
Zhou Fan membalikkan badan, melihat seorang pemuda yang kira kira berumur 28 tahun.
"Qing Manlu..," Gumam semua orang hampir bersamaan.
"Apakah kau bersedia, saudara..." Qing Manlu menggantung ucapannya karena belum mengetahui nama pemuda di hadapannya.
Semua orang tersadar bahwa mereka belum mengetahui nama pemuda yang telah membuat heboh aula Klan Qing.
"Zhou Fan! Namaku adalah Zhou Fan!"
"Baiklah saudara Zhou, apakah kau bersedia?" Tanya Qing Manlu dengan tenang.
Seperti ayahnya, Qing Manlu mempunyai sifat yang kalem dan sopan.
Seekor singa tidak melahirkan seekor anjing, pikir Zhou Fan.
Pandangan awal Zhou Fan terhadap tuan muda Klan Qing itu termasuk baik. Untuk sopan di hadapan orang yang baru dikenalnya memang sangat sulit, apalagi orang yang di kenal tidaklah memiliki latar belakang.
"Tentu, tuan muda Qing. Suatu kehormatan bagiku." Zhou Fan membalas dengan sopan.
Meskipun Qing Manlu kalem dan berwibawa, dia juga bukanlah pemuda yang lemah, mencapai tingkat petarung master bintang 6 dengan ujiannya yang ke 28 adalah bukti nyata kemampuannya.
"Tidak perlu sungkan saudara Zhou. Seharusnya aku yang merasa beruntung bisa berlatih tanding dengan saudara Zhou." Qing Manlu menyanjung Zhou Fan.
"Kita sama sama kultivator, tidak ada hasil tanpa usaha. bukankah begitu?" Ucap Zhou Fan merendah.
Mereka berdua akhirnya menuju lapangan yang berada di sebelah gedung aula.
Semua yang hadir di dalam juga ikut keluar, mereka ingin melihat langsung pertarungan antara Zhou Fan dan tuan muda mereka.
Keduanya tampak senada dengan pedang di tangan mereka. Dari apa yang terlihat pedang keduanya juga memiliki kualitas yang setara. Yaitu senjata rank epic.
Mereka berduel tanpa tenaga dalam, karena Qing Manlu sadar tak akan bisa mengalahkan Zhou Fan jika dengan tambahan tenaga dalam.
Walaupun tak menang dalam duel teknik pedang, ia masih yakin dapat bertahan lebih lama dari pada dengan bertarung mengenakan tenaga dalam.
"Siap?" Tanya Qing Manlu.
"Hmm..." Zhou Fan bergumam sambil mengangguk.
Shut...
Keduanya melesat, mencoba mengambil posisi menguntungkan.
Traaang...
Kedua pedang saling berbenturan.
Zhou Fan menarik kembali pedangnya dan mengarahkannya ke samping kiri Qing Manlu.
Thing....
Tapi Qing Manlu juga tak kalah cepat, dia menangkis serangan Zhou Fan dengan memiringkan pedangnya.
Qing Manlu menghempaskan pedang Zhou
__ADS_1
Fan, membuat Zhou Fan mundur.
Melihat gerakan Zhou Fan sedikit terpecah, Qing Manlu tak menyianyiakannya.
Hiat...
Qing Manlu melayangkan tusukan pedang lurus kedepan.
Tapi dengan cepat Zhou Fan menyetabilkan posisinya. Dan segera menghindari tusukan Qing Manlu dengan melompat ke samping.
Melihat tusukannya meleset, Qing Manlu kembali menebas secara vertikal, mengincar tubuh Zhou Fan.
Seettt...
Trank...
Zhou Fan menangkis tebasan vertikal itu dengan mengarakan pedangnya ke samping. Dan membuat pedang Qing Manlu terpental menjauh.
Tangan Qing Manlu serasa merasakan aliran listrik. fisiknya terlalu lemah dibandingkan dengan Zhou Fan, oleh sebab itu setiap terjadi bentrok, dia merasa seakan tersengat.
Zhou Fan manfaatkan kesempatan, dia dengan cepat menerjang kedepan sambil mengayunkan pedangnya.
Sreet...
Lu'er!!
Tuan muda!
Seketika teriakan semua orang menggema keras dari sisi lapangan.
Zhou Fan mengambil jarak setelah mendaratkan goresan.
"Kau lengah saudara Qing," Ujar Zhou Fan.
Sementara Qing Manlu menoleh ke tempat ayahnya, kemudian ia memasang senyum puas.
"Aku tak apa ayah, ini adalah pelajaran berharga bagiku, jadi tak perlu khawatir," Ucapnya menenangkan semua orang yang ada disana.
"Itu tidak akan terulang saudara Zhou." Qing Manlu kembali bersiap menyerang.
