarakan itu, aku adalah..." Lagi lagi Zhou Fan tak membiarkannya untuk menyombongkan dirinya.


"Tidak penting siapa kau, sekarang bagaimana caraku untuk keluar?!" desak Zhou Fan.

__ADS_1


"Berjongkoklah!"


Zhou Fan dengan patuh berjongkok, membuat tawa suara misterius sang penjaga dunia semu bergejolak.


"Hahaha, kau bodoh, bodoh sekali...haha. Sudah lama aku tak tertawa sesenang ini... Haha."


Seketika Zhou Fan berdiri, dan memasang wajah kesal.


"Tak perlu begitu, sekarang aku akan serius!"


"Pegang pedang darah malam dengan kedua tanganmu, dan posisikan tegak lurus dengan tubuhmu!"


Sekali lagi Zhou Fan melakukan apa yang di ucapkan si suara misterius.


"Hahaha... dua kali... Haha."


Tawanya seketika terhenti saat mendapati Zhou Fan mengeluarkan ekspresi mengerikan.


"Kau pejamkan matamu setelah itu pusatkan pikiranmu untuk keluar, dan kau akan seketika kembali ke raga aslimu."


Zhou Fan diam tak langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh suara misterius.


"Aku tak berbohong untuk kali ini," ucapnya dengan nada sangat meyakinkan.


Huh...


Zhou Fan mendengus lalu menejamkan matanya sesuai perkataan suara misterius.


**


Arena pertarungan...


"Kau terlalu lemah bocah!" Patriark Bai mencibir Zhou Fan.


Sementara beberapa orang Klan Qing berteriak, untuk memberikan dukungannya kapada Zhou Fan.


"Saudara Zhou, saudara Zhou!"


Qing Manlu memanggil nama Zhou Fan beberapa kali tapi tak kunjung mendapatkan balasan dari sang pemilik nama.


Patriark Bai berjalan mendekati Zhou Fan yang masih terbaring tak berdaya, kemudian dia bergumam. "Kau tamat bocah brengsek!"


Patriark Bai mengangkat pedangnya, bersiap memenggal kepala Zhou Fan.


Semua terkesiap melihat apa yang akan di lakukan Patriark Bai.


Patriark Bai mengayunkan pedangnya tanpa aba aba.


Shut...


Zhou Fan!!


Saudara Zhou!!


Semua orang meneriakkan satu nama yang sama.


Blarr!!


Ledakan terjadi, membuat semua orang memfokuskan penglihatannya.


Bayangan seorang pemuda berdiri dengan gagahnya di tempat terjadi ledakan.

__ADS_1


"Tidak akan semudah itu bajingan tua!"


__ADS_2