Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 264 : Menggunakan Pedang Darah Malam


__ADS_3

Zhou Fan memandang dua singa di hadapannya dengan sedikit sulit, ternyata beast itu benar benar nyata. Namun, beban pikiran tentang bagaimana musang ekor panjang menghilang begitu saja masih berputar dalam kepalanya.


Jika memikirkan tentang hal ini, Zhou Fan teringat akan ujian saat di dunia semu, saat itu juga dia dibawa ke dunia antah berantah dan menghadapi ular gurun.


Zhou Fan mengangguk, dia merasa kedua hal ini memang mirip. Hanya saja saat ini dia harus terus melawan beast yang keluar sampai batas waktu yang telah di tentukan.


Dia menebak tingkatan beast yang keluar semakin lama akan semakin tangguh, dia juga penasaran sampai mana batasannya dalam bertarung menggunakan belati sebagai senjata.


Dua singa masih memandang dari jarak puluhan langkah, setelah berhasil menyerang Zhou Fan pandangan mereka nampak semakin tajam.


Hal itu dikarenakan setetes darah yang keluar dari bekas cakaran singa di bagian perut Zhou Fan.


Zhou Fan tentu mengetahui hal itu, tangannya spontan mengeratkan pegangan belati raja api, sementara kakinya terbuka sedikit lebar guna memperkokoh posisinya.


Groar...


Singa dengan warna kulit sedikit lebih gelap menyerang sambil mengaum. Ketika mulut terbuka, nampak deretan gigi yang tajam setajam pedang.


Zhou Fan melompat ke samping, dan dengan itu singa tersebut hanya menerkam udara kosong.


Tak mendapatkan buruannya, singa itu menoleh mencari targetnya. Namun begitu dia memalingkan wajah, satu tendangan kuat melesat tanpa permisi.


Bruak...


Singa melayang menghantam pohon bahkan sampai tumbang, Zhou Fan si pelaku kekerasan hanya berdiri dengan tangan masih memegang belati raja api.


Singa yang sudah terjerembab dalam tumpukan batang pohon, kembali bangkit meski tubuh sudah terlihat remuk.


Beast tingkat lima bukan sekedar angka, itu mencerminkan kekuatan juga ketangguhan setiap beast. Bukan tanpa alasan mereka dikategorikan dalam tingkatan tersebut.


Zhou Fan tak mengurangi tingkat kewaspadaannya, dua singa itu kembali bersama. Meski yang satu sudah terluka yang lain masih tanpa cacat.


Dua singa itu terdengar mengeram, mata mereka semakin tajam seolah menyimpan dendam begitu dalam terhadap Zhou Fan.


Grah...


Dua singa maju serempak, dengan kuku dan gigi yang tajam mereka menerjang mengincar Zhou Fan.


Zhou Fan tak lagi diam menunggu, setelah memutar belati raja api, dia memburu dengan langkah kilat.

__ADS_1


"Belati sunyi." Begitu Zhou Fan berkata, gerakannya tak lagi dapat di dengar, seolah dia tak bergerak, bahkan hembusan angin pun tak terdengar ketika dia melesat.


Crues...


Singa yang sudah sekarat ketika terkena serangan belati raja api, semakin tak karuan. Darah merembes dari tubuh bagian sampingnya.


Sementara itu, di luar menara....


"Seperti dugaan, Loin Gu menempati posisi pertama dalam kurun waktu sepuluh menit." Tetua Que memandang tiang penilaian pada bagian murid baru.


"Dengan kekuatan petarung kaisar bintang dua, dia memang sudah sepantasnya mendapatkan posisi pertama. Jika tidak, itu akan melukai harga diri seorang petarung kaisar." Pria paruh baya di samping tetua Que ikut bersuara.


"Siapa Zhou Fan ini, sudah sepuluh menit masih berada di tahap ke dua. Entah berapa tahap yang dia selesaikan dalam kurun waktu satu jam." Pria paruh baya lain berkata sambil memandang nama Zhou Fan yang berada di barisan paling bawah.


"Jika tidak salah, dia adalah peserta seleksi yang lolos tanpa mengikuti babak kedua...," Yang lain ikut menyahuti.


"Dia beruntung, tapi apakah dia masih beruntung, itu tergantung dirinya sendiri." Tetua Que menanggapi dengan acuh tak acuh.