Zhou Fan tersenyum, dia amat kagum dengan kegigihan Qing Manlu.
"Aku akan lebih lepas saudara Qing, jangan kau manahan kemampuanmu." Zhou Man mencoba menyulut kobaran semangat Qing Manlu.
Qing Manlu tak menjawab, tapi pemuda itu malah melesat ke arah Zhou Fan dengan menggunakan pedang yang masih sama.
Zhou Fan yang awalnya sedikit bertahan, kini akan keluar menyerang sepenuhnya.
Sambil di selingi senyum, Zhou Fan melesat dengan kecepatan sedang. Mengarahkan pedangnya ke bawah, namun dengan cepat menariknya ke atas saat Qing Manlu sudah dalam jangkauannya.
Qing Manlu yang sedari tadi terfokus dengan gerakan tekniknya, tidak mengira akan mendapatkan serangan tiba tiba.
Dengan cepat Qing Manlu memegang kedua ujung pedangnya, menahan tebasan Zhou Fan.
Tranngg...
__ADS_1
Sekali lagi terasa sengatan pada kedua tangan Qing Manlu, tapi pemuda itu tak membiarkan perasaan itu berenang terlalu dalam di kepalanya.
Zhou Fan menekan kembali pedangnya, yang membuat Qing Manlu semakin meringis.
Brukk...
Qing Manlu terjatuh dengan posisi duduk dilantai.
"Apakah sejauh itu perbedaan kekuatan kami!" Qing Manlu mulai berpikir.
Qing Manlu memandang lantai lapangan, nampak pemuda itu sedang hanyut dalam pikirannya.
Sebuah uluran tangan mengajaknya berdiri.
Qing Manlu melihat siapa gerangan yang mengulurkan tangan kepadanya. Dan dilihatnya pemuda yang menjadi lawan latih tandingnya.
Qing Manlu meraih uluran tangan Zhou Fan kemudian bangkit dan merangkul pemuda itu.
"Terimakasih saudara Zhou, kau telah membuka mataku. Aku merasa teknik pedang ku sangatlah hebat, tapi setelah berlatih tanding denganmu aku sadar, kemampuanku masih sangatlah jauh dibandingkan dengan dirimu." Qing Manlu mengungkapkannya dengan tulus.
"Saudara Qing terlalu memuji, kemampuanku masih sangat jauh dibandingkan dengan ahli yang sesungguhnya, aku hanya pemuda beruntung bisa menguasai teknik pedang dengan ketekunan...," Ucap Zhou Gan merendah.
"Ayahku pernah berkata, 'hasil tidak akan menghianati usaha'. Aku hanya berpegang pada ucapan ayahku, aku bisa menjadi seperti ini tak lepas dari peran kedua orang tuaku...," Tambahnya
Sekali lagi ucapan Zhou Fan membuka mata Qing Manlu.
Qing Manlu melepaskan rangkulannya, kemudian berjalan ke arah Patriark Qing, ayahnya.
"Tak apa, kau harus lebih giat berlatih, aku setuju ungkapan.... 'Hasil tidak akan menghianati usaha'. Berlatih lah dengan keras, kau akan berjaya suatu hari nanti." Patriark Qing menyemangati putranya.
Qing Manlu tersenyum dan mengangguk, lalu menghampiri Qing Yuwei yang tak jauh dari tempat ayahnya.
"Adik Wei, kau memilih pria yang tepat." Qing Manlu memberikan sebuah jempol kepada Qing Yuwei yang membuat pipi gadis itu bersemu merah.
Sedangkan semua orang tertawa melihat tingkah kedua generasi muda Klan Qing tersebut.
Saat akan kembali ke penginapan, Patriark Qing meminta Zhou Fan untuk bertahan lebih lama, karena ia telah mempersiapkan makan malam untuknya.
Dengan sedikit paksaan, Zhou Fan akhirnya mengikuti kemauan Patriark Qing.
Malam datang dengan cepat...
Di sebuah meja makan besar, sudah ada belasan orang duduk mengelilingi meja berbentuk elips.
Selain Zhou Fan, Patriark Qing juga mengundang semua tetua klannya yang terdiri dari lima orang beserta keluarganya.
Total terdapat 14 orang termasuk Zhou Fan dalam ruangan itu.
Suasana yang awalnya riuh mulai senyap saat makanan datang, mereka mulai menyantap makanan dengan tenang tanpa berbicara.
Tak membutuhkan waktu lama, makanan pun ludes tak tersisa.
Merasa suasana mulai canggung, Qing Manlu membuka suara.
"Saudara Zhou, apakah kau orang yang menarik pedang pusaka malam?"
__ADS_1
Seketika semua orang memandang ke arah yang sama.