"Pemuda bernama Yin Cun ini juga lumayan, dia sudah di tahap ke empat. Berada satu tingkat di bawah Loin Gu." Saat pandangan kembali ke atas, tetua Que melihat nama Yin Cun yang baru saja mengalami kenaikan.


....


Tubuh harimau itu berwarna biru kristal, sedang hidupnya berada di kawasan padang es, membuat orang orang menjulukinya sebagai harimau kristal es.


Meskipun beast jenis ini tidak terkenal ganas, jika ada yang mencoba mencari perkara terhadapnya akan mendapatkan perlawanan sengit darinya. Itu terlihat dari Yin Cun yang kini harus memutar otak untuk mengalahkan beast tingkat lima tersebut.


"Tongkat raja kera!"


Ketika tingkat membelah di depan wajah Yin Cun, angin solah berkumpul dan langsung menyerang harimau kristal es. Namun dapat dengan cepat dihindari.


"Ck... Kecepatannya tidak kalah dariku, jika terus seperti ini, aku akan menghabiskan banyak waktu di tahap ke empat." Yin Cun berdecak kesal, kelincahan juga kekuatan beast harimau kristal es tidak jauh berbeda dengannya, bahkan beast itu lebih unggul sedikit dalam hal kecepatan.


Pasal tersebut lah yang membuat Yin Cun sedikit kacau, dia sudah mengerahkan serangan andalannya, tapi dapat dengan mudah dihindari atau juga di atasi harimau kristal es.


Saat Yin Cun harus bersusah payah dengan lawannya, Zhou Fan kini berhadapan dengan gajah bumi, merupakan beast tingkat lima.


Pertahanan yang dimiliki gajah bumi tidak kalah dengan beast tingkat enam, membuat Zhou Fan mengerahkan seluruh kemampuan.


Tidak masalah jika harus satu atau dua gajah bumi yang harus ia lawan, tapi di hadapannya ada sekitar lima ekor beast gajah bumi.

__ADS_1


Zhou Fan sungguh merasa dipermainkan, sejak dia masuk dia selalu dihadapkan dengan kawanan beast, tidak musang ekor panjang, singa dan sekarang gajah bumi.


"Persetan dengan belati, aku tak akan punya cukup waktu jika harus menggunakan belati raja api." Zhou Fan menyimpan belati di pinggangnya, tangannya melayang mengeluarkan pedang darah malam.


"Ayo kita tuntaskan!" Zhou Fan maju dengan pedang sudah siap di tangan.


Tebasan Ganda!


Zhou Fan sambil bergerak menyarangkan jurus andalannya, begitu siluet tebasan melesat ke arah salah satu beast gajah bumi, Zhou Fan menambah kecepatan geraknya.


Prang...


Blar!


Jurus tebasan ganda tepat mengenai beast gajah bumi yang diincar, saat keadaan masih buram karena asap yang melambung, Zhou Fan melancarkan serangan.


Prang...


Bunyi dentingan senjata saat beradu dengan kulit gajah bumi, suara itu bahkan menggema dan memantul.


Cih...


Zhou Fan menarik pedangnya, hendak kembali menebas. Namun dengan belalai panjang yang dimilikinya, gajah bumi melilit kaki Zhou Fan.


Melihat hal itu, Zhou Fan spontan meregangkan kedua kakinya dan melompat keluar.


Pedang darah malam bersinar samar, aura mencekam merembes dari sela permukaannya.


Zhou Fan memusatkan tenaga dalam, dengan begitu api seolah menyelimuti pedang. Tanpa basa basi, Zhou Fan melakukan tebasan.


Krak...


Kepala yang menjadi incaran langsung terdengar suara retakan. Tak sampai di sana, Zhou Fan kembali menguatkan tebasan, membuat pedang darah malam masuk ke tengkorak beast gajah bumi.


Hiat!


Sambil berteriak, Zhou Fan memecah kepala beast gajah bumi. Beast itu pun langsung jatuh dan menimbulkan sedikit getaran.


Setelah mengalahkan satu beast gajah bumi, Zhou Fan memandang keempat beast yang tersisa. Tanpa pikir panjang dia langsung menerobos sambil mengayunkan pedang darah malam.

__ADS_1


__ADS_